MRP Papua Tengah Berharap Adanya Penyelesaian Konflik Papua Secara Menyeluruh

Konflik di tanah Papua tidak mengorbankan umat di lapangan, karena ada banyak pengaduan dari Bibida, Madi juga ada yang ketakutan mengungsi ke Enaro kota.

0
268

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah berharap adanya penyelesaian menyeluruh terkait konflik politik yang terjadi di tanah Papua. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari korban dari semua pihak.

Pernyataan itu disampaikan Beny Wenior Pakage, Ketua Pokja Agama MRP Papua Tengah menanggapi kontak tembak antara aparat TNI-Polri dan TPNPB-OPM yang terjadi di Madi Paniai pada, Selasa (21/5/2024).

Dalam kontak tembak itu, satu anggota TPNPB tertembak dan meninggal dunia, dan sejumlah kios dan gedung sekolah terbakar. Sejauh ini belum diketahui pelaku pembakaran kios dan gedung sekolah tersebut.

“Intinya kami dari Pokja Agama [MRP Papua Tengah] itu berharap supaya masalah konflik politik di tanah Papua itu bisa diselesaikan, sehingga tidak mengorbankan umat yang ada di lapangan. Karena ada banyak pengaduan dari Bibida, dari Madi juga ada yang ketakutan mengungsi ke Enaro kota, termasuk ada yang ke Pugo,” kata Beny kepada suarapapua.com di Jayapura, Sabtu (25/5/2024).

Beny mengatakan, akibat dari kontak tembak itu maka konflik semakin menjadi besar, sehingga perlu ada solusi di Asosiasi MRP.

ads

“Saya sudah bicara ini karena banyak orang yang mati, baik dari anggota TNI, Polri, perawat, mantri, guru, anak kecil, anak sekolah, dan ibu-ibu. Jadi minimum lahirkan sebuah rekomenadasi bagaimana kita dorong supaya negara bisa berperan untuk bersedia berdialog dengan TPNPB supaya tidak terjadi konflik-konflik ke depannya lagi,” tukasnya.

Baca Juga:  JDP: Pemindahan Makam Dortheys Eluay Harus Berpikir Bijak Dengan Kepala Dingin

Ia juga mendorong hal tersebut dalam pertemuan Asosiasi MRP di Timika belum lama ini. Karena dengan demikian lanjutnya dalam pertemuan itu disepekati agar menambahkan satu poin agar pihak-pihak yang berkempentingan segera selesaikan konflik yang terjadi di tanah Papua ini.

“Dalam rekomondasi dari 23 rekomondasi itu sebenarnya dari 23 rekomondasi, rekommondasi itu tidak ada tapi setelah dibaca saya bicara keras terpaksa dikasih masuk untuk penyelesaian konflik.”

“Jadi kami dari Pokja agama itu kita bicara tentang gereja bagaimana umat itu baik tidak hidup dalam ketakutan. Kami kecewa juga ada pendeta yang dibunuh. Masa pekerja gereja dibunuh,  seperti lalu pendeta Yeremia Sanambani. Pendeta ini sudah layani siapa saja, termasuk aparat dan TPNPB, tapi dibunuh. Posisi hari ini gembala, pendeta juga ada dalam keadaan ketakutan.”

Namun demikian kata dia ada sejumlah pendeta dan pastor yang berdiri di depan umat untuk membela umat. Misalnya seperti pastor Yance Yogi di Intan Jaya saya lihat itu bagus bisa berdiri di tengah membelah dia punya umat. Jadi kita berharap supaya masalah politik di Papua harus segera diselesaikan demgan cara yang baik.

Baca Juga:  Warga Bibida Mengungsi ke Pastoran Madi, Pemuda Katolik Desak Penanganan Cepat

Beny juga menkritisi soal anggaran pertahanan yang nilainya fantastis hingga 100 triliunan lebih.

“Macam kemarin Jakarta setuju 100triliun – untuk saya kan itu bukan hal baru begitu. Bukan hal baru operasai di tanah Papua ini sudah jutaan triliun habis. Operasi lewat kebijakan pemerintah baik langsung operasi militer yang dibuat, yang kemarin mungkin yang dibicarakan mungkin untuk operasi militer secara langsung tapikan 100 triliun diserap langsung habiskan satu tahun. Sebenarnya anggaran itu kan bisa diserap ke gereja, sekolah-sekolah, mantra-mantra lain juga bisa dapat – jadi masuk di semua lini.”

Pasien di di luar RSUD Paniai.(Screenshot – SP)

“Jadi tidak hanya alasan penambahan 100 triliun itu hanya karena OPM kuasai medan dengan fisik mereka. Saya kira itu bukan alasan. Artinya ngapain kita buang 100 triliun, sedangkan proses dialog ini kan tidak perlu biaya yang besar, tidak sampai 100 triliun. Sebenarnya dana berapa saja kita sudah bisa cari pihak ketiga panggil dan kedua kelompok kita duduka bicara baik baru selesaikan.”

“Begitu jadi intinya masalah Papua ini harus segera diselesaikan, karena operasi-operasi yang dilakukan di tanah Papua ini sudah merugikan umat Tuhan. Di mana gereja-geraja yang ada di pedalaman dikosongkan karena semua lari ke tempat pengungsian, masyarakatnya hidup tidak nyaman,” pungkasnya.

Baca Juga:  Puspom TNI Terkesan Tertutup Proses Hukum 13 Tersangka Penyiksaan Warga Sipil di Puncak

Sebelumnya pada, Selasa 21 Mei 2024, telah terjadi kontak tembak antara aparat TNI- Polri dan TPNPB-OPM di Madi Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah. Dalam kontak tembak itu, satu anggota TPNPB dari Kodap VIII tertembak mati.

RSUD Paniai Ditempati aparat TNI dan Polri
Diberitakan, pada 26 Mei 2024 pelayanan di rumah sakit umum daerah Paniai menjadi lumpuh total karena lantai III dari gedung RSUD tersebut ditempati aparar TNI dan Polri. Pintu gedung tersebut dipalang menggunakan balok dengan alasan belum adanya petugas kesehatan dan mencegah pencurian.

Sebanyak enam pasien rawat inap dirujuk ke RSUD Pratama Deiyai, sementara pasien lainnya dipindahkan ke Puskesmas Enarotali dan lainnya dipulangkan.

Sebby Sambom, Jubir Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengutuk tindakan aparat TNI-Polri menempati RSUD Paniai di Madi pada Minggu 26 Mei 2024/

Sebby mengatakan, aparat TNI-Polri mestinya tidak melakukan hal serupa. Kata Sebby, itu keterlaluan.

Artikel sebelumnyaPapuan Voices Bentuk Panitia FFP Ke-VII yang Akan Berlangsung di Wamena
Artikel berikutnyaButuh Dukungan Pemuda untuk Sukseskan Rapimda KNPI Tambrauw