Situasi pertikaian antar warga masyarakat pendukung caleg tertentu pasca Pemilu 2024 di Keneyam, ibu kota kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. (Ist)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Belum kondusifnya situasi keamanan di Kenyam, ibu kota kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, akibat berlanjutnya konflik horizontal antarmasyarakat sejak empat bulan lalu, mengundang keprihatinan berbagai pihak apalagi telah menelan korban jiwa.

Pelajar dan mahasiswa Papua asal kabupaten Nduga yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia (IPMNI) menyatakan, perang keluarga tersebut harus segera dihentikan karena telah berdampak luas dalam kehidupan sehari-hari, retaknya relasi persaudaraan, hingga memakan korban nyawa.

Welinus Nirigi, ketua IPMNI wilayah Indonesia Barat, menyebutkan sumber persoalannya adalah perebutan suara rakyat dari distrik Geselema pada event pemilihan legislatif tahun 2024.

“Pemicunya pada tanggal 14 Februari 2024, saat penghitungan suara dari distrik Geselema. Dari hasil pemungutan suara, salah satu caleg dari PSI unggul dibandingkan partai Golkar. Hasil itu memancing perdebatan yang panjang hingga ditunda untuk dilanjutkan penghitungan suara pada tanggal 15 Februari 2024. Partai Golkar tidak menerima hasil tersebut, sehingga melakukan tindakan kekerasan berencana yang mengakibatkan salah satu mahasiswa studi akhir meninggal dunia dan dua orang lainnya mengalami luka parah. Karena kejadian itu, perang terus berlanjut sampai saat ini,” jelasnya dalam keterangan tertulis ke suarapapua.com, Rabu (5/6/2024).

Baca Juga:  Diduga Dana Desa Digunakan Lobi Investasi Migas, Lembaga Adat Moi Dinilai Masuk Angin

Dikemukakan, kondisi objektif yang terjadi di kabupaten Nduga tidak menerapkan prinsip-prinsip demokrasi sesuai harapan masyarakat Nduga. Bukan saja pada saat pemilihan presiden dan legislatif, hal sama juga dalam Pilkada.

ads

“Sarat dengan berbagai kecurangan dan itu cerminan buruknya demokrasi Indonesia di kabupaten Nduga. Terbukti pada saat pesta demokrasi tahun 2024, yang menyebabkan situasi daerah tidak kondusif karena terjadi perang keluarga hingga sekarang belum berakhir,” ujarnya.

Diskusi online menyikapi dampak dari konflik horizontal sejak 15 Februari 2024 hingga berlanjut sampai sekarang terhadap situasi daerah di kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Selasa (4/6/2024) malam. (Screenshot)

Menyikapi persoalan tersebut, IPMNI wilayah Indonesia Barat menyampaikan pernyataan sikapnya.

1. Kami pelajar dan mahasiswa Nduga mendesak penjabat gubernur provinsi Papua Pegunungan Dr. Velix Vernando Wanggai, S.Ip, M.PA segera ke Kenyam, ibu kota kabupaten Nduga untuk menyelesaikan konflik horizontal yang sedang berlangsung.

Baca Juga:  Mahasiswa Papua di Sulut Akan Gelar Aksi Damai Peringati Hari Aneksasi

2. Penjabat bupati Nduga Elai Giban, SE, MM dan KPU kabupaten Nduga segera mendesak penjabat gubernur Papua Pegunungan guna membentuk tim dan menyelesaikan konflik horizontal yang terjadi di Kenyam, ibu kota kabupaten Nduga.

3. Kami pelajar dan mahasiswa Nduga yang tergabung dalam organisasi IPMNI mendesak Kapolres Nduga segera hentikan konflik horizontal; jangan buka ruang dan biarkan perang saudara terus berlanjut.

4. Kami menuntut untuk segera memproses pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini.

5. Segera memberhentikan pelaku Ikabus Gwijangge, SE dari jabatannya sebagai ketua DPRD kabupaten Nduga dan kepala Dinas Bencana Alam kabupaten Nduga Lambani Gwijangge, karena telah melanggar kode etik pejabat daerah.

6. Segera coret pelaku ketua DPRD kabupaten Nduga dari keanggotaan partai Golkar, karena telah menyebabkan masalah (konflik horizontal) dan korban nyawa.

Baca Juga:  Penangkapan AN di Enarotali Diklarifikasi, TPNPB: Dia Warga Sipil!

7. Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep dan ketua umum Golkar Airlangga Hartarto segera bertanggungjawab atas konflik yang sedang berlangsung di kabupaten Nduga.

8. Harus dibuat perjanjian tertulis diantara kedua belah pihak agar tidak terjadi konflik susulan, dan pihak keamanan jangan memperpanjang masalah dengan pembiaran terhadap pelaku utama.

9. Mahasiswa kabupaten Nduga yang tergabung dalam organisasi IPMNI harus independen merespons situasi kabupaten Nduga hari ini tanpa melibatkan diri dalam konflik horizontal tersebut.

Laoren Kerebea dalam diskusi online bersama pengurus dan anggota IPMNI, Selasa (4/6/2024) malam, mengungkapkan, perang keluarga tersebut menyebabkan tiga orang tewas. Korban jiwa dikhawatirkan akan bertambah jika tidak segera diatasi.

“Kami mendesak penjabat bupati segera tangani secara serius untuk kedua belah pihak yang bertikai bisa berdamai secara adat. Dan masyarakat bisa beraktivitas seperti biasanya,” ujar Kerebea. []

Artikel sebelumnyaPrancis Mengirimkan Kendaraan Lapis Baja yang Dilengkapi Senapan Mesin ke Kaledonia Baru
Artikel berikutnyaSeribu Pohon Sagu di Sorong Digusur Demi Menanam Kelapa Sawit