BeritaPapuan Voices Bentuk Panitia FFP Ke-VII yang Akan Berlangsung di Wamena

Papuan Voices Bentuk Panitia FFP Ke-VII yang Akan Berlangsung di Wamena

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Guna menggelar dan melaksanakan Festival Film Papua ke – VII di Wamena, Badan Pengurus Papuan Voices Nasional membentuk panitia pelaksana dengan menyerahkan Surat Keputusan bernomor 01/SK/PENAS- PV/V/2024.

Pembentukan panitia festival film Papua itu dilaksanakan di Wamena pada awal Mei 2024 dengan ketua panitia adalah Zony Wamu dan sejumlah anggotanya.

Penyerahan surat keputusan itu sekaligus memberi tanggung jawab kepada panitia untuk melakukan upaya – upaya dalam mempersiapkan pelaksanaan Festival Film Papua ke – VII di Wamena, Ibu kota Provinsi Papua Pegunungan yang akan berlangsung pada 7-9 Agustus 2024 dengan tema ‘Merajut Kembali Budaya Papua Yang Telah Hilang’.

Markus Wayeni, PLT Ketua Papuan Voices Nasional mengatakan, pemilihan Wilayah Wamena menjadi tuan rumah festival ke-VII dilakukan atas kesepakatan bersama dalam Festival Film Papua ke-VI di Jayapura pada tahun 2023.

Baca Juga:  Aksi Hari Aneksasi di Manokwari Dihadang Aparat, Pernyataan Dibacakan di Jalan

“Sesuai kesepakatan bersama pada Festival Film Papua ke-VI di Jayapura 2023 telah diputuskan Papuan Voices Wilayah Wamena menjadi tuan rumah. Kegiatannya mulai tanggal 7-9 Agustus 2024 dengan sejumlah kegiatan seperti whorkshop, nonton dan diskusi,” jelas Markus dalam pernyataanya kepada suarapapua.com pada, Sabtu (25/5/2024).

Markus menjelaskan Festival Film Papua yang disingkat FFP sudah dilaksanakan sebanyak 6 kali di beberapa wilayah yaitu Merauke, Jayapura (sebanyak 3 kali), Sorong dan Biak.

Awalnya, kesepakatan pelaksanakan festival film Papua dilaksanakan pada Mei 2017 untuk menjadikannya sebagai agenda tahunan.

Baca Juga:  Puspom TNI Terkesan Tertutup Proses Hukum 13 Tersangka Penyiksaan Warga Sipil di Puncak

Katanya, Papuan Voices adalah komunitas film yang terbentuk pada Tahun 2011, berawal dari program pelatihan produksi dokumenter yang dibuat oleh EngageMedia yang bekerja sama dengan SKPKC Fransiskan Papua, SKP Keuskupan Agung Merauke dan JPIC MSC di Merauke.

Diskusi bersama badan pengurus Papua Voices dan panitia FFp Ke-VII tahun 2024. (Papuan Voices – SP)

Para peserta pelatihan lalu menyatukan diri dalam wadah Komunitas film bernama Papuan Voices.

Papuan Voices menyelenggarakan dua kegiatan utama, yakni penguatan kapasitas generasi muda di dalam memproduksi audio visual dan kedua, melakukan kampanye dan advokasi terkait isu-isu penting di Tanah Papua.

“Pengaruh budaya luar terhadap eksistensi budaya lokal di Papua merupakan suatu fenomena yang cukup kompleks dan memiliki berbagai dimensi,” kata Max sapaan akrabnya Markus.

Baca Juga:  Asosiasi West Papua Australia Mendesak Prancis Mendengarkan Suara Rakyat Kanak

Kata Max, Papua dengan kekayaan budaya yang cukup unik, menghadapi tantangan dalam mempertahankan identitas budaya aslinya ditengah globalisasi dan pengaruh budaya luar.

Salah satu kata dia sistem pendidikan yang umumnya mengadopsi kurikulum nasional dan internasional dapat mengurangi fokus pada pengetahuan tradisional dan bahasa lokal.

Pada akhirnya pengaruh budaya luar bisa dianggap sebagai pedang bermata dua, di satu sisi memberikan kesempatan pembaharuan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi disisi lain bisa mengancam eksistensi budaya local.

“Keberhasilan budaya lokal di Papua sangat tergantung terhadap sejauh mana komunitas lokal dan pemangku kepentingan mampu mengitegrasikan nilai-nilai tradisional dengan pengaruh global yang tidak terelakan,” pungkansya.

Terkini

Populer Minggu Ini:

Seruan Damai Pemuda Katolik Paniai Pasca Situasi Bibida Mencekam

0
"Saudara-saudari kita ini harus segera kembali ke rumah. Cepat atasi situasi menuju perdamaian adalah dambaan kita semua saat ini. Damailah negeriku agar sesama umat Tuhan segera kembali ke asal dusun. Doa saya, Tuhan Allah memberkati kita semua," ucap Yunus Eki Gobai.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.