ArsipStop Stigma dan Diskriminasi ODHA, Pdt. Meage: Harus Ada Tindakan Nyata

Stop Stigma dan Diskriminasi ODHA, Pdt. Meage: Harus Ada Tindakan Nyata

Jumat 2015-10-16 08:12:04

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Ketua Klasis GKI Balim Yalimo, Pdt. Judas Meage menyatakan, tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV dan Aids bahwa menular hanya melalui hubungan seksual belaka, tetapi ada banyak media dan cara penularannya.

“Stigma yang selama ini ada bahwa HIV tertular hanya melalui hubungan seksual itu tidak boleh, karena ada banyak cara HIV itu bisa tertular. Memang melalui darah, tetapi bisa juga dengan cara lain, seperti darah ketika baku pukul, menolong orang ketika kecelakaan dan lainnya,” kata Pendeta Meage, kepada suarapapua.com, tadi siang di ruang kerjanya, Jumat (16/10/2015), melihat stigma dan diskriminasi orang dengan HIV yang tinggi.

 

Jadi, lanjut Pdt. Meage, untuk saat ini penting bagaimana semua orang untuk mengerti apa itu HIV dan AIDS. Ia juga mengatakan, jangan melihat dari satu cara pandang bahwa HIV itu penyakit berbahaya, karena sesunguhnya penyakit mematikan itu ada, seperti TB.

 

“TB ini berbahaya, karena cara penularannya sangat cepat tidak seperti HIV. Jangan juga stigma terhadap orang dengan HIV lalu menghindar, sebab pengidap minum obat baik sesunguhnya bisa melaksanakn aktivitas. Bayangkan jika orang kena TB, tidak bisa melakukan aktivitas sebab penularannya cepat,” tukasnya.

 

Contoh lain, menurutnya, orang dengan HIV bisa terus terang kepada sesama, atau kepada orang yang tidak dengan HIV, dan disitu tidak terjadi diskriminasi.

 

“Seumpama dalam aktivitas kantor bisa saling menolong dalam mengonsumsi obat, jika satu kelupaan obat bisa dibantu oleh rekannya dan disitu bisa saling menolong,” ujarnya.

 

Hal yang sama kata Meage, kepada orang yang tidak dengan HIV untuk mendukung supaya rekan atau saudara yang dengan HIV ini ada motivasi dan semangat kedepan.

 

“Jika tidak pernah menolong sesama, mendukung dan memberikan motivasi, maka banyak dari kita yang mencelakakan rekan-rekan kita sendiri. Dengan cara begitu kita menjerumuskan orang jadi lemah dan itu yang namanya diskriminasi,” tuturnya.

 

Selain itu ia mengatakan, sosialisasi potong kulit khitan (sunat) untuk menghindar HIV itu tidak benar, sebab kulit khitan dipotong pun HIV tetap bisa tertular karena melalui darah.

 

“Jika sosialisasi sunat untuk menghindar penyakit kelamin lainnya, saya pikir itu bisa. Pokonya bagian dari medis, seperti jika tidak dipotong bisa kotor dan akibatnya bisa kena penyakit, tetapi sosialisasi untuk harus sunat karena bisa tertular HIV, itu kita secara tidak langsung melegalkan orang untuk melakukan hubungan seksual,” kata Meage.

 

Oleh sebab itu, Pdt. Meage menyarankan, supaya tidak hanya melakukan sosialisasi melalui media dan lain sebagainya, tetapi harus dilakukan tindakan nyata.

 

“Menyampaikan dan melakukan sesuatu. Seperti menyampaikan terhadap sesama dalam kantor, rumah serta keluarga dan itu disampaikan yang permanen dan membentuk karakter orang supaya tidak melakukan lagi,” tutupnya.

 

ELISA SEKENYAP

Terkini

Populer Minggu Ini:

Warga Vanuatu Minta Perlakuan Adil Saat Dirawat di VCH

0
“Oleh karena itu, pemerintah harus memperhatikan keadaan anak ini terlepas dari pulau asal atau provinsi tempat tinggalnya,” kata Anne Pakoa, aktivis Hak Asasi Manusia.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.