ArsipTokoh Masyarakat Sebut Konflik di Timika Rebutan Jabatan Presidir Freeport?

Tokoh Masyarakat Sebut Konflik di Timika Rebutan Jabatan Presidir Freeport?

Minggu 2015-01-11 00:28:30

TIMIKA, SUARAPAPUA.com — Sejumlah tokoh masyarakat di Timika, Papua, menyebut insiden penembakan dua anggota Brimob, dan satu karyawan PT. Freeport Indonesia, awal Januari 2014 lalu, merupakan skenario terselubung aparat keamanan merebutkan Presiden Direktur Freeport Indonesia. .

“Konflik itu karena Baju Hijau dan baju coklat rebutan rebutan jabatan Presiden Direktur Freeport, coba ade-ade wartawan dalami soal ini, sebab setelah penembakan ada yang diangkat jadi pimpinan Freeport,” ujar salah satu tokoh masyarakat suku Moni di Timika, Papua, yang enggan di mediakan namanya, kepada suarapapua.com, Sabtu (10/01/2015).  

 

Menurut tokoh masyarakat ini, sebagian besar masyarakat Papua, termasuk karyawan PT. Freeport Indonesia menolak jabatan Presiden Freeport dari kalangan militer. (Baca: Mantan Wakil Kepala BIN Jadi Bos Baru Freeport Indonesia).

 

“Kalau setahu saya, Presiden Freeport sekarang mantan Wakil Kepala BIN, dari institusi TNI, makanya ada yang tidak puas, karena mereka sudah sering rebutan piring, takut baju coklat kehilangan makan,” tegasnya.

 

Ia menambahkan, seharusnya jabatan Presiden Freeport diberikan kepada orang sipil, terutama orang di kalangan PT. Freeport Indonesia yang paham manajemen, dan persoalan.
 

“Tapi lebih bagus juga kalau ada orang asli Papua yang diberikan kepercayaan untuk duduki jabatan itu. Kan bapak Silas Natkime yang memenuhi syarat sebagai Presiden Freeport, kenapa beliau tidak dipercayakan,” katanya.

 

Sebelumnya, diberitakan media ini, PT Freeport Indonesia dikabarkan telah menunjuk mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Maroef Sjamsoeddin, sebagai presiden direktur yang baru menggantikan Rozik B. Soetjipto yang akan memasuki masa pensiun dalam waktu dekat. (Baca: Waker Cs Dikejar Sampai ke Neraka, Bagaimana dengan Serdadu Penembak 4 Warga di Paniai?).

 

"Saya mengucapkan selamat kepada Bapak Maroef, dan berharap beliau beserta seluruh jajaran tim manajemen Freeport Indonesia dapat meraih kesuksesan di masa yang akan datang," ujar Rozik, kepada Viva News, beberapa waktu lalu.

 

Sementara itu, Presiden Direktur Freeport Indonesia yang baru, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan kesiapannya menjalankan tugas sebagai Presiden Direktur Freeport Indonesia.

 

Maroef bergabung di Freeport Indonesia, setelah menyelesaikan karir panjangnya di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. (Baca: Kapolda Sumsel minta Polda Papua Tangkap Pelaku Penembakan Anggotanya).

 

Purnawirawan Marsekal Muda TNI Angkatan Udara Republik Indonesia ini juga sempat menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) selama periode 2011-2014.

 

Dari sisi pendidikan, saat ini ia telah memperoleh gelar Master of Business Administration dari Jakarta Institute Management Studies. (Baca: Neles Tebay: Pelaku Penembakan di Timika Cepat Diketahui, Sedangkan di Paniai?).

 

Lebih lanjut, Maroef mengatakan, saat memimpin salah satu perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia itu, dia akan memprioritaskan pengembangan tambang baru di Papua.

 

"Ini merupakan saat yang paling menarik bagi Freeport Indonesia yang akan mengembangkan tambang baru di Papua," ujarnya. (Baca: Kapolda Papua: 1.576 Personil Dikerahkan Kejar Kelompok Ayub Waker).

 

Dia menegaskan, tujuan akhir dari prioritas tersebut tidak lain, agar dapat memberikan berbagai macam manfaat bagi karyawan dan masyarakat setempat.

 

"Serta pemerintah Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan sepanjang beberapa dekade yang akan datang," kata Maroef.

 

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

PNG Rentan Terhadap Peningkatan Pesat Kejahatan Transnasional

0
“Karena lokasinya, PNG berfungsi sebagai titik transit penyelundupan senjata api, obat-obatan terlarang, perdagangan satwa liar, pembajakan laut, dan kejahatan transnasional lainnya melintasi perbatasan. Negara ini mempunyai resiko tinggi terhadap pergerakan orang dan barang yang tidak terkendali melalui darat dan laut, karena perbatasannya sebagian besar terbuka,” beber peneliti Julian Melpa.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.