BeritaTPNPB Mengaku Menembak Mati 8 Anggota TNI/Polri di Hitadipa

TPNPB Mengaku Menembak Mati 8 Anggota TNI/Polri di Hitadipa

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kompi D Dulla Kodap III Ndugama kembali melancarkan serangan kepada pasukan keamanan Indonesia di kampung Bomba, distrik Hitadipa, kabupaten Intan Jaya, Papua, Jumat (22/1/2021) pagi.

Dalam aksi penembakan itu, komandan Kompi D Dulla Aibon Kogeya mengaku telah menembak mati 8 anggota TNI/Polri dan beberapa lainnya luka-luka.

Laporan berbeda dari pihak TNI, yang gugur dalam kontak senjata di Intan Jaya hanya dua orang prajurit.

“Tadi jam 11:55 sampai 1:00 WPB di Bomba pasukan kami baku tembak dengan aparat gabungan TNI/Polri. Pasukan kami berhasil tembak mati delapan anggota TNI/Polri dan banyak yang sudah kena luka-luka,” jelasnya kepada suarapapua.com melalui telepon seluler dari Intan Jaya.

Kogeya menyatakan bertanggungjawab atas penyerangan dan penembakan yang dilakukan pasukannya.

Baca Juga:  Solidaritas Pelajar WP Gelar Aksi Penolakan Program MBG di Sejumlah Kota di Tanah Papua

“Aksi baku tembak ini kami siap bertanggungjawab. Karena aksi pasukan TPNPB adalah berjuang untuk Papua merdeka, bukan yang lain-lain,” tegasnya.

Identitas korban penembakan menurut dia, belum dipastikan karena aparat gabungan melancarkan pembalasan.

“Kalau untuk identitas TNI/Polri kami susah pastikan karena militer Indonesia serang kami dengan bazoka dan senjata canggih. Tetapi anggota saya tidak ada yang korban nyawa,” tuturnya.

Ia menambahkan, ada dua titik penyerangan terhadap TNI/Polri dini hari. Yang melancarkan penyerangan di Bomba, distrik Hitadipa adalah pasukannya. Sedangkan penyerangan di pos TNI/Polri di Migatapa, kampung Titigi, distrik Sugapa adalah pasukan Kodap lain.

“Tadi pagi-pagi sekitar jam lima itu ada pasukan dari Kodap lain yang serang TNI/Polri di pos Titigi. Makanya pasukan kami jaga di Bomba, begitu kami jaga pasukan TNI/Polri dari Hitadipa pakai tiga mobil strada naik, jadi kami tembak semua,” jelasnya.

Baca Juga:  Sinode GKI dan Mitra UEM Gelar Penanaman Terumbu Karang di Pantai Harlem

Aibon Kogeya mengaku berada dibawah pimpinan Panglima Kodap III Ndugama Egianus Kogeya memimpin penyerangan pos TNI di Titigi, Intan Jaya, pada 9 dan 10 Januari 2021.

Adapun tuntutan TPNPB Kompi D Dulla Kodap III Ndugama:

  1. Indonesia segera berikan referendum bagi rakyat Papua.
  2. Kami menolak Otsus Jilid II ataupun Otsus Plus.
  3. Indonesia stop menanam saham di seluruh Tanah Papua, khususnya Blok B Wabu.
  4. Kami akan perang sampai Papua harus lepas dari Indonesia.
  5. Kami mengingatkan kepada seluruh rakyat Papua serta semua pejuang agar berhati-hati menyebarkan berita propaganda yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Kolonel Gzi I Gusti Nyoman Suriastawa, kepala penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilahan) III membenarkan dua prajurit TNI gugur dalam kontak senjata di Intan Jaya.

Baca Juga:  Argumen Minimnya SDM Dalam Seleksi Anggota DPR Papua Pegunungan Dinilai Diskriminatif

“Dua prajurit TNI dari Yonif R 400/BR gugur dalam kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Intan Jaya, Papua, Jumat (22/1/2021). Keduanya adalah Pratu Roy Vebrianto dan Pratu Dedi Hamdani,” jelasnya kepada wartawan.

Pratu Roy menurutnya gugur diterjang peluru dari anggota KKB yang berjarak 200 meter. Saat penembakan terjadi, Pratu Roy dikabarkan baru selesai sholat subuh. Sedangkan Pratu Dedi meninggal ketika melakukan pengejaran anggota KKB yang menyerang pos Titigi.

“Korban juga ditembaki secara membabi buta dari arah ketinggian di hutan yang terletak antara kampung Sugapa lama dan kampung Hitadipa,” katanya.

Suriastawa menjelaskan, kedua korban penembakan meninggal dunia saat dievakuasi ke Timika menggunakan helikopter.

Pewarta: Yanuarius Weya
Editor: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Tanpa Legalitas, Kodim 1707/Merauke Minta Data Mahasiswa Papua Berdampak Buruk

0
“Dalam prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), setiap permintaan data harus disertai dengan alasan yang jelas, mekanisme penggunaan data, serta jaminan bahwa data tersebut tidak akan disalahgunakan. Sayangnya, surat ini tidak menjelaskan secara rinci untuk apa data mahasiswa tersebut akan digunakan, bagaimana data itu akan disimpan, dan siapa saja yang akan memiliki akses terhadapnya?,” ujar Mahuse.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.