
JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Sinode GKI di Tanah Papua bersama Warga Bakal jemaat GKI Daniel Angguruk dan Siegfried Zollner di Kilo Meter Sembilan gelar ibadah United Evangelical Mission (UEM) Sunday dan perayaan 25 tahun (1996-2021) internasionalisasi UEM untuk benua Eropa, Afrika dan Asia, di Koya, Kota Jayapura, Papua, Minggu (20/6/2021).
Sekertaris Umum Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Daniel Kaigere dalam sambutan perayaan UEM Sunday dan perayaan 25 tahun internasionalisasi UEM itu menyampaikan bahwa persekutuan ini dipertahankan agar ke depan lebih kuat. Warga jemaat dari Wilayah Balim Yalimo menjadi warna di dalam GKI.
“Terima kasih warga jemaat dan semua puji-pujiannya. Semua ini memberi dampak dari GKI di tiga benua, terutama di Eropa, Afrika dan Asia dalam UEM. Atas nama Badan Pekerja Am Sinode GKI di Tanah Papua, saya menyampaikan terima kasih kepada pelayanan UEM dalam GKI saat ini,” kata Pdt. Kaigere di hadapan warga jemaat di dua bakal jemaat dan para undangan dari Klasis GKI Sentani dan Bakal klasis Muara Tami.
Selain itu Pdt. Kaigere menyinggung soal tema perayaan 25 tahun internasionalisasi UEM yang lebih menekankan terkait ‘melayani dan menjadi berkat’. Menurutnya, kata melayani ada dua makna, pertama melayani dengan tanggungjawab, kedua melayani karena kepedulian.

“Maka dalam hal ini, melayani harus dengan kepedulian. Gereja harus ada di sini dan bukan melayani karena tanggungjawab, tetapi melayani dengan kepedulian untuk menjadi berkat,” tuturnya.
Pdt. Petrus Sugito, Wakil Ketua Kantor Perwakilan UEM Regional Asia di Siantar dalam sambutannya mengatakan, perayaan 25 tahun internasionalisasi UEM merupakan bukti pelayanan yang selama ini ditangani oleh pihak Jerman di Eropa.
“Sebelumnya RMG (UEM) hanya diurus oleh orang Jerman, dan sejak 1996, UEM di internasionalisasi sehingga keanggotaannya adalah gereja di Eropa, Afrika dan Asia. Pegawainya di kantor pusat UEM di Jerman juga adalah orang Eropa, Afrika dan Asia. Inilah sebuah perubahan yang terjadi setelah diinternasionalisasi,” tukas Pdt. Sugito.
Dalam misi UEM kata Pdt. Sugito, ada lima fokus utama, yaitu pekabaran injil yang dilakukan oleh gereja di Eropa, Afrika dan Asia. Termasuk Diakonia, Advokasi, pengembangan SDM seperti beasiswa dan kemitraan.
Jadi semua kegiatan dari lima fokus ini bukan hanya dikerjakan atau diurus oleh orang Jerman di Eropa, tetapi dikerjakan oleh orang Afrika dan juga orang Asia, salah satunya GKI di Tanah Papua serta sejumlah gereja di Indonesia.
“Jadi dalam kemitraan ini, UEM tidak hanya mengurus misi Firman Tuhan, tetapi juga soal roti. Artinya warga jemaat disampaikan Firman Tuhan, tetapi juga warga jemaat harus makan – perut terisi lalu mendengarkan Firman Tuhan.”
Ia juga mengatakan, bahwa ke depan ada permintaan dari salah satu gereja di Rwanda, Afrika yang ingin bermitra dengan GKI, khususnya kemitraan selatan-selatan. Ini yang akan dilakukan perbincangan dengan Badan Pekerja Klasis GKI Balim Yalimo.
Selain itu jemaat GKI Daniel Angguruk Kilo meter 9 dan Bakal Jemaat Siegfried Zollner Kilo meter Sembilan menjadi jemaat yang masuk dalam pelaksanaan proyek percontohan UEM.
Pdt. Sugito menyampaikan terima kasih kepada tim united action yang saat ini telah menyumbangkan dana sebesar Rp55.000.000 juta kepada UEM. United action adalah proyek yang dikerjakan untuk mendukung anak-anak tidak mampu atau yang membutuhkan dukungan di tiga benua.

Nathan Pahabol, salah satu alumni UEM mengakui bahwa warga jemaat GKI di wilayah Balim dan Yalimo adalah anak sulung dari pelayanan misi dari UEM. Di mana pertama kali ketika GKI berdiri mandiri meminta dukungan ke Jerman (UEM) untuk melakukan pelayanan di wilayah Balim Yalimo. Di situlah mulai dilakukan oleh misionaris yang diutus oleh UEM, terutama Pdt. Siegfried Zollner dan dr. Frend.
“Oleh sebab itu dengan 25 tahun internasionalisasi UEM ini, saya berharap agar GKI mentransformasi diri dan mulai buka peluang bagi beasiswa atau dukungan lain untuk warga jemaat. Tidak bisa hanya atur-atur di dalam! Kesannya kita tidak harus dari Jerman, tetapi kita harus dukung bersama semua pelayanan UEM. Terima kasih,” pungkas Pahabol yang adalah anggota DPRP Papua ini.
Usai perayaan, tim united action menyerahkan dana sebesar Rp55.000.000 dari sumbangan warga jemaat, penjualan baju, dan penjualan makanan kepada wakil ketua UEM, Pdt. Petrus Sugitu.
Selain itu, tim united action melakukan penjualan pakaian layak pakai dengan harga murah, termasuk warga jemaat GKI Daniel Angguruk dan Siegfried Zollner menyumbangkan bahan makanan lokal dari hasil bumi kepada tim united action untuk dijual dan dananya disumbangkan untuk pelayanan UEM.
Perwarta: Elisa Sekenyap