Kegiatan diskusi tentang pengenalan dan pencegahan penyakit menular seksual (PMS) di kalangan remaja di kabupaten Nabire, Jumat (21/2/2025) di aula kantor distrik Teluk Kimi, Nabire, Papua Tengah. (Dok. Yapkema for SP)
adv
loading...

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Perwakilan pelajar dari lima SMA dan SMK di wilayah timur kabupaten Nabire, Papua Tengah, menghadiri diskusi tentang pengenalan dan pencegahan penyakit menular seksual (PMS) di kalangan remaja di Nabire. Diskusi digelar di aula kantor distrik Teluk Kimi, Nabire, Jumat (21/2/2025).

Mis Murib, manager program Kepemudaan Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema), mengatakan, diskusi tersebut adalah kegiatan perdana bidang kepemudaan Yapkema di kabupaten Nabire.

Sebelumnya, kata Murib, Yapkema telah 25 tahun eksis dalam program-program pendampingan ekonomi petani, kesehatan keluarga, dan pendidikan anak di tiga kabupaten wilayah adat Meepago: Paniai, Dogiyai, dan Deiyai.

Kabupaten Nabire, yang juga merupakan ibu kota provinsi Papua Tengah, kini menjadi sasaran perluasan aktivitas penjangkauan Yapkema. Hal ini, menurut Murib, karena lapisan muda generasi Papua dari delapan kabupaten di provinsi Papua Tengah kerap turun, tinggal, bersekolah dan beraktivitas di Nabire.

“Nabire adalah pusat bertemunya berbagai lapisan kaum muda Papua dari berbagai suku pegunungan dan pantai, termasuk kaum muda suku-suku lainnya di nusantara. Nabire menjadi semacam kota pusat pergaulan dan perlintasan kebudayaan,” kata Mis Murib yang juga penggerak komunitas literasi di Nabire.

ads

Topik pencegahan PMS dipilih sebagai tema acara perdana, karena bertolak dari penyebaran kasus HIV/AIDS di kabupaten Nabire yang tertinggi di seluruh Indonesia. Sebanyak 25 orang pelajar lintas suku mewakili 5 SMA/SMK di kawasan Nabire bagian timur hadir pada kegiatan perdana Yapkema.

“Kabupaten Nabire ada di posisi teratas penyebaran HIV/AIDS di seluruh Indonesia. Masa depan generasi Papua terancam. Kehadiran 25 pelajar pada diskusi perdana ini adalah awal dari rangkaian kegiatan kepemudaan kami di kabupaten Nabire,” ujarnya memperkenalkan program kepemudaan Yapkema di awal acara diskusi.

Baca Juga:  Karyawan-Karyawati RSMM dan KMM Keuskupan Timika Berekoleksi
Foto bersama usai kegiatan diskusi tentang pengenalan dasn pencegahan penyakit menular seksual (PMS) di kalangan remaja di kabupaten Nabire, Jumat (21/2/2025) di aula kantor distrik Teluk Kimi, Nabire, Papua Tengah. (Dok. Yapkema for SP)

Murib menyatakan, kegiatan serupa akan dilanjutkan di wilayah barat dan kota Nabire yang menyasar para pelajar SMA/SMK, mahasiswa, dan komunitas-komunitas muda di Nabire.

“Dalam tiga tahun kami akan menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan anak-anak muda Nabire untuk membicarakan isu-isu seputar kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual dan literasi digital dalam hal pergaulan sehat,” jelasnya.

Selain persoalan penyebaran PMS, Mis Murib menyebut keprihatinan Yapkema terhadap fenomena kehamilan dini dan tak direncanakan di kalangan muda Papua di kota Nabire. Bertolak dari keprihatinan itulah program kepemudaan mengambil fokus pada isu-isu hak dan kesehatan reproduksi remaja.

“Kami ingin ambil bagian, sekecil apapun untuk menyelamatkan masa depan generasi muda Papua dari penyakit dan pergaulan yang berdampak buruk bagi hidupnya. Kami ingin generasi muda punya informasi yang cukup untuk melindungi dirinya, keluarga, teman-temannya untuk masa depannya sendiri. Dimulai hari ini dengan diskusi untuk menyebarluaskan informasi tentang penyakit menular seksual dan bagaimana mencegahnya,” lanjut Murib.

Kegiatan diskusi ini dihadiri dua pembicara, yakni dr. Ferina Steffi Aronggear, dokter di klinik St. Rafael Nabire yang juga penyuluh HIV/AIDS. Dan, Paula S Pakage, mantan ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Nabire yang telah bertahun-tahun mengabdikan dirinya sebagai relawan di isu ini.

Dokter Ferina menekankan beberapa alasan pentingnya membahas persoalan penyakit menular seksual di kalangan remaja di Nabire. Pertama, karena angka HIV/AIDS sebagai salah bentuk penyakit menular seksual yang tertinggi di Nabire; kedua karena perempuan lebih banyak terkena infeksi menular seksual (IMS), namun tidak diketahui atau tidak ada gejalanya.

Baca Juga:  Ratusan Warga di Kota Sorong Andalkan WC Terbang, Pemda Belum Seriusi Masalah Sanitasi Buruk

“Remaja pelajar menjadi sasaran penting untuk mendapatkan informasi karena hal-hal ini tidak diperoleh di sekolah, harus dicari sendiri. Remaja adalah usia peralihan dengan rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga dokter mau ajak kalian gunakan rasa ingin tahu itu untuk mendapatkan informasi yang benar untuk pergaulan yang sehat,” tuturnya.

Pembukaan kegiatan diskusi tentang pengenalan dan pencegahan penyakit menular seksual (PMS) di kalangan remaja di kabupaten Nabire, Jumat (21/2/2025) di aula kantor distrik Teluk Kimi, Nabire, Papua Tengah. (Dok. Yapkema for SP)

Aronggear mengajak para remaja tak malu berbicara dan bertanya pada dokter terkait hal-hal yang ia rasakan atau alami di seputar alat kelaminnya. Karena jika dideteksi lebih awal pengobatannya pun bisa lebih cepat.

Macam-macam penyakit menular seksual yang dipaparkan dr. Aronggear, antara lain radang saluran kencing, gonore atau kencing nanah, jamur pada alat kelamin perempuan, sipilis dan HIV. Penyakit-penyakit ini menular lewat aktivitas seks genital (alat kelamin) dan anal (anus) dengan cara gonta-ganti pasangan seks yang tak aman. Medium penularan HIV adalah darah, cairan sperma, dan vagina, serta air susu ibu.

Paula S Pakage menyebutkan di kabupaten Nabire ini telah tersedia 12 layanan puskesmas dan 1 klinik untuk penanganan IMS. Ini penting untuk diketahui dulu dimana letak puskesmas, agar jika sakit tak perlu ke klinik berbayar mahal. Puskesmas lebih terjangkau, bahkan tak berbayar. Hanya klinik Santo Rafael di Bukit Meriam Nabire yang juga ramah akses terhadap pasien IMS.

Pakage menceritakan prosedur pelayanan pemeriksaan agar para remaja tak canggung untuk datang dan berkonsultasi.

Baca Juga:  Masyarakat di Kelurahan Saoka Minta Pemprov PBD Sediakan Bus untuk Anak Sekolah

“Tes atau tidak, para dokter tidak akan paksa, konsultasi yang lebih penting,” katanya.

Paula mengimbau para remaja menggunakan gawai untuk mencari informasi yang berguna, membekali diri dengan pengetahuan sejak dini, agar dapat membangun sistem pertahanan diri yang tepat.

“Maling bisa masuk mencuri jika pagarnya tidak dipagari dengan baik. Sama halnya dengan HIV dan AIDS, mudah masuk menyerang kita kalau kita tidak bekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan tentang penyakit tersebut, baik itu penyebab, penyebaran, dan gejala-gejalanya setelah terinfeksi,” tutur Paula.

10 dari 25 pelajar SMA-SMK yang hadir aktif mengajukan pertanyaan mulai dari medium penularan HIV, cara mencegah agar tak tertular, serta istilah-istilah yang dibeberkan dokter saat presentasi materi.

Kegiatan diskusi tentang pengenalan dan pencegahan penyakit menular seksual (PMS) di kalangan remaja di kabupaten Nabire, Jumat (21/2/2025) di aula kantor distrik Teluk Kimi, Nabire, Papua Tengah. (Dok. Yapkema for SP)

Para pelajar yang hadir berasal dari SMA YPBI Sion, SMK Negeri 4, SMK Negeri 3 Lagari, SMA Negeri 6 Lagari, dan SMK Bakidi Yasebaper. Acara diskusi diawali doa yang dipimpin Suster Kristin dari Klinik Santo Rafael Nabire, dilanjutkan kata sambutan dari program manager Ekonomi Yapkema, Marsel Pigai dan sekretaris distrik Teluk Kimi, Daud Sawaki.

Daud Sawaki yang juga kader Sirkumsisi Medis Sukarela (SMS) sangat mendukung kegiatan seperti ini terus dilakukan, termasuk di kalangan masyarakat umum di kampung-kampung.

Sawaki mengimbau para remaja menggunakan kesempatan ini untuk mengedukasi diri dan menjadi pemancar informasi ke teman-temannya.

Diskusi yang dimulai pukul 10.30 itu berakhir pada pukul 15.00 WIT. Antusiasme para pelajar memberi pengharapan bahwa diskusi mengenai isu reproduksi dan IMS harus semakin banyak dilakukan untuk remaja usia sekolah. []

Artikel sebelumnyaKepulauan Marshall Mengubah Suara Ukraina di PBB
Artikel berikutnyaDKP2B dan Satpol PP PBD Musnahkan 16 Karton Makanan Siap Saji Kedaluwarsa