Salah satu kondisi WC terbang, BAB langsung terjun ke kali Rufei di RT 03 RW 04 kelurahan Tampa Garam, distrik Maladumes, kota Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (21/3/2025). (Maria Baru - Suara Papua)
adv
loading...

SORONG, SUARAPAPUA.com — Ratusan warga kota Sorong masih menggunakan water closet (WC) terbang. Warga masyarakat distrik Sorong Barat dan distrik Maladumes meminta pemerintah daerah (Pemda) serius melihat masalah sanitasi buruk karena berdampak bagi kesehatan balita, anak, dan orang dewasa.

WC gantung atau bahasa sehari-hari penduduk RT 05 dan RT 03 adalah WC terbang. Kenapa dibilang begitu? Menurut masyarakat, karena tinjanya langsung turun ke kali ataupun laut butuh proses terbang dari closet gantung ke bawah, sehingga disebut WC terbang. Tinja atau kotoran adalah produk buangan saluran pencernaan yang dikeluarkan melalui anus manusia atau hewan.

Sore itu, awan di kota Sorong sedikit mendung. Awan gelap dan cerah. Tidak jadi hujan.

Sa ketemu, ketua RT 05 dan RW 03, Junickson Matu. Pace lagi istirahat sore, tetapi dibangunkan istrinya sembari bilang ada tamu. Pace bangun, cepat raup mukanya dan duduk di samping sa. Kita bincang-bincang tentang WC. Ia akui, warganya memang 100% masih buang air kecil dan besar di laut. Suka buang air besar di laut, karena ketika bangun, WC dikhawatirkan akan menjadi monumen.

“Sudah biasa buang air besar di air laut kalo bangun, takutnya nanti jadi monumen karena kesadaran masyarakat tentang itu masih kurang,” ceritanya sambil senyum-senyum.

ads
Jembatan yang diminta RT 05 dan RW 03 untuk dibangun menjadi beton atau minta bantuan balok 10×10 untuk renovasi jembatan demi keselamatan masyarakat setempat, Senin (17/3/2025). (Maria Baru – Suara Papua)

Di RT 05, ada 52 kepala keluarga (KK). Dalam observasi Suara Papua di lokasi, setiap rumah mempunyai WC terbang. Dibangun di belakang, seperti pondok ukuran kecil, 1×1 meter. Ditutupi dengan seng-seng karat bekas berwarna coklat. Pintunya bisa dari seng, karung putih ataupun terpal biru.

Penasaran dengan WC gantungnya, sa mau melihat secara langsung rumah gantung di pinggir laut seperti apa bentuk arsiteknya dari luar dan dalam. Sa pun masuk ke dalam, ke barat, menyusuri jembatan gantung panjang 131 meter yang sedikit goyang-goyang. Katanya pak RT sedang mengusulkan di Musrenbang distrik untuk dibangun beton ataupun minta kayu 10×10 karena jembatannya kurang aman untuk digunakan, apalagi kayu-kayu sudah lapuk dan sulit mendapat kayu dengan kualitas baik untuk direnovasi.

Baca Juga:  Pemkab Lanny Jaya Lanjut Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan

Sa sedikit gugup karena jembatan goyang dan rumah pun demikian. Maklum, biasa orang bilang orang gunung udik laut.

Setelah bincang-bincang, lanjutkan jalan-jalan ke RT 03 dan RW 04. Mau ketemu mama Vince Mirino, cek penyakit yang sering dihadapi anak-anak di RT 03 dan RW 04 karena mama Mirino adalah kader.

Mama Mirino bercerita, anak-anak sekarang sudah lebih baik daripada satu atau dua tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, malaria tinggi, gizi buruk, bangka babi, dan lainnya. Tetapi, mama bilang masalah sekarang terjadi di lingkungannya. Banyak anak muda kawin dini, tetapi belum bisa urus anak, sehingga banyak anak mengalami stunting.

“Gara-gara kawin muda, dorang sibuk main Hp jadi tra urus anak pu sarapan pagi. Tra perhatikan kebersihan anak. Kasih tinggal anak main sampe malam. Itu masalah sekarang mama lihat di sini, jadi banyak anak yang stunting,” tuturnya sambil kami jalan melihat gambaran WC terbang di RT 03.

Kondisi rumah warga dan WC terbang di RT 03 RW 04 kelurahan Tampa Garam, distrik Maladumes, kota Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (21/3/2025). (Maria Baru – Suara Papua)

Untuk melihat WC terbang di RT 03, sa dengan mama izin numpang lewat satu rumah warga di sana. Sa turun tangga rumah, lalu jalan pelan karena kayu licin. WC-nya unik dan sangat sederhana. Jauh dari bayangan Otsus 20 tahun silam. Ada di atas kali. Pantas disebut WC terbang atau WC gantung. Pup-nya langsung turun di kali. Dinding pondok WC dari karung putih bekas semen atau lainnya. Tiang-tiang WC dari kayu dan tempat duduk untuk Pup dan mandi dari papan. Sebelahnya, ada WC terbang juga, tetapi dindingnya dari tenda biru. Depannya ada WC terbang juga, dindingnya sebagian karung putih dan sebagian tripleks.

Lanjut lagi wawancara dengan Esron Kayoi, RT pertama sejak tahun 2005. Ia pun bercerita, masalah serius di RT-nya adalah WC. Kata Esron, dari wali kota ganti wali kota, WC di situ tetap WC terbang, bukan WC pot atau WS standar.

Ia berharap, masalah ini menjadi perhatian serius dari wali kota terpilih di ibu kota provinsi Papua Barat Daya dan gubernur baru Papua Barat Daya.

Baca Juga:  Bupati dan Wakil Bupati Tambrauw Dilantik Presiden, Ini Harapan Kepala Distrik Fef

“Wali kota ganti wali kota juga kami di sini, WC tetap WC terbang. Itu kata tren, biasa masyarakat sebut WC terbang. Tinja dari WC gantung melayang-layang lalu turun ke kali. Kami minta pemerintah perhatikan masalah ini dengan serius. Dari dulu WC tetap masih seperti ini. Jadi mohon bapak wali kota baru bisa perhatikan. Kalo wali kota lama perhatikan itu pasti WC sudah bagus. Gubernur baru bisa perhatikan. WC saja begini, apalagi SDM,” tutur mantan RT.

Kerinduan yang sama dikemukakan Arnes Horota, ketua RT 03 RW 04 kelurahan Tampa Garam, distrik Maladumes, kota Sorong.

Di wilayahnya ada 49 KK. Itu yang sudah miliki kartu keluarga (KK). Masih ada tujuh KK belum buat KK.

Menurut Arnes, closet kurang standar berdampak pada gizi buruk dan stunting terhadap anak-anak. RT-nya pernah terjadi tiga kasus gizi buruk terhadap anak. Dua anak tertolong, dan satunya meninggal dunia.

Kasus malaria pun sangat tinggi. Bersyukur, sekarang sudah berkurang karena ada program pemerintah. Tiga bulan sekali ada pemeriksaan darah dan diberi obat.

Sejak menjadi RT tahun 2011 hingga 2025, ia selalu menyampaikan persoalan sosial yang dihadapi warganya. WC adalah salah satunya. Kata Arnes, sering data masyarakat diambil, tetapi belum ada realisasi di masyarakat.

“Begitu ada kegiatan pemerintah, sa selalu teriakan. Kalo pemerintah yang ingat pasti tahu. Apa daya masyarakat yang belum bisa jangkau WC standar. Semua ini nelayan. Pendapatan tra menentu. Kadang dapat ikan ya cuma untuk makan. Jual juga sedikit, hanya cukup untuk beli kebutuhan dalam rumah,” tutur pak Horota.

Salah satu WC gantung bentuk pondok kecil berdinding seng karat di RT 05 dan RW 03 kelurahan Tampa Garam, distrik Maladumes, kota Sorong di bagian pesisir laut. BAB langsung turun ke air laut, Senin (17/3/2025). (Maria Baru – Suara Papua)

Katanya, jika air laut naik, anak-anak di RT 03 suka mandi. Ketika air laut surut, anak-anak bersama orang tua mencari keraka atau kepiting dan ikan untuk dikonsumsi.

Di RT-nya hanya ada empat rumah sudah memiliki CW standar, sedangkan lainnya masih menggunakan WC terbang atau gantung.

Baca Juga:  Bupati Tambrauw Tegaskan Akan Berkantor di Fef, Tidak di Sorong

Suryani Kayoi bercerita ketika air laut meti atau surut, WC gantung di rumahnya menjadi sasaran untuk mandi dan buang air besar (BAB) oleh warga lainnya. WC gantung di rumahnya di bawah kali, sehingga ketika air laut turun, semua orang lari ke rumahnya.

Kalo air meti, kitong bikin antri panjang di sini [untuk BAB]. Air meti pagi berarti semua lari antri di sini. WC gantung di sini dekat kali. Biasa masyarakat lain bisa lari ke mama di sebelah. Jadi dua WC jadi sasaran kalo air laut meti atau surut. Kitong baku tunggu. Tra mungkin dong BAB di rumah sana karena tempat kering, trada air dan nanti bau,” cerita Suryani kepada Suara Papua, Jumat (21/3/2025).

Salah satu gambaran WC terbang, BAB langsung terjun ke kali Rufei di RT 03 Rw 04 kelurahan Tampa Garam, distrik Maladumes, kota Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (21/3/2025). (Maria Baru – Suara Papua)

Muhammad Zainal dari UNICEF, dalam paparan materi kepada 20 jurnalis yang mengikuti lokakarya peningkatan krisis iklim, keamanan air, dan hak anak yang diselenggarakan secara daring oleh AJI Indonesia dan UNICEF, perilaku masyarakat di atas termasuk perilaku buang air besar sembarangan (BABS).

Kata Zainal, ada dua jenis BABS. Yakni, BABS terbuka dan tertutup.

Menurutnya, BABS terbuka adalah mengacu pada praktik buang air besar di ladang, hutan, badan air atau ruang terbuka lainnya karena tidak memiliki toilet. Sedangkan BABS tertutup adalah menggunakan toilet dengan kondisi kloset non leher angsa, kloset leher angsa dengan lubang tanah dan toilet yang pembuangan akhir tinjanya langsung ke kali, sungai, laut, dan ladang, kebun, dan lainnya.

“BABS merupakan perilaku yang merendahkan martabat dan resiko terhadap gizi anak-anak dan kesehatan masyarakat,” jelas Zainal.

Dalam observasi Suara Papua, baru dua RT dan RW yang diambil data. Sejujurnya masih ada RT dan RW lainnya yang mempunyai masalah serupa. RT dan RW tersebut tak jauh, masih dalam satu lingkup distrik dan kelurahan yang sama.

Kondisi WC yang sangat tak layak masih menjadi masalah serius di kota Sorong. Masih banyak warga masyarakat yang BABS secara terbuka dan tertutup. []

Artikel sebelumnyaSeluruh Tanah Papua Perlu Ada Sekolah Adat
Artikel berikutnyaKebijakan Populis Bupati Dogiyai Menghormati Pangan Lokal Diapresiasi