Kisah Para “Mantri Belanda”

0
1728
Dr. Jac. Sj. de Vries, direktur rumah sakit Zending di Hollandia, dan di bantu mantri Mandosir di ruang bedah.
Oleh; Andy Tagihuma)*
 

Mantri Belanda, begitulah orang Papua mengingat dan menyimpan memori tentang kisah para mantri dari zaman Belanda di Papua.

Pendidikan saat itu memungkinkan mantri memiliki skil dan kemampuan melakukan kerja medis yang sangat baik.

Dr. Jac. Sj. de Vries, direktur rumah sakit Zending (Dok II) di Hollandia (Jayapura), sering di bantu mantri Mandosir di ruang bedah. Mantri Mandosir karena skil dan kemampuannya, ia kerap di panggil dokter.
 
Sonny Maniagasi memiliki pengalaman di rawat oleh Alm mantri Rumbiak. Suatu hari pergelangan tangan Sonny kena kaca jendela yang tidak terpasang dengan kuat, kaca merobek separuh tangannya hingga urat dan nadinya putus.
 
Sonny di larikan ke rumah sakit Abe, mendengar Sonny masuk rumah sakit, mantri Rumbiak yang saat itu sudah pensiun segera ke rumah sakit Abe, di rumah sakit Rumbiak mengatakan “Anak saya yang sakit, jadi biar saya tangani”. Petugas yang mengenal Rumbiak menyiapkan peralatan dan mantri Rumbiak mulai bekerja.
 
Urat yang putus di sambung, nadi di sambung dengan pipet sedotan minuman, dan luka di jahit luar dalam. Ketika sembuh, sama sekali tidak tampak bekas jahitan, hanya terlihat bekas goresan luka.
 
Mantri Rumere yang bertugas di rumah sakit Wamena punya kisah lain lagi, suatu hari ada pasien yang akan di operasi. beberapa Dokter telah siap untuk melakukan operasi, tetapi mereka menunggu mantri Rumere untuk anastesi.
 
Saat sebelum operasi karena lapar, Rumere pulang untuk makan. Seorang dokter segera menuju rumah mantri Rumere yang tidak jauh dari rumah sakit.
 
Sampai di rumah Rumere, dokter itu menyampailan maksudnya, mantri Rumere merasa terganggu karena belum selesai makan, ia marah dan mengatakan “Kalian yang sekolah dokter, saya ini hanya mantri, masa kamu tunggu mantri untuk melakukan operasi!”
 
Mantri Rumateray yang bertugas di Wamena sering bercerita, ketika bertugas ke pelosok kampung sering membawa bensin yang di masukkan dalam tabung-tabung kecil. Bensin tersebut bukan untuk menghidupkan genset atau untuk motor, tetapi untuk mendeteksi penyakit cacingan pada anak. Ketika tiba di kampung sempel tinja di ambil dan di masukkan dalam tabung, telur cacing akan terlihat mengambang, maka anak tersebut segera di beri obat cacingan.
 
Patiatta dan Pangkali punya kisah yang juga unik, Pangkali mantri yang menemukan salah satu jenis nyamuk di Papua, ia kemudian di berikan penghargaan oleh Ratu Belanda. Patiiata dalam sebuah seminar menjelaskan jenis-jenis dan perilaku nyamuk (cara terbang, pesebaran hingga jarak nyamuk bisa “mendeteksi” manusia).
 
Di akhir seminar, pemateri menanyakan ke Patiatta ia belajar di mana dan siapa gurunya. Ia menyebutkan nama gurunya saat dulu belajar di Hollandia. Pemateri itu kaget dan mengatakan guru tersebut adalah dosennya saat ia kuliah S3 di kampus di Belanda.
Nieuw Guinea Koerier (04/07/59) memberitakan di bulan April 1959, rumah sakit Zending menerima 27 perawat yang lulus tes, mereka antara lain, J. Kreutha, M. Imbenay, L. Mandosir, C. Wakum, F. Pariaribo, J Inaury, O. Mferes, H. Soindemi, A. Burkopioper, Z. Takajey, H. Rumakewi, E. Kapitarau, E. Wambrauw, F. Renwarin, A. Lawalata, H. Wursok, J Kadmurubun, B Rumainum,  A. Kabiai, A Jekbat, A. Maai, W. Rann, A. koromari, A. Rumbrawar, dan M Wattimena.
 
Mantri Belanda selalu tersimpan dalam memori dan cerita-cerita lisan. Mereka memiliki dedikasi dan “kemampuan lebih” untuk melayani masyarakat di pelosok Papua.
 

Foto; Arsip koleksi Rijksvoorlichtingsdienst Eigen

)* Penulis adalah pengelola rubrik Jendela Papua di Suara Papua