ArsipKepala Suku dan Tokoh Agama di Wamena Tolak Pembangunan Markas Brimob

Kepala Suku dan Tokoh Agama di Wamena Tolak Pembangunan Markas Brimob

Kamis 2015-01-29 17:01:15

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Rencana pembangunan Markas Brimob di Kabupaten Jayawijaya, Wamena, Papua, sebelumnya telah mendapatkan penolakan keras dari mahasiswa dan tokoh pemuda di Jayapura, kali ini ditolak tokoh agama dan adat di Wamena.

Kepala Suku Welesi, Markus Lanny mengungkapkan, pembangunan Markas Brimob di Distrik Woma, tidak perlu dilakukan, karena situasi di Jayawijaya akan baik-baik saja tanpa kehadiran Mako Brimob yang justru dapat memberikan manfaat negatif. 

 

“Saya Kepala Suku Daerah Jagara Welesi, atas nama suku Lanny-Tapo dan Matuan, saya dengan tegas menolak pembangunan markas Brimob di Jayawijaya,” tegas Lanny, saat jumpa pers di Wamena, Rabu (28/1/2015).

 

Dikatakan, sejak perang suku tahun 1983 hingga saat ini, daerah Welesi, Wouma dan Assolokobal sudah aman dan tidak ada lagi kekacauan atau perang suku. (Baca: Theo Hesegem: Tidak Perlu Lagi Hadirkan Brimob di Jayawijaya!).

“Kenapa sekarang orang bilang perang suku terus dan menjadi alasan untuk bangun markas Brimob disitu, padahal situasi Jayawijaya aman-aman saja.”

 

"Perang itu bukan sembarang tempat, ada tempatnya untuk perang dan perang beberapa waktu lalu itu hanya karena orang mabuk, bukan perang sesungguhnya,” kata Markus.

“Perang itu tempatnya di honai adat dan saya juga lihat sekarang orang yang pegang itu sudah tidak ada,” katanya lagi. (Baca: Mahasiswa Jayawijaya Tolak Pembangunan Mako Brimob di Wamena).

 

Bentuk penolakannya, menurutnya, ia juga tidak hadir dalam pertemuan dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan beberapa waktu lalu terkait rencana pembangunan Markas Brimob.

 

Ia juga mengatakan, pemerintah Jayawijaya harus bisa membedakan dengan baik apa yang disebut perang suku, sebab tak semua kekacauan itu perang suku.

Sementara itu, Koordinator Lembaga Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Wilayah Pegunungan Tengah Papua, Pater Theo Kosay, OFM mengatakan, ia sebagai putra Jayawijaya memiliki prinsip yang sama, yakni menolak rencana pembangunan markas Brimob di Jayawijaya.

 

Menurut Pater Theo, secara pribadi ia sangat mendukung aksi penolakan yang dilakukan oleh mahasiswa di Jayapura dan apa yang disampaikan Markus Lanny untuk menolak pembangunan markas Brimob di Jayawijaya.

 

Dijelaskan, selain pernyataan sikap yang disampaikan di media, pihaknya akan berkoordinasi untuk melakukan aksi damai menolak dengan tegas rencana pembangunan markas Brimob tersebut. (Baca: Honai Resort Wamena Akan Dijadikan Asrama Kompi Brimob Sementara).

 

“Saya secara pribadi menolak pembangunan markas Brimob, kalau disini ada perang antara negara Jayawijaya dan Negara Jayapura boleh, tapi di sini aman-aman saja, jadi sudah cukup to ada tentara dan polisi,” kata Pater Theo.

 

Tambahnya, Pemda perlu melihat kebijakan-kebijakan yang diambil, terutama kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil, dimana pemerintah ditempatkan oleh Tuhan untuk melayani masyarakat kecil.

“Melayani dengan hati dan tangan terbuka, bukan memerintah gaya otoriter kayak orde lama dulu,” ungkap Pastor pertama asal Wamena ini.

 

Editor: Oktovianus Pogau
 

ELISA SEKENYAP

Terkini

Populer Minggu Ini:

Freeport dan Kejahatan Ekosida di Wilayah Suku Amungme dan Suku Mimikawee...

0
Ekosida adalah merusak lingkungan dan memusnahkan manusia secara bersamaan khususnya pada wilayah yang mengalami kemiskinan. Ekosida dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang menimbulkan berbagai masalah sosial, budaya dan kesehatan manusia di sekitar lingkungan tersebut. Masyarakat yang terkena dampak ekosida dapat mengalami krisis ekonomi akibat kehilangan sumber daya ekonomi dan pekerjaan. Ekosida juga dapat menimbulkan penyakit yang mematikan pada tubuh manusia dan mengubah budaya serta mengurangi keeratan interaksi sosial antarwarga.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.