ArsipKadepa: Lapangan Karel Gobay Sebaiknya Tak Digunakan Sebagai Tempat Upacara Bendera

Kadepa: Lapangan Karel Gobay Sebaiknya Tak Digunakan Sebagai Tempat Upacara Bendera

Minggu 2015-08-16 08:20:26

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Laurenzius Kadepa, mendukung penolakan masyarakat Paniai untuk tidak menggelar upacara bendera pada Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-70, di Lapangan Karel Gobay, Enarotali, Paniai, Papua.

“Kasus Paniai berdarah yang menewaskan empat siswa di lapangan Karel Gobay adalah sebuah pelanggaran HAM berat, dan kini sudah sembilan bulan, tetapi belum ada tanda-tanda penyelesaiannya,” kata Kadepa, kepada suarapapua.com, Minggu (16/8/2015).

 

Menurut Kadepa, wajar dan bisa dimaklumi jika keluarga korban menolak digelarnya upacara bendera di lapangan Karel Gobay, Enarotali, karena keempat siswa yang tewas pada 8 Desember 2014 lalu dikuburkan tepat di tengah lapangan tersebut.

 

“Saat ini terkesan negara diam, padahal keluarga korban sangat menantikan suatu keadilan dalam pengungkapan siapa pelaku dan yang bertanggungjawab atas peristiwa itu.”

 

“Saya sangat setuju kalau keluarga korban tak mau ikut upacara 17 Agustus dengan alasan kasus Paniai masih belum terungkap, termasuk menolak menggunakan lapangan Karel Gobay, karena semua itu kita harus lihat dari kaca mata kemanusiaan,” tegasnya.

 

Menurut Kadepa, tindakan brutal aparat TNI dan Polri sudah melukai hati keluarga korban, bahkan warga Paniai, juga rakyat Papua pada umumnya, karena itu harus segera mendapat perhatian dari masyarakat internasional.

 

“Presiden Jokowi saat merayakan Natal di Papua mengatakan akan menuntaskan kasus Paniai berdarah, dan menyampaikan permohonan maaf, namun sampai saat ini kami heran karena pelaku penembakan keempat siswa ini belum juga terungkap,” ujar Kadepa.

 

Sekedar diketahui, HUT Republik Indonesia yang ke-70 besok, aparat TNI dan Polri, serta pemerintah daerah berencana menggunakan lapangan Karel Gobay sebagai tempat dilangsungkan upacara bendera.

 

“Yang kami heran upacara digelar di lapangan yang ada kuburan empat siswa yang ditembak mati beberapa waktu lalu, ini yang tidak masuk akal dan tidak boleh, kasus penembakan keempat siswa ini harus diungkap dulu,” kata Kadepa.

 

Sekedar diketahui, keempat siswa yang ditembak mati oleh aparat TNI dan Polri, pada Desember 2014 lalu adalah, Alpius Youw (17), Yulian Yeimo (17), Simon Degei (18), dan Alpius Gobai (17).

 

Saat itu, keluarga korban dan masyarakat Paniai bersekapat untuk menguburkan jenazah keempat siswa tersebut di lapangan karel Gobay sambil menanti pengungkapan kasus tersebut.

 

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Wajib Jaga Hutan Sumber Kehidupan Marga Moifilit dan Kalapain

0
“Orang tua kami dari kedua marga berpesan agar kami melindungi wilayah adat kami dari ancaman perusahaan serta menjaga hutan dan tanah warisan nenek moyang kami,” tegas Asna Moifilit.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.