ArsipYusak Pakage Diteror Dengan Bangkai Kucing

Yusak Pakage Diteror Dengan Bangkai Kucing

Selasa 2012-04-24 11:12:30

Kronologis teror dan ancaman yang dimaksud Pakage adalah, pada hari Sabtu (21/4), disekitar rumah tempat tinggalnya tercium bau bangkai, namun dirinya bersama keluarga enggan mencari sumber bau tersebut.

Kemudian, pada hari Minggu (22/4) pagi, bersama teman-teman sempat mencari sumber bau yang semakin menyengat hidung.

 “Kami menemukan bangkai seekor kucing di dekat tempat tidur saya. Sepulang ibadah, kami memindahkan bau bangkai tersebut ke tempat lain,” kata Pakage.

Ironisnya, lanjut dia, seketika mencium bau bangkai tersebut, dirinya merasa sesak napas, sakit kepala dan dadapun ikut sakit.

“Saya menduga bangkai kucing itu dibawah oleh orang-orang yang selama ini diindikasikan sebagai informan baret merah alias badang intelejen negara untuk meneror saya langsung,” kata pria berambut gimbal itu.

Karena merasa terancam, lanjut Pakage, kemarin 22 April 2012 dirinya sudah melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kepolisian di Polsek Abepura.

“Tetapi dari pihak kepolisian sendiri tidak ada respon terhadap laporan saya itu,” kata Pakage dengan kesal.

Pakage juga meminta agar oknum-oknum yang melaukan teror dan ancaman terhadap dirinya agar segera menghentikan perbuatannya.

“Segera hentikan cara-cara mengancam atau meneror aktivis di Papua, karena kami juga ingin hidup dengan aman,” kata Pakage.

Yusak Pakage adalah salah satu aktivis Papua yang pernah dipenjara karena mengkordinir penaikan bendera bintang kejora bersama aktivis Papua lainnya, Filep Karma di Papua pada 1 Desember 2004 di Jayapura, Papua.

ARNOLD BELAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Pemerintah Fiji Mempertahankan Pendiriannya Dalam Masalah Israel-Palestina di ICJ

0
Fiji prihatin bahwa kasus saat ini menjadi preseden bagi konflik-konflik lain yang sedang berlangsung yang mungkin akan diajukan ke Mahkamah, sehingga merusak integritas Mahkamah, demikian pernyataan tersebut.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.