BeritaEkonomiYapkema Gemakan Program Owaadaa di Meepago

Yapkema Gemakan Program Owaadaa di Meepago

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Semakin hancurnya sendi-sendi kehidupan masyarakat adat Papua terutama di wilayah Meepago, provinsi Papua Tengah, tak bisa dibantah lagi. Budaya kerja sudah tidak terlihat lagi selama beberapa tahun terakhir.

Mencermati kenyataan tersebut, Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Papua melancarkan satu kegiatan diskusi bersama masyarakat tiga kabupaten: Paniai, Dogiyai, dan Deiyai. Diskusi terfokus tentang pentingnya budaya kerja, bahwa Owaadaa sebagai satu gerakan yang dicanangkan Gereja Katolik diikuti Gereja Kingmi di Paniai, diharapkan terus dilanjutkan untuk menjawab tantangan modern.

Hanok Herison Pigai, direktur Yapkema Papua, mengatakan, focus group discussion (FGD) dilaksanakan di tiga kabupaten dengan harapan ada masukan dari para peserta maupun pemateri untuk dijadikan rujukan dalam pelaksanaan program selama tahun 2024 mendatang.

Baca Juga:  Pedagang Orang Asli Papua di Manokwari Harus Diperhatikan!

“Hari Sabtu kemarin FGD di Deiyai. Sebelumnya sudah kami lakukan kegiatan sama di Paniai pada tanggal 25 November 2023 di kantor Yapkema, Ugibutu, Enarotali. Kemudian di Dogiyai, kami adakan tanggal 28 November 2023 di ruang belajar Sekolah Kopi, Idakotu, Mowanemani,” jelas Hanok.

Setelah diskusi kelompok terfokus yang ketiga di Wakeitei, kabupaten Deiyai, 9 Desember 2023, kata Pigai, seluruh materi dan masukan dari FGD sangat penting karena akan dijadikan bahan untuk menyusun modul dan buku tentang Owaadaa.

“Salah satu output dari kegiatan ini yaitu terbitkan buku tentang Owaadaa.”

Baca Juga:  FAO Bareng Masyarakat Yoboi Tanam dan Kelola Sagu Sebagai Pangan Lokal

Lanjut Hanok, program Owaadaa dipilih Yapkema sebagai tanggung jawab minimal untuk berkontribusi mengatasi masalah penurunan kualitas hidup keluarga masyarakat adat Papua di wilayah adat Meepago yang secara administratif ada di provinsi Papua Tengah, khususnya di tiga kabupaten: Dogiyai, Deiyai, dan Paniai.

Owaadaa sangat penting karena telah melekat dalam kebudayaan masyarakat adat suku Mee. Konsep ini tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, yakni kebun dengan tanaman dan ternak, memanfaatkan pekarangan rumah secara maksimal agar kebutuhan pangan keluarga tercukupi secara mandiri,” tuturnya.

Baca Juga:  KLHK dan Bappenas Kunjungi PTFI Pantau Reklamasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Untuk itu, imbuh Hanok, dalam FGD di tiga kabupaten diusung tema “Program Owaadaa untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga masyarakat adat Papua”.

Kegiatan FGD di Deiyai diadakan di kantor Klasis Tigi, Sabtu (9/12/2023). Dihadiri kepala kampung Watiyai, Komite Sekolah SD Negeri Watiyai, tokoh Gereja, tokoh perempuan, tokoh adat, tokoh pemuda, dan sejumlah stakeholder relevan lainnya. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Menteri Perempuan Fiji Lynda Tabuya Menyerukan Undang-Undang Online yang Lebih Kuat

0
"Dunia ini tidak adil dan sebagai perempuan dalam politik, kami menghadapi banyak ketidakadilan dan ketidakadilan. Namun saya pikir hal ini juga membuat kami lebih bertekad untuk berdiri dan didengar," tambahnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.