ArsipPecah-Belah dan Jajahlah Orang Papua

Pecah-Belah dan Jajahlah Orang Papua

Jumat 2014-10-17 17:02:15

Oleh: Fajar Somatua

 

Pecah-belah dan jajahlah. Dahulu, kata ini dipakai oleh kerajaan Belanda untuk menjajah negara Indonesia. Pecah-belah dan jajalah dalam bahasa Belanda biasa dikatakan Devide Et  Impera. Sejak tahun 1992, negara Indonesia terapkan cara-cara ini dengan kekuatan gelap maupun dengan kekuatan secara terang-terangan di tanah Papua.

Mungkin, pengaruh itu yang membuat para leluhur orang Papua yang telah gugur di medan pertempuran seperti; Tuan Yakop Prai dan kawan-kawannya terpecah, penyebabnya mungkin karena ada oknum orang Papua yang jadi ‘Yudas’ dan masuk dibarisan Yakop Prai dengan kekuatan gelap, sehingga mereka bisa terpecah-belah.

Mungkin juga, para leluhur lainnya yang telah jatuh di medan pertempuran seperti Thom Wanggai, Arnold Ap, Kelly Kwalik, Wilem Zonggonau, Theys Eluai, Agus Alua, Mako Tabuni dan Otto Onawame, serta orang Papua lainnya yang tidak sempat saya tulis, mungkin merupakan permainan oknum-oknum orang Papua yang jadi Yudas, lalu mengunakan kekuatan gelap dan menghabiskan para pejuang bangsa Papua.

 

Setelah mereka meninggal, kebanyakan dari mereka diketahui, meninggal karena strok, serangan jantung, diculik, dibunuh, ditikam, mati tiba-tiba, ditembak dan lain sebagainya.

 

Ini semua mungkin mereka lakukan dengan mengunakan kekuatan gelap, lalu dieksekusi lewat makanan, minuman, uang, rokok dan lain sebagainya.

Kekuatan gelap itu juga yang mungkin ciptakan Biak berdarah, Abepura berdarah. Tidak berhenti sampai disitu, seseringkali, mereka juga menjadi provokator dan membuat aksi-aksi damai yang digelar oleh orang Papua menjadi anarkis.

 

Juga menciptakan konflik horizontal. Contohnya, seperti perang suku yang terjadi di Timika, di Ilaga, Puncak Papua, perang suku dan pernang antar marga di Intan Jaya.

 

Selain itu, orang Papua jadi pemabuk, orang Papua kurus tanpa sebab lalu meninggal, orang Papua baku tikam, melakukan perbuatan zinah, dan terjadi masalah.

 

Yang lebih gila lagi adalah memecah belah persatuan dan kesatuan orang Papua dengan saling ejek; ko dari gunung dan ko Pantai, ko dari sana, saya asli dan ko pendatang dan berbagai kejadian di tanah Papua ini mungkin di atur oleh karena ada kekuatan gelap.

 

Sementara, kekuatan secara terang-terangan itu seperti penembakan di mana-mana. Setelah mereka sudah pecah-belah orang Papua, melalui dua kekuatan itu, maka mereka jajah orang Papua di berbagai bidang kehidupan. Seperti yang saat ini orang Papua ada rasakan.

Dari tahun 2014 ke atas manusia Papua musti hati-hati dan waspada, entah itu di pasar, di kampus, di sekolah, di asrama, di rumah-rumah, di tempat-tempat keramaian, di jalan, di tempat-tempat hiburan, di tempat peknik, di pelabuhan, di kantor dan juga di gereja.

 

Karena kita tidak bisa lihat kekuatan penyembah berhala atau kekuatan roh jahat yang mereka ada pegang dan mereka ada gunakan  itu . Mana mungkin, kita manusia mau lihat dengan mata kepala atau mana mungkin kita mau tahu, tentunya gelap karena memang itu adalah kekuatan gelap.

Hati-hati dan waspada, karena oknum-oknum yang mengunakan kekuatan roh jahat ada di tengah-tengah kita, entah itu dia orang Papua maupun bukan orang Papua. Ciri-cirinya mereka yang ada kekuatan gelap adalah mereka selalu mengejek sesamanya.

Lihat injil Yudas 1:18, sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman, akan tampil pengejek-pengejek yang  akan hidup menuruti hawa nafsu dan kefasikan mereka”. Mereka adalah pemecah-belah orang Papua yang dikuasasi hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.

Orang-orang yang memegang dan mengunakan kekuatan gelap itu, berada tidak jauh dari lingkungan hidup kita. Mereka berbaur dengan kita. Istilah yang tepat untuk mereka adalah serigala dan hati mereka penuh segala jenis kotoran.

 

Lihat injil Matius 23: 24-28, "Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, Nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi Unta yang di dalamnya kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan."

Mereka akan lakukan upaya-upaya, untuk menghabiskan orang Papua dengan berbagai cara. Upaya-upaya yang mereka akan lakukan saat ini, mungkin di bidang pemerintahan, seperti di pemilihan bupati, pemilihan DPR serta di bidang birokrasi pemerintahan, LSM dan mungkin juga gereja.

Contoh kasus; konflik perang suku di puncak, Ilaga itu mungkin permainan dari oknum-oknum orang Papua yang jadi Yudas dan mengunakan kekuatan gelap/roh jahat  dan menciptakan konflik perang suku itu.

 

Dan juga kenapa tuan Lambert Pekikir bisa menyerah, ini juga mungkin kekuatan gelap/roh jahat  itu yang memutar balikan otaknya.

 

Dan masih banyak upaya-upaya yang mereka akan lakukan, namun saat ini upaya-upaya mereka akan di halanggi, oleh Tuhan sang pencipta alam semesta dengan badai belerang-nya, topan-nya dan berbagai cara, sesuai dengan perbuatan mereka masing-masing.

 

Oleh sebab itu, kini saatnya orang Papua mengasihi musuh kita dengan memanjatkan doa-doa, kepada Tuhan yang menjadikan langit dan bumi serta memberi nafas kepada manusia, hewan dan segala jenis makluk yang ada di muka bumi ini.

 

Lihat injil Lukas 6: 27-28, Tetapi kepada kamu yang mendengarkan aku, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”.

 

Jika kita mengasihi musuh kita, maka arwah-arwah para moyang, leluhur, para pejuang yang telah mendahului kita, serta orang Papua yang sudah mendahului kita akan bangkit untuk mengejar setiap orang yang telah menghabiskan nyawa mereka. 

 

Karena, arwah-arwah orang Papua itu dibunuh secara paksa, maka arwah-arwah itu sedang melayang-layang dan sudah mulai mengejar setiap orang yang telah meng-ambil nyawa mereka. Maka orang Papua berdoalah kepada Tuhan Allah dan juga kepada moyang, leluhur, pejuang Papua serta berdoa juga kepada orang Papua yang telah mendahului kita.

Akhir kata; Biarkanlah… Mereka berbuat… Tetapi kita orang Papua jangan membalas kejahatan mereka, tetapi kita orang Papua saatnya harus tetap tekun berdoa untuk mereka, karena pembalasan lebih kejam dari pada perbuatan.

 

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial di Intan Jaya, Papua.

Terkini

Populer Minggu Ini:

PSBS Biak Pecahkan Sejarah: Laju ke Final Liga 2 Sekaligus Promosi...

0
“Sungguh luar biasa sore ini saya sangat bahagia menyaksikan pertandingan leg kedua yang berakhir dengan hasil positif,” ucap Mandenas.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.