ArsipIni Cerita Pejuang HAM Papua di Labuan Bajo, NTT

Ini Cerita Pejuang HAM Papua di Labuan Bajo, NTT

Minggu 2015-09-06 00:13:08

LABUAN BAJO, SUARAPAPUA.com — Pastor John Jonga, pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) dan peraih penghargaan Yap Thiam Hien 2009 menceritakan kisah-kisahnya dalam memperjuangkan HAM masyarakat asli Papua di hadapan ratusan siswa Seminari Yohanes Paulus II, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (3/9/2015) lalu.

Seperti dilansir dari Berita Satu, Minggu (6/9/2015), diskusinya dikemas dalam bentuk malam apresiasi dan refleksi HAM yang diselenggarakan oleh Rumah Baku Peduli Labuan Bajo.

 

Selain Pastor John Jonga, dua aktivis HAM Papua lainnya, Yuslan Bebo, anggota Majelis Rakyat Papua Barat dan Erna Mahuze, aktivis Perempuan Papua, menceritakan kegetirannya memperjuangkan hak-hak asasi masyarakat asli Papua.

 

Dalam diskusi yang dipandu oleh aktivis HAM, Sipri Padju Dale, Pastor John di hadapan siswa calon pastor itu menuturkan kisahnya selama memperjuangkan hak-hak asasi masyarakat Papua. Ia mengaku seringkali mengalami pengalaman yang mengancam hidupnya, baik itu hidup sebagai pastor, sebagai guru agama, sebagai aktivis dan pejuang HAM.

 

Oleh karena itu, ia berkomitmen menerimanya dengan kesadaran yang penuh bahwa hidup ini perlu berjuang untuk menyelamatkan yang lain.

 

Dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat asli Papua, Pastor John setiap hari selalu menderita bersama masyarakat Papua, berdialog, tidur bersama, dan makan bersama masyarakat Papua. Itulah yang dibuatnya selama memperjuangkan HAM di Tanah Papua.

 

Pastor John Jonga menjelaskan, hal yang mendorong ia untuk memperjuangkan hak masyarakat asli Papua adalah karena Yesus Kristus, karena iman, dan karena kepercayaan.

 

“Saya juga ikut berpihak pada masyarakat Papua untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak-haknya. Saya mengambil komitmen itu karena Yesus itu sendiri. Maka, saya mesti ceritakan semua ini kepada siswa seminari karena mungkin dari ratusan anak-anak seminari nantinya ada yang dipanggil ke Papua untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua,” ucapnya.

 

Menurut Pastor Jonga, selama memperjuangkan hak-hak masyarakat asli Papua, yang paling dominan ia tangani adalah masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perlakuan diskriminatif terhadap kaum perempuan. Di Papua, perempuan selalu identik dengan dapur, rawan selingkuh, emosional, dan dianggap kurang mampu.

 

“Stigma-stigma yang dibangun dan dikonstruksikan tersebut akhirnya berdampak pada ketidakadilan yang dirasakan oleh perempuan Papua pada semua sektor kehidupan, kekerasan, eksploitasi, marjinalisasi dan pelabelan negatif terhadap perempuan.”

 

“Sayangnya, di Papua perempuan menganggap tindak kekerasan dan perlakuan diskriminatif yang mereka alami sebagai sesuatu yang kodrati,” jelasnya.

 

Terhadap persoalan KDRT di Papua tersebut, Pastor Jonga merasa miris. Dalam pertemuan dengan berbagai kalangan di Kota Asmat, Papua, ia menyampaikan gagasan untuk mendirikan semacam forum perempuan di Asmat.

 

Forum tersebut akan melakukan advokasi atau pendampingan terhadap kepentingan perempuan sekaligus sebagai wadah pengembangan diri perempuan setempat.

 

“Setelah forum didirikan, banyak kaum perempuan di Asmat ingin bergabung. Dalam forum tersebut perempuan Asmat sepakat menamakan forum itu yakni “Akat Cepes”, yang artinya perempuan cantik dan cerdas,” tutur Pastor John.

 

Akibat gigihnya memperjuangkan hak-hak masyarakat asli Papua, seringkali ia menjadi incaran militer. Ia mengisahkan, suatu kali pernah ada anggota Kopassus yang mengancam akan mengubur dirinya hidup-hidup di dalam tanah 700 meter.

 

Meski mendapart ancaman tersebut, ia tidak gentar untuk terus melawan. Menurutnya, mana mungkin Kopassus tersebut akan mengubur dirinya sedalam itu. Hal tersebut justru menyemangatkan dirinya untuk terus memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua.

 

Selama berjuang di daerah perbatasan Papua dan Papua New Guinea, pihak militer di daerah perbatasan seringkali mencap ia sebagai Pastor Organisasi Papua Merdeka (OPM).

 

“Kenapa memang kalau saya disebut pastor OPM? OPM juga kan umat Katolik, jadi saya harus memberikan pelayanan kepada mereka serta hak orang Papua juga untuk memerdekakan diri,” ujarnya.

 

MIKAEL KUDIAI

Terkini

Populer Minggu Ini:

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.