ArsipPukul Mahasiswa, Bupati Intan Jaya Akan Dilaporkan ke Polda Papua

Pukul Mahasiswa, Bupati Intan Jaya Akan Dilaporkan ke Polda Papua

Sabtu 2015-09-12 00:24:52

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Dalam waktu dekat, mahasiswa asal Kabupaten Intan Jaya di kota studi Jayapura berencana melaporkan Bupati Kabupaten Intan Jaya, Natalis Tabuni, ke Kepolisian Daerah (Polda) Papua, terkait aksi pemukulan oleh sang Bupati bersama sejumlah bawahannya di Sugapa, Intan Jaya, Papua, beberapa waktu lalu.

“Kami saat ini sedang menyiapkan kronologis aksi pemukulan, termasuk sertakan foto-foto dan video aksi pemukulan yang dilakukan Bupati, dalam waktu dekat laporan Polisi akan dibuat,” tegas Melianus Duwitau, Wakil Ketua Ikatakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya (IPMI), kepada suarapapua.com, Sabtu (12/9/2015).

 

Menurut Duwitau, mahasiswa juga saat ini sedang melakukan konsultasi dengan penasehat hukum untuk melaporkan langsung aksi pemukulan yang dilakukan Bupati, karena tindakan Bupati sudah melanggar hukum.

 

“Beberapa mahasiswa bahkan dipukul oleh tangan Bupati sendiri, menurut kami cara-cara ini sangat tidak dewasa, apalagi beliau pimpinan daerah, kami hanya datang mau menyampaikan aspirasi, kenapa menggunakan cara-cara kekerasan seperti preman,” ujar Duwitau.

 

Dikatakan Duwitau, selain Bupati yang dilaporkan kepada Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Papua, beberapa anak buahnya, juga staf ahli dan sekretaris pribadi yang ikut melakukan pemukulan akan ikut dilaporkan, karena tindakan tersebut sudah diluar perikemanusiaan.

 

“Kami demo di Intan Jaya hanya menuntut penjelasan terkait beasiswa mahasiswa yang belum diberikan, kenapa Bupati dan anak buahnya langsung melakukan aksi kekerasan, apalagi sebelumnya Bupati memerintahkan Brimob untuk melakukan pemukulan terhadap puluhan mahasiswa yang demo.”

 

“Menurut kami, Bupati sangat tidak dewasa, padahal ini pertama kali dalam sejarah ada demo di Intan Jaya, tidak boleh Bupati memimpin dengan sistem otoriter, karena ini Negara hukum, maka kami akan laporkan kepada Polda Papua agar segera diproses,” tegas Duwitau.

 

Sebelumnya, seperti diberitakan media ini, Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni, memerintahkan anggota Brimob Polda Papua memukul belasan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Pelajar dan Mahasiswa Peduli Intan Jaya (GPMPI), saat aksi demonstrasi damai di Sugapa, Intan Jaya, Papua, Agustus 2015 lalu.

 

“Karena beasiswa belum diberikan, kami melakukan aksi demo damai pertama tanggal 17 Agustus 2015 sore di Bandara Soko Paki, tujuannya ingin meminta informasi, tetapi belum sempat demo, bupati sudah perintahkan Brimob untuk memukul kami,” kata salah satu mahasiswa Intan Jaya kepada suarapapua.com, Kamis (20/8/2015).

 

Menurut mahasiswa ini, aksi demo di Intan Jaya merupakan aksi lanjutan dari Jayapura, Papua, menuntut pemerintah daerah transparan dalam pemberian dana beasiswa bagi mahasiswa.

 

“Kami terus demo karena ada banyak mahasiswa Intan Jaya di seluruh Indonesia yang belum terima beasiswa, tetapi Bupati hadapi mahasiswanya dengan memerintahkan Brimob untuk menembak dan memukul mahasiswa secara brutal,” katanya.

 

Sementara itu, Ketua GPMPI, Victor Belau mengatakan, demo digelar agar pembangunan di Intan Jaya dapat berjalan dengan baik, termasuk memberikan apa yang menjadi hak mahasiswa Intan Jaya.

 

“Kami juga demo karena dengar Bupati mau masukan perusahaan pertambangan di Intan Jaya, kami larang hal ini karena harus ijin dulu dengan masyarakat pemilik hak ulayat,” tegasnya.

 

Menurut Belau, tanggal 17 Agustus 2015 usai upacara bendera, mahasiswa palang di bandar udara agar tak ada pejabat yang turun ke Nabire, termasuk Bupati Intan Jaya, agar dapat melakukan dialog dengan mahasiswa terkait persoalan-persoalan tersebut.

 

“Namun satu jam kemudian datanglah Brimob dan langsung mengeluarkan tembakan ke arah mahasiswa sebanyak lima kali, namun mahasiswa tidak kena tembakan karena menghindar dari peluru Brimob,” kata Belau. (Baca: Demo Tuntut Beasiswa, Bupati Intan Jaya Perintahkan Brimob Pukul Mahasiswa).

 

Karena Brimob emosi, lanjut Belau, pantat senjata digunakan untuk memukul mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi, dan banyak mahasiswa mengalami luka-luka ringan dan berat.

 

Keesokan harinya, Selasa 18 Agustus 2015, kata Belau, mahasiswa dari bandara Soko Paki mulai melakukan long march dengan sasaran aksi gedung Guest House Intan Jaya. Begitu tiba di depan jalan kediaman Bupati, salah satu pejabat meminta agar mahasiswa tidak melakukan aksi demonstrasi.

“Pak Piter Tabuni selaku Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Intan Jaya meminta kami datang besok harinya karena Bupati akan adakan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Umum di Wandoga, namun mahasiswa menolak,” katanya.

Namun saat negosiasi sedang dilangsungkan, ajudan Bupati keluar dari kediaman dan langsung kokang senjata, dan melakukan penembakan ke udara, dan bupati pun ikut keluar dan meminta mahasiswa untuk bubar.

 

“Bupati tiba-tiba menuju massa aksi dan memukul Nikanor Miagoni, Jhon Kobogau dan Rufinus Japugau. Brimob dan ajudan bupati juga terus mengeluarkan tembakan secara berulang kali untuk membubarkan massa aksi. Mahasiswa juga terus dipukul pakai pantat senjata sampai luka-luka,” kata Belau.

 

Di saat yang bersamaan, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, Piter Tabuni, Sekwan DPRD Neno Tabuni, Kabag Kesra, Titus Agimbau, dan Kepala Dinas Kependudukan mengambil batu dan melempar mahasiswa untuk membubarkan aksi tersebut.

 

Adapun nama-nama mahasiswa yang kena pukul oleh Brimob dan pejabat pemerintah daerah Intan Jaya di bandara Soko Paki dan depan jalan kediaman Bupati, yakni:

 

  1. Melianus Duwitau     : Memar di pipi dan tangan patah
  2. Tianus Bagau           : Tangan bengkak, pipi memar dan mulut darah
  3. Elias Mujijau             : Telinga darah dan kepala bengkak
  4. Fiki Belau                 : Testa pecah, rahang kiri-kanan bengkak dan kening pecah
  5. Raimun Ugipa           : Kepala bocor dan rahang kiri-kanan pecah.
  6. Amos Dendegau       : Tangan bengkok
  7. Benyamin Kobogau   : Gigi patah
  8. Merkias Tipagau       : Gigi dalam patah kedalam
  9. Deselinus Sani         : Gigi patah
  10. Nikanol Miagoni       : Otak belakang lecet dan kepala bocor tangan kiri kanan patah.
  11. Aten Japugau          : Telinga darah dan kepala darah.
  12. Dominikus Dendegau : Bibir pecah dan telinga robek.
  13. Daniel Hagimuni      : Rahang bengkak.
  14. Venus Sondegau     : Rahang kiri-kanan patah, gigi patah, pipi bengkak, dan tangan lecet.

 

“Kami akan terus meminta pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati untuk bertanggungjawab terhadap aksi pemukulan dan penganiayaan terhadap mahasiswa ini. Ini tindakan yang biadab dan tidak berperikemanusiaan,” ujar Belau.

 

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Menteri Perempuan Fiji Lynda Tabuya Menyerukan Undang-Undang Online yang Lebih Kuat

0
"Dunia ini tidak adil dan sebagai perempuan dalam politik, kami menghadapi banyak ketidakadilan dan ketidakadilan. Namun saya pikir hal ini juga membuat kami lebih bertekad untuk berdiri dan didengar," tambahnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.