ArsipKetua Dewan Militer TPN-PB, Richard Joweni Tutup Usia

Ketua Dewan Militer TPN-PB, Richard Joweni Tutup Usia

Minggu 2015-10-17 23:51:27

PORT MORESBY, SUARAPAPUA.com — Brigadir Jenderal (Brigjend) Richard Hans Uria Joweni, tokoh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) di wilayah utara Papua, telah tutup usia, pada 16 Oktober 2015, pukul 23.00 WIT, di Port Moresby, Papua Nugini, karena sakit penyakit yang dideritanya.

Menurut rekan-rekan korban, almarhum meninggal karena menderita komplikasi saluran pencernaan, dan telah menjalani perawatan intensif selama satu belakangan di rumah sakit.

 

“Selama 73 tahun hidupnya, almarhum telah mengabdikan diri demi memperjuangkan pembebasan Negeri dan Bangsa Papua Barat. Kiranya pengabdian almarhum dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi upaya-upaya pembebasan Negeri dan Bangsa Papua Barat,” tulis West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL), dalam akun Facebook, kemarin.

 

Almarhum merupakan ketua WPNCL, salah satu organisasi politik yang didirikan pada tahun 2008, dan berbasis di Port Villa, Vanuatu.

 

Ia juga menjabat sebagai ketua Dewan Militer Pembebasan Nasional Papua Barat, dan selama ini beroperasi di daerah wilayah pantai utara.

 

Di berbagai media sosial, aktivis dan tokoh Papua Merdeka menyampaikan belasungkawa, karena telah kehilangan seorang pejuang sejati yang mengabdikan hidupnya untuk pembebasan nasional Papua Barat.

 

Almarhum juga memberikan dukungan atas Unitied Liberation Movement for West Papua (ULMWP), organisasi induk perlawanan yang didirikan di Vanuatu, Desember 2014 silam. Ia juga menjabat sebaga dewan komite ULMWP. Selamat jalan gerilyawan sejati.

 

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Forum Peduli Demokrasi Kabupaten Yahukimo Desak Pemilu di Dekai Diulang

0
“Beberapa poin kami sudah serahkan kepada Bawaslu. Kami disarankan untuk lengkapi beberapa dokumen. Jadi, dokumen itu kami sudah siap dan akan antar ke Bawalu untuk ditindaklanjuti,” jelas Eklon Amohoso.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.