ArsipSambut Hari Kartini, BPPPAKB Nabire Gelar Penanaman Pohon

Sambut Hari Kartini, BPPPAKB Nabire Gelar Penanaman Pohon

Rabu 2016-04-20 10:48:04

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Dalam rangka sambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-137 RA. Kartini tahun 2016, Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BPPPAKB) Kabupaten Nabire, Organisasi Wanita GEW dan Persit Kartika Chandra Kirana melakukan penanaman pohon di sepanjang Jalan Merdeka.

“Kami tanam pohon Mahoni, pohon Tanjung dan pohon Rambutan sebanyak 150 pohon. Ini kami lakukan untuk memperingati hari Kartini ke-137,” kata kepala BPPPAKB kabupaten Nabire, Yufinia Mote, kepada suarapapua.com, Rabu (20/4/2016) di Nabire, Papua.

 

Menurut Mote, penanaman pohon itu dilakukan di sepanjang jalur hijau jalan Merdeka Nabire. Kegiatannya secara resmi dibuka oleh bupati Nabire, Isaias Douw,  Selasa pagi (19/4/2016) di halaman kantor BPPPAKB jalan Merdeka Nabire.

 

“Hampir setiap tahun kami adakan kegiatan yang berbeda-beda untuk peringati hari Kartini. Untuk tahun ini kami fokus untuk penanaman pohon,” imbuh Yufinia.

 

Sementara  itu, salah satu tokoh pemuda kabupaten Nabire, Vabianus Tebay mengatakan, kegiatan penanaman pohon ini baik dan pihaknya sangat mendukung.

 

“Kami dukung kegiatan ini karena membuat jalur hijau ini sangat penting supaya masyarakat Nabire bisa hirup udara yang segar. Dan bisa bikin kota Nabire jadi lebih hidup,” kata Tebai.

 

Menurutnya, lebih bagus lagi membuat kegiatan besar-besaran melibatkan masyarakat Nabire. Karena untuk menjaga dan menjadikan Nabire kota yang bersih, nyaman dan sehat itu kewajiban semua orang.

 

“Mudah-mudahan ke depan penanaman pohon dilakukan juga oleh instansi dan kelompok yang lain. Selain itu, ke depan bila BPPPAK Nabire selenggarakan kegiatan, saya harap supaya bisa melibatkan seluruh masyarakat di Nabire,” harap Vabianus.  

 

 

Editor: Arnold Belau

 

YOHANES KUAYO

Terkini

Populer Minggu Ini:

Referendum Vanuatu Berupaya Menanamkan Stabilitas Setelah Pemerintahan Terbuka

0
"Vanuatu memiliki sistem pemerintahan yang demokratis, tetapi ketika referendum berfokus pada penghapusan hak konstitusional seorang anggota Parlemen, apakah kita masih berada di negara demokrasi?" kata seorang pengguna bernama Peserta Anonim di grup Facebook Yumi Tok Tok Stret.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.