Aku Peluru Ketujuh

0
2427

Oleh: Topilus B. Tebai

MALAM masih mengepakkan sayapnya, menyelimuti kota tua di pantai utara Papua, kota Jayapura. Kota tua itu punya sejarah, menjadi saksi bisu atas serentetan peristiwa sejarah yang mengalir bagai air.

Subuh itu tepat pada hari Kamis. Udara sepi, tidak berseliweran sebagaimana biasa setiap pagi. Di Abepura, seputaran lingkaran Abe, Ekspo, Waena, semua jalanan masih sepi. Baru pukul 4 pagi. Begitu juga dengan kota Jayapura ini yang terletak tepat di bibir pantai utara.

Sentani juga begitu tenang. Ketenangan dan keheningan itu bertentangan dengan jiwa sebutir peluru yang sedang berlari kencang. Ia terus berlari, berlari dan berlari. Nafasnya tersendat-sendat.

Keringat bercucuran jatuh dari dahinya. Baju kumal yang ia kenakan telah basah bermandi keringat. Di sana, di tubuh peluru itu, ada percikan darah segar yang masih menempel, yang menjadi begitu cair kala berpadu dan berbaur dengan keringatnya yang kian deras. Ia telah jauh berlari.

Sementara itu, di komplek Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura, seorang imam sedang duduk di dalam ruangan. Temaram cahaya sebuah lilin berukuran besar menerangi ruangan itu. Pada dinding ruangan itu tampak beberapa lukisan rohani. Ada lukisan Tuhan Yesus. Bunda Maria. St. Fransiskus Assisi. Ada gambar Merpati, lambang Roh Kudus.

Pastor Johanannes Kegou sedang meditasi. Tangannya dengan ringan ia letakkan di atas kedua pahanya. Nafasnya teratur bahkan terlihat tidak bernafas, saking tenangnya. Di depannya, Alkitab telah terbuka. Hanya badannyalah ia di dalam ruangan itu.

Rohnya, jiwanya, sedang berpadu dalam alam sana, menimba banyak nilai dari alam nilai, menimba banyak kebijaksanaan dari alam kebijaksanaan. Menimba banyak ketenangan dari alam ketenangan, menimba banyak kesejukan untuk hati dari alam kesejukan.

Tiba-tiba, pastor kembali mengatur pernafasan. Sesaat kemudian, ia kembali bernafas normal, dengan mata tetap terpejam.

Sesaat setelah detik itu, terdengar derap kaki tergesa-gesa menaiki tangga rumah, dan di dalam ruangan itu, Pastor Kegou telah tersenyum menyambutnya, jauh sebelum pintu diketuk.

“Silahkan masuk Nak…”

Sesaat kemudian, pintu diketuk. Sekali lagi, Pastor Kegou mengulangi kata-katanya. Pintu perlahan terbuka, dan masuklah peluru itu.

Pastor Kegou mengamati tubuhnya. Nafasnya masih tersendat-sendat.

“Atur nafas anakku..”

“Maaf Pastor. Aku harus cepat mengatakan apa yang ingin aku sampaikan. Tolong lindungi aku Pastor. Mereka sedang mengejarku.”

“Siapa yang mengejarmu?”

Alis mata Pastor berkerut. Ia menatap sebutir peluru itu dalam-dalam, kemudian matanya berhenti pada noda darah yang tampaknya masih belum mencair dan hilang oleh keringat, lantaran telah membeku.

“Mengapa ada noda darah itu di tubuhmu?”

“Maaf Pastor. Justru karena itu aku melarikan diri kepada Pastor. Tolong lindungi aku.”

“Aku dipaksa melakukannya Pastor.” Dan kemudian, beruntun butir peluru itu menceritakan kisahnya hingga ia sampai pada Pastor.

Ini ceritanya:

Aku adalah sebuah peluru. Dibuat dari biji besi yang berada jauh di dalam tanah tempat kita tinggal ini, tepat di bawah gunung Salju, Erstberg.

Aku dikeruk oleh sebuah alat raksasa. Kemudian, aku dilebur di dalam sebuah wadah panas. Aku menjadi seperti lumpur. Setelah menjadi seperti lumpur, aku dialirkan melalui sebuah pipa, hingga aku sadar, aku sedang berada pada sebuah kapal raksasa.

Aku adalah biji besi dari tanah ini. Kapal itu membawaku dalam bentuk bubur, seperti lumpur. Kemudian aku tiba di sana, di sebuah kota yang tidak aku kenal. Aku dengar, orang-orang berkulit merah mengatakan, tanah itu Amerika. Ya, aku ingat, itu Amerika Serikat.

Aku telah tiba di Amerika Serikat.

Aku tidak tahu berapa hari kami berlayar. Aku tidak mengenal siang dan malam di dalam kapal, karena aku diberi penerang, dan diatur temperatur suhunya, tak dapat bergerak, dan tidak dapat melarikan diri, kecuali pasrah.

Kemudian, sesaat setelah aku tiba di pelabuhan yang paling ramai itu, aku kemudian dibawa menggunakan truk raksasa. Dari sebuah pabrik raksasa, aku diolah.

Banyak campuran yang tidak aku ketahui namanya telah bercampur bersamaku, hingga aku sadar, dan semakin sadar, kalau tubuhku tidak lagi seperti bubur, tetapi menjadi lebih cair.

Kami dipisahkan. Kebetulan, aku dibawa, dan dituangkan ke tempat pembuatan peluru. Semua alat bekerja otomatis. Tidak kulihat seorang manusia pun di sana. Hanya beberapa orang. Kemudian aku sadar, bahwa aku telah dibuat menjadi sebutir peluru.

Sampai pada saat itu, aku hanya mampu menangis. Aku sadar, aku dibuat untuk menerjang, menembusi dada lawan. Tugasku adalah membuat orang yang diperintahkan padaku untuk ditembusi, aku tembusi, hingga mati. Aku sadar, dan telah menjadi kebiasaan kami para peluru, bahwa menjadi kebanggaan kami, bila kami berhasil menembusi dada lawan. Tapi itu tidak untukku.

Aku dikemasi, diberi label. Kemudian aku dimasukkan ke dalam sebuah ruangan besar. Aku kemudian bertemu dengan banyak teman-temanku, para peluru.

Baru aku tahu dari percakapan beberapa orang, bahwa aku sedang dalam kapal, dikirim ke Indonesia. Indonesia, nama yang asing bagiku. Entah sebuah kota, barangkali sebuah tempat perang, itu pikirku.

Sampai pada pelabuhan Tanjung Priok, aku diturunkan. Bersamaku turun pula teman-teman biji besi dari Papua yang kini telah dibuat menjadi peluru, senjata, dan beberapa alat perang lainnya.

Untuk enam bulan pertama, aku masih dapat bernafas lega, karena aku masih aman di dalam gudang senjata pusat TNI. Pada hari pertama, habis lepas bulan keenam, aku dibawa menuju pelabuhan.

Besertaku, banyak juga prajurit serta. Ketika aku ketahui kapal yang aku tumpangi menuju Papua, sungguh, aku bangga. Aku senang. Aku kembali ke tanah airku.

Tetapi bila aku tahu sedari awal apa yang bakal terjadi saat ini, lebih baik bagiku untuk bunuh diri, lompat dari kapal ke dalam laut saja waktu itu. Akh, tapi tak tahu hari esok. Yang aku tahu, adalah rangkaian saat ini-saat ini, yang terus membentuk masa lalu, dan harapan akan hari esok yang aku buat. Itu saja.

Aku kemudian dimasukkan ke dalam senjata seorang tentara. Sekitar satu bulan aku berada di dalam senjata itu. Beberapa peluru pertama telah keluar, dilesakkan, entah mengenai siapa, aku tidak tahu, karena saat itu, aku masih di dalam senjata.

Aku tak dapat melihat jelas. Yang jelas, semua dilesakkan dari tanah Papua, tanah asalku. Tanah tempat aku terbentuk, jauh di dasar gunung Salju, Erstberg.

Baru pada waktu itu, beberapa peluru terdepan ditembakkan. Tibalah giliranku ditembakkan. Sebagai peluru, aku bersiap menerjang apa saja yang menjadi tujuan bidikan tuanku, tentara itu.

Dari corong lubang tempat keluarnya peluru, aku melihat. Di atas tanah, seorang lelaki Papua telah berkalang tanah.

“Tuhan Yesus,” suaraku tertahan…. “Itu Musa Mako Tabuni!”

“Tidakkkkkk……” pekikku dengan air mata menetes.

Aku ingat pada ibuku. Ketika kecil, ketika aku masih bersama ibuku, tepat pada saat-saat terakhir kami bersama sebelum kami dipisah-paksa dari perut bumi Papua, dengan cucuran air mata, aku lihat dan dengar dengan mata telingaku sendiri, ibuku berdoa memohon kekuatan dan berkat bagi orang yang bernama Musa Mako Tabuni ini.

Dalam doa ibuku pula, aku dengar, ia pejuang tanah dan bangsa yang hidup di atas tanah tempat kami tinggal.

Juga, dari ruangan militer itu, telah kulihat foto orang yang menjadi target tembak, ia disebut Musa Mako Tabuni. Ketika para tentara berbicara, kau tatap dalam-dalam wajah orang yang bernama Musa Mako Tabuni itu.

Aku lahap wajahnya, hingga lekukan kecil, bahkan guratan kecilpun aku hafal dari mukanya. Ia pahlawanku, begitu kuat aku berkata dalam hati. Aku diam-diam menghormatinya: sang pahlawan!

Kini, di depanku, orang itu kaku tak berdaya diberondong 6 peluru terdahulu.

“Dooooorrr……….”
Dan aku dilesakkan menembusinya pula?

Aku tahu, aku dilepas lurus juga ke jantung Mako. Dalam waktu satu per sekian detik itu, Pastor, aku membatin, berpikir, “Haruskah aku menembusi orang yang telah kaku, meninggal ditembusi 6 peluru ini? Pantaskah aku menembusi jantung orang yang oleh ibuku malah didoakan dengan tangisan dan air mata, yang disebut Ibuku pahlawan kami?”

“Pantaskah aku menembusi tubuh kakunya, memaksa darah bekunya mengalir? Haruskah aku menembusi jantung anak negeri Papua sendiri?”

“Tidaaaakkkkk……..”

Aku memekik.

Semua kaget mendengar pekikanku itu. Aku lantas membelokkan tubuh, lari jauh ke arah lain, tidak jadi menembusi Tuan Mako.

Ketika dari bukit kecil itu aku menoleh, ada sepasukan TNI mengejarku, aku lantas berlari dan bersembunyi di seputaran Bukit Skyland. Di sana, di bawah akar pohon, aku bersembunyi. Tiga malam aku disana. Malam ini, aku merasa sedikit lebih aman, dan aku datang mencari perlindungan di sini.

***

Pastor Kegou melumat butir peluru itu dengan tatapannya. Kemudian, ia menarik nafas panjang, dan menunduk.

“Berarti, kamu satu-satunya saksi mata yang mampu mengatakan yang sebenarnya dari rentetan tragedi pembunuhan Mako Tabuni. Dan hanya kamulah yang kini menjadi target mereka untuk menghilangkan jejak.”

“Iya. Akulah peluru ketujuh yang dilesakkan tepat ke arah jantung Mako Tabuni. Akulah saksi mata, dan aku ingin bersaksi atas semuanya itu. Dan karena itulah, aku datang kepadamu Pastor. Aku butuh perlindunganmu.”

Pastor Kegou diam tanpa bicara, sambil muka berkerut, dengan jarinya terus memainkan jenggot keriting pendek yang kini mulai putih dimakan usia, ia terus diam membatin. [END]

 

Print Friendly, PDF & Email