CerpenAkhir Pekan Bersama “Perempuan Penyembah Malaikat”

Akhir Pekan Bersama “Perempuan Penyembah Malaikat”

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Satu lagi karya sastra hadir mengisi ruang baca publik. Kumpulan cerita pendek (Cerpen) yang baru saja diterbitkan segera menyapa warga penikmat karya sastra.

Sore ceriah di taman Wokimanor dijejali ratusan orang. Datang dari berbagai penjuru kota Nabire, beberapa diantaranya bahkan “turun” dari pedalaman: Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Mereka hendak menghadiri acara diskusi dan bedah buku cerpen terbaru karya Topilus Bastian Tebai.

Sembari menikmati hembusan angin Teluk Cenderawasih, Sabtu (3/2/2024) sore, hadir tiga pembedah cerpen berjudul “Perempuan Penyembah Malaikat”. Masing-masing Theresia F. Tekege (Penulis dan jurnalis perempuan Papua), Felix Degei (Akademisi dan pegiat literasi khusus Orang Asli Papua), dan Markus You (Pemimpin Redaksi Suara Papua).

“Selamat datang saudara-saudari sekalian. Mari merapat. Sedikit lagi kita mulai acaranya,” begitu Arnoldus Douw, ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Dogiyai, sembari mempersilahkan ambil tempat duduk.

“Ini kesempatan baik bagi kita untuk diskusikan kumpulan cerpen karya Topilus Bastian Tebai. Ada rasa penasaran dengan judul cerpennya, kita akan tahu setelah dibedah dan lebih lengkap lagi setelah baca langsung isinya,” demikian Hengky Yeimo, ketua umum Komunitas Sastra Papua (Ko’Sapa), mengawali pembukaan diskusi.

Buku terbaru ini berisi kumpulan cerpen karya Topilus Bastian Tebai. Ini buku ketiga kumpulan cerpen karya anak muda Papua asal Dogiyai ini. Diantaranya: Aku Peluru Ketujuh (GPM dan Ko’Sapa, 2017), Nemangkawi (Matoa dan Patugana, 2020), juga buku kumpulan cerita rakyat Dogiyai berjudul “Amoye Melawan Anak Raja Iblis (Ikan Paus, 2022).

Topilus Bastian Tebai, penulis produktif. Kini hari-hari mengajar di SMA Negeri 1 Dogiyai, Bomomani, Mapia. Sempat mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP YPPK St. Fransiskus Assisi Moanemani. Sebelumnya ia wartawan di Majalah Selangkah dan Suara Papua, juga penulis lepas di sejumlah media.

Buku cerpen “Perempuan Penyembah Malaikat” karya Topilus Bastian Tebai, diterbitkan Desember 2023. (Ist)

Hargai Perempuan

Sekira Pukul 18.15 WIT, diskusi dan bedah buku dimulai.

Dimoderatori Arnoldus Douw, Theresia F. Tekege diberi kesempatan pertama membedah isi buku cerpen tersebut.

Theresia melihat buku ini dari judulnya agak penasaran. Setelah dibaca, ia simpulkan, judul ini diambil dari semua cerita dalam buku yang fokus menguraikan tentang perempuan.

“Dari setiap cerita, suka duka, kehidupan, yang diawali dengan doa. Kita lihat di bagian tujuh, di sana bercerita tentang perempuan yang selalu bercermin. Di samping dia ada gambar malaikat Santo Mikael. Perempuan itu selalu bercermin dan berdoa sebelum beraktivitas.”

Di bagian pertama mengisahkan seorang anak yang kuliah di Jawa. Bapaknya harus jual tanah untuk biaya pengobatan anaknya yang sakit di Yogyakarta. Biayanya Rp40 juta. Setelah tanah dijual, uangnya kirim ke Yogyakarta, lantas anaknya tak terselamatkan. Ia rugi dua kali lipat.

“Pelajaran dari cerita pertama ini, di sisi lain, mengingatkan kita tentang pentingnya kesehatan. Generasi muda harus menjaga kesehatan tubuh.”

Tekege lanjut ke cerita kedua di cerpen ini, lagi-lagi tentang perempuan. Seorang gadis dibesarkan ayah dan ibu tirinya. Kerap dinomorduakan, perempuan itu juga tidak terima kasih sayang secara penuh dari ibu tiri. Tetapi pada akhirnya justru dibanggakan oleh keluarga, bapaknya, ketimbang dua saudara pria.

Karena punya keterampilan berkebun, justru memberikan kehidupan keluarganya. Termasuk menjamin suami, dan orang tuanya.

Si gadis itu selalu mengawalinya dengan doa. Juga mendapatkan jodoh yang dapat membagi peran untuk pekerjaan yang selama ini dikerjakan sendiri.

Secara diam-diam si laki-laki mengerjakan pagar yang roboh dan menggantikan yang rapuh. Itu bikin kejut dia. Juga dikagetkan keberadaan di rumah. Gadis itu diminang dengan syarat yang diberikan: terima saya secara adat, agama, dan punya rumah, ternak. Lelaki itu menyanggupinya.

Permintaan terakhir: tidak membedakan anak laki-laki dan perempuan. Lelaki itu pun sependapat.

“Saya mau bilang bahwa sudah saatnya hargai dan hormati perempuan. Apa lagi perempuan, juga seorang penulis. Sebab seorang penulis akan goreskan penanya dengan penuh perhatian, mengelola konflik dengan melibatkan perasaan. Sehingga mari kita sama-sama mendorong semua perempuan yang tergerak untuk menulis, menghargai karya-karyanya.”

Kata Theresia, “Sampai saat ini banyak perempuan yang menulis di media dan menulis buku. Penulis novel terbanyak asal Papua juga seorang perempuan, tidak lain kaka Aprilia Wayar.”

Cerpen Terbaik

“Saya akan membedah dari dua perspektif. Pertama, pengantar pegiat khusus orang asli. Pada prinsipnya bebas, silahkan berkarya dengan cara yang kita bisa. Dengan apa pun,” kata Felix Degei mengaku dihubungi penulis cerpen pada Selasa malam melalui pesan WhatsApp untuk menjadi pembedah.

Felix kemudian menyandingkan kebudayaan beberapa masyarakat tradisional di dunia.

“Dalam kehidupan suku Aborigin, mereka biasa mengekspresikan dengan apapun yang mereka rasa bisa, tentang apa yang mereka alami. Di Selandia Baru, suku Maori, mengekspresikan dengan cara oral. Sama juga dengan Indian. Lalu Jepang, mereka suka ekspresikan dengan musik instrumen,” tuturnya.

Baginya, buku yang sedang dibedah ini, penulis berusaha ekspresikan tentang apa yang ia lihat, alami dan rasakan, lewat karya non fiksi atau cerpen.

“Kelebihan dari cerpen ini adalah karya fisik tentu terhindar dari perlakuan represif, ketimbang karya ilmiah,” kata Felix.

Degei menyebutkan, pedoman penulisan cerpen menurut Balai Bahasa Indonesia mencatat tujuh kriteria untuk cerpen terbaik.

“Tujuh hal itu semua telah dipenuhi oleh Topilus Bastian Tebai.”

Baca Juga:  Yayasan PNG Memfasilitasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Dogiyai

Hal itu menurutnya terlihat dari ciri-cirinya dalam suatu karya cerpen terbaik. Antara lain: 1) Singkat dibaca; 2) Ceritanya tunggal; 3) waktu, latar, tempat, tidak jelas; 4) Tidak bertele-tele. Contoh: Lelaki Pemberani; 5) Kajiannya khusus; 6) Sumbernya fiktif; dan 7) Semua cerpen kurang dari 10.000 kata.

“Karya-karya cerpen Bastian Tebai telah terpenuhi unsur-unsur itu. Saya sudah baca dan sebagai akademisi telah amati setiap cerpen yang ada dalam buku ini.”

Dari tema: pertama, tentang sosial, bagaimana hubungan manusia dengan manusia lainnya, tentang komunikasi, dan seterusnya, kemudian tentang jasmani, ketuhanan, keegoisan, dan lain-lain.

Kemudian, gaya bahasanya setara.

Dari struktur cerpen, pertama, orientasi: bagian awal diceritakan tentang latar cerita, maksud, dan capaiannya. Kedua, tentang kompleksitas permasalahannya. Ketiga, resolusi: jalan keluarnnya apa? Bagaimana endingnya dan apa yang bisa diambil untuk perbaikan kehidupan selanjutnya.

Berdasarkan struktur ini, kata Felix, penulis cerpen telah memenuhi struktur ini.

Dari judul, secara akademis, ada dua hal yang perlu dibahas secara intensif.

Pertama, banyak orang mengira buku ini tentang perempuan, karena judulnya seperti itu. Padahal tidak. Pembahasan mengundang banyak unsur: tentang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lainnya. Kedua, tidak menjelaskan endingnya di awal.

Kedua, isinya tidak terlalu panjang. Semua cerpen dalam buku ini kurang dari 10 ribu kata.

Ketiga, judulnya menggambarkan keseluruhan isi.

“Kritikan saya, cerpen ini tidak hanya menceritakan tentang perempuan. Orang melihat judul, kemudian menyimpulkan bahwa ini cerita tentang perempuan dan diharuskan perempuan bicara. Atau tentang perempuan yang dekat dengan malaikat. Padahal tidak. Beberapa hal yang dibahas, soal patrilinear, suka-duka hidup, dan realitas sosial,” Felix membedah.

Keempat, judulnya harus bikin kepo, dan mewakili semua isi cerpen.

Kelima, isinya tidak berbau suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Tidak menjatuhkan orang atau kelompok lain.

“Oleh karena itu, saya mau bilang bahwa jangan membeli buku karena lihat cover. Lihat dulu dong isinya.  Dengan begitu, kita tidak salah menyimpulkan isi buku,” kata Degei.

Kritikan berikut dari Felix, judulnya anomali itu bagus. Perubahan sikap, perilaku, karakter dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, itu bagus. Ketimbang judul buku diwakili oleh judul salah satu cerpen.

Kemudian, penggunaan bahasa, ada satu karya yang penulis menggunakan dialek Papua. Boleh saja menggunakan dialek Papua, bahasa yang baku, atau bahasa daerah.

“Bagus bila sejak karya pertama sudah menggunakan bahasa yang baku, tidak mengecualikan satu karya pun di dalam buku ini.”

Diskusi dan bedah buku cerpen “Perempuan Penyembah Malaikat” karya Topilus Bastian Tebai, Sabtu (3/2/2024) sore di taman Wokimanor, Nabire, Papua Tengah. (Dok. Ko’Sapa for Suara Papua)

Bangkit Angkat Pena

“Saya tidak membahas banyak hal dari buku cerpen ini. Tetapi saya mau memberikan apresiasi terhadap karya sastra dari Bastian Tebai. Dia penulis paling keren. Lihai memfokuskan isi cerita. Dan, satu lagi, dia profuktif dalam kepenulisan. Cara merangkainya hingga menjadi cerita menarik itu patut dijempoli,” demikian Markus You mengawali pembicaraan.

Markus mengaku Bastian muncul sejak masih di SMA Adhi Luhur Nabire. Saat itu ia bagian dari Majalah Selangkah.

“Cara menulis karya fiksi ini, untuk anak Papua, sangat layak diakui. Gaya dan ciri khas tersendiri masih dipertahankan, bahkan berkembang jauh lebih bagus.”

Bastian selepas SMA dan lanjut kuliah di Yogyakarta, masih aktif menulis, mengedit berita dan tulisan. Selama kuliah semakin berkembang dengan aktivitas menulis.

“Salah satu ciri khas yang terlihat di media Majalah Selangkah itu cerpen. Dan, cerpen itu biasanya karya Bastian Tebai yang rutin mengisi satu rubrik di sana.”

Pun, setelah bergabung dengan Suara Papua. Beberapa kali Bastian Tebai menulis cerpen. Selain berita dan artikel opini.

“Maka, tidak salah kalau kemudian dia menerbitkan buku. Saya lihat dia punya kemampuan untuk itu. Setelah buku ini, saya yakin dia akan terbitkan buku berikut. Ya, bagus. Sebab tentu manfaatnya juga banyak. Selain mudah dimiliki dan disimpan, buku-buku itu akan akan menjadi bahan referensi buat anak cucu kita di masa mendatang,” katanya lebih lanjut.

Oleh karena besar manfaatnya, Markus di hadapan peserta diskusi yang sebagian besar generasi muda Papua mengajak untuk berusaha menulis. Tak dibatasi, menulis tentang apa saja. Ceritakan apa saja dengan apa adanya. Tentang apa yang ada di depan mata, di ingatan, tentang kisah atau sejarah, dan lain-lain.

“Menjadi penulis seperti Bastian Tebai, tentu harus melewati proses yang panjang. Tidak bisa satu kali langsung bisa. Pastinya jatuh bangun dulu, dan pada saatnya yakin akan bisa, bisa hasilkan tulisan bagus, artikel ataupun cerpen, dan lain-lain. Jadi, mari terus menulis setiap ada waktu. Manfaatkan apa pun media yang ada. Tidak perlu minder. Tidak perlu merasa kurang atau takut dikritik dan sebagainya. Semua perasaan itu dibuang jauh-jauh kalau mau berkembang,” tuturnya memotivasi.

Karya kita hari ini, kata Markus, akan menjadi bahan bacaan atau referensi bagi generasi berikut. Bahkan itu dijadikan bahan pelajaran anak cucu di masa mendatang.

“Menulis sesuatu tidak perlu dahulukan pikiran negatif. Dengan kesadaran, konsisten, terus berlatih menulis, pada akhirnya akan jadi juga. Tidak perlu pikirkan uang untuk biaya penerbitan. Tulis saja dulu. Pelan-pelan akan ada solusi. Yakin itu. Dan satu hal lagi, motivasi menulis harus muncul dari diri pribadi. Tidak karena dipaksakan orang lain.”

Baca Juga:  MRP Sesalkan Pernyataan Ismail Asso dan Mendukung Proses Hukum

Anak negeri sebagai generasi penerus masa depan Papua ditantang untuk berkarya lewat apa saja. Menulis artikel, cerpen, puisi, prosa, dan sebagainya, sudah harus dimulai anak negeri.

“Kita masih ada dibawah bayang-bayang kekuasaan yang penuh tekanan, hanya lewat karya sastra, lagu, dan sejenisnya saja bisa mengungkapkan isi hati, suara hati rakyat, mengekspresikan keluh kesah masyarakat.”

Hanya dengan karya-karya itulah yang akan abadi selamanya. Anak cucu akan terbantu untuk melihat kembali situasi tahun-tahun sebelumnya lewat karya-karya pendahulu. Maka, kita punya beban moril itu berkarya dan tinggalkan bagi generasi penerus.

“Sehingga tantangan kita hari ini, generasi kita hari ini adalah berkarya. Karya yang bermanfaat untuk banyak orang di kemudian hari,” kata mantan wartawan Jubi itu.

Membaca isi buku cerpen ini, setiap tulisan dihasilkan tidak dalam satu waktu. Penulis menyusunnya di waktu berbeda. Tetapi secara umum, semua karya di cerpen ini saling singkron antara satu cerita dengan cerita berikutnya.

“Menulisnya tidak harus satu kali langsung semua selesai. Tidak. Itu tidak mungkin. Semua tulisan di cerpen ini pastinya ditulis dalam waktu terpisah. Bukan semuanya ditulis satu kali.”

Dengan memanfaatkan waktu luang, menulis satu cerita. Bila tak sampai tuntas, biarkan, beri waktu jeda. Ada waktu lagi bisa lanjutkan. Cari suasana baru, lalu ceritanya dirangkai kembali.

“Menulis cerpen itu bebas. Dan cerpen itu fiksi, jelas akan terhindar dari represif langsung. Sangat sulit menemukan alasan-alasan khusus untuk membatasi buku-buku fiksi. Itu berbeda dengan karya ilmiah, buku-buku ilmiah.”

Hadirnya buku fiksi karya Topilus Bastian Tebai memacu generasi muda untuk bersemangat menulis.

“Dengan adanya buku ini semoga ada satu dua orang lagi akan muncul mengikuti jejak Bastian Tebai,” harapnya.

Anak negeri sendiri harus mengawalnya. Sebab tak bisa berharap ke orang lain mengangkat cerita kita. Itu tak mungkin. Jikapun bisa saja terjadi, hasilnya tentu versi mereka yang tak bakal menjawab harapan orang Papua. Lantas itu bikin kita protes karena anggap tak sesuai fakta dan lain-lain, atau melukai perasaan orang Papua. Agar hal macam itu tak terulang, solusinya anak negeri sendiri harus menulisnya. Menulis apa saja. Menulis tentang Papua.

Masih banyak cerita yang bisa diolah anak muda Papua. Sumbernya banyak, bisa dari cerita dongeng (tetaa), cerita rakyat, dan lain sebagainya. Itu bisa dijadikan karya luar biasa bila ditulis dengan rapi.

“Orang Papua lekat dengan budaya lisan atau budaya bicara. Sudah seharusnya budaya menulis digenjot terus menerus. Angkat pena untuk menulis apa yang kita lihat, alami dan dirasakan orang Papua. Sudah waktunya anak muda harus merasa ditantang untuk memulainya. Jangan menunggu waktu. Hadirnya kumpulan cerpen “Perempuan Penyembah Malaikat” dan karya sastra lainnya wajib dijadikan pemicu kebangkitan orang Papua menulis. Hari ini menulis untuk hari besok, hari-hari mendatang,” tandasnya.

Baku Dukung

Selepas tiga narasumber berbicara, moderator buka ruang diskusi. Sejumlah orang angkat tangan. Setiap sesi dibatasi tiga penanya.

Di sesi pertama, Lince Kegou bertanya, “Apakah dukungan yang didapatkan oleh perempuan dalam dunia menulis sama dengan laki-laki atau tidak? Lalu, situasinya bagaimana? Seperti apa?”

Penanya kedua, Mis Murib, pengelola Komunitas Korowa Membaca (Ko’Membaca), ucapkan terima kasih atas kesempatan bagus mendiskusikan isi buku cerpen ini.

Murib minta ke Felix Degei, “Apa pesan buat kami kaitannya dengan diskusi kita saat ini?”

Setelahnya, Amison Pigome, penanya ketiga, “Mengapa sampai dikatakan perempuan penyembah malaikat, tetapi salah pilih jodoh?”

Theresia lebih dulu merespons para penanya, menyebut dari perspektif umum, sampai hari ini laki-laki masih mendominasi dalam banyak aspek, bahkan mendapatkan keuntungan dalam urusan publik.

“Ketika perempuan berkarya dalam dunia menulis, tentu banyak batasan. Mulai dari relasi, selalu ada batasan. Apa lagi berkeluarga, tantangan untuk seorang jurnalis sangat besar.”

Lanjut Tekege, “Karena jurnalis harus beraktivitas lebih banyak di luar rumah, dan membutuhkan waktu untuk meliput berita, mengelola data, menulisnya hingga menjadi satu tulisan, dan seterusnya. Kalau mendapatkan dukungan, saya pikir pasti ada, selama saya berkarir di dunia jurnalistik. Tetapi secara umum dominasi laki-laki selalu ada dalam urusan-urusan tertentu. Dukungan itu berupa motivasi, karya kami dihargai dengan mempublikasinya, melibatkan kami dalam pelatihan, dan sebagainya.”

Tetapi, timpal Theresia, perempuan juga harus terbuka kepada orang lain, dengan keluarga, pasangan hidup, sehingga dengan begitu sedikit demi sedikit ada dukungan.

Felix Degei menjawab Lince Kegou, menyinggung perlakuan yang berbeda, persepsi yang sudah lama ada dalam budaya, terkesan sampai hari ini ada terutama terhadap perempuan. Meski ada kesetaraan gender.

“Tugas utama perempuan adalah meyakinkan. Laki-laki sebagai penerus gen, marga, itu sudah ada. Dan itu mempengaruhi peran perempuan dalam berkarya. Tetapi paling penting adalah menunjukan kepada dunia bahwa perempuan punya kemampuan, dan bisa berkarya, dengan keterampilan, dengan loyalitas, dengan setia, dengan begitu kita mendapatkan kepercayaan bahwa penghargaan terhadap manusia itu tidak dilihat dari gender, tetapi kemampuan dan kesetiannya dalam berkarya,” urai Felix.

“Untuk penanya kedua, saudara Mis Murib. Ya, ceritakanlah, suarakanlah, lukiskanlah dengan caramu sendiri, dengan memanfaatkan kemampuanmu. Itu menurut saya.”

Menjawab penanya ketiga, Felix menuturkan hal ini berkaitannya dengan kebiasaan. Secara psikologis, cara memberikan penilaian terhadap sesuatu, laki-laki selalu menggunakan pikiran. Sementara perempuan menggunakan perasaan.

Baca Juga:  Dari Hasil Jual Daun Singkong Hingga Raih Magister Pendidikan di UKSW

“Itu memang kondrati manusia. Perempuan selalu mengukur sesuatu pada kenyamanan. Tidak akan merasa nyaman pada sesuatu pemberian harapan palsu. Apa lagi yang ia terusik secara pikiran dan perasaan,” ujar Degei.

Sementara, Markus You lebih fokus menanggapi penanya pertama.

“Mengekspresikan sesuatu, mengekspresikan jiwa itu tidak dibatasi. Perempuan Papua yang memilih menjadi wartawaan itu cukup. Tidak ada larangan bagi perempuan. Mau jadi wartawan, penulis artikel, penulis lepas, dan sebagainya, perempuan juga boleh. Silakan. Anda bebas untuk melakukan, mengekpresikan kebebasan.”

Ia mencontohkan, media Suara Papua pernah merekrut tiga perempuan untuk menjadi jurnalis pada saat dibuka rekrutmen tahun 2019. Meski akhirnya hanya satu orang yang masih bertahan sampai saat ini, dua lainnya mengundurkan diri dengan masing-masing alasan.

“Perempuan tidak dibatasi dalam dunia menulis. Tetapi kembali kepada masing-masing orang. Mau memilih atau tidak. Jika memilih ke sana, ya tentu punya kemampuan mengelola emosi dan konflik dalam dirinya, dan permasalahan yang dipengaruhi dari lingkungan. Hanya itu saja.”

Satu hal lagi, khusus yang sudah berkeluarga, mesti mendukung pasangannya berkarir. Tidak membatasi apalagi melarang, hanya perlu diatur atau dibicarakan bersama sebab hasilnya juga dinikmatinya bersama.

“Tidak dukung, larang atau batasi aktivitas pasangan itu biasanya yang nomor satu terjadi karena suka cemburu. Gara-gara itu, keinginan berkarya dari pasangannya terpaksa putus. Itu sumber masalah. Pastinya berdampak pada kehilangan pekerjaan, terutama kawan-kawan yang terjun di dunia menulis, apa lagi jurnalis. Solusinya itu dari awal terbuka, dibicarakan bersama, pegang komitmen dan tahu diri. Itu saja. Cemburu dan cinta berubah jadi tinju, karate dan lain-lain, sudah pasti rumah tangga berantakan,” tuturnya.

Diskusi dan bedah buku cerpen “Perempuan Penyembah Malaikat” karya Topilus Bastian Tebai, Sabtu (3/2/2024) sore di taman Wokimanor, Nabire, Papua Tengah. (Dok. Ko’Sapa for Suara Papua)

Moderator buka sesi kedua. Lince Kegou lagi-lagi menyanggah jawaban pembicara.

“Uraian Theresia soal pembatasan laki-laki terhadap perempuan, dalam buku ini sudah diungkapkan. Dari pembedah kedua, sebagian besar perempuan menggunakan perasaan. Itu tidak sepenuhnya benar. Sebab menggunakan perasaan dan pikiran itu berlaku untuk perempuan dan laki-laki. Tergantung dua hal ini dipergunakan dalam kondisi apa, dimana, dan konteks persoalan apa? Sebab tidak selamanya, tidak selalu perempuan menggunakan perasaan,” pendapat Kegou.

Penanya kedua, Natalia Agapa menyetir dari deskripsi persoalan yang diuraikan dalam cerpen kedua, bagaimana caranya untuk bisa mengurangi penyakit sosial, seperti kebiasaan main togel berjam-jam, konsumsi minuman keras, dan penyakit sosial lainnya?.

“Untuk anak muda, lapak baca harus perbanyak, kalau bisa sampai di dalam komplek. Dengan begitu, kita bisa melihat dunia luar lewat buku-buku. Saya mengajak anak-anak muda harus bisa memulai dari sekarang. Harus dibudayakan. Itu untuk membentuk budaya baru, membatasi budaya lama, dan terhenti di generasi ini saja. Jangan lagi terwarisi kepada generasi berikut. Hal ini bisa kita lakukan dari kita sendiri,” kata Tekege.

Theresia juga berharap perlu dibuka kelas-kelas belajar untuk anak-anak. Itu sangat urgen dilakukan. Bisa diselingi dengan nonton bersama, cerita-cerita ataupun kegiatan produktif lainnya. Ini dimulai dari satu dua orang, dari komplek, dan seterusnya.

“Saya yakin ini hal yang sama-sama harus dipikirkan dan dilakukan untuk atasi persoalan penyakit sosial.”

Menurut Felix, penyakit sosial satu paket dengan pemekaran. Sebab, pemekaran memperdekat dengan akses publik. Ada juga pendekatan yang negatif ke masyarakat, generasi muda.

“Dampak-dampak negatif terjadi secara terstruktur, sistematis dan masif. Siapa aktornya? Kita tidak tahu.”

Kedua, kata Degei, melawan keinginan dari diri sendiri. Bagaimana hasrat dan keinginan lebih terkontrol penggunaannya untuk yang bemanfaat. Nah, orang Papua di wilayah adat Meepago mesti sadar dan kembali kepada filosifi hidup orang Mee yaitu “Dou, gai, ekowai, ewanai” agar itu dijadikan falsafah hidup, pandangan hidup, dan itu menjadi fondasi awal sebelum melangkah keluar rumah.

Pendapat berbeda disampaikan Markus You.

Menurutnya, “Terhadap persoalan penyakit sosial, paling kurang saya lakukan lebih duluan. Saya selalu hindari hal-hal itu. Tidak ikut main Togel, judi, dan lainnya. Jadi, saya lebih dulu harus memberi contoh kepada yang lain.”

Pertanyaannya, kenapa hal-hal itu masuk dan cepat berkembang hingga sulit diatasi? Bisa karena saling ajak masuk ke dunia yang sama, baik Togel, Narkoba, mabuk, dan seterusnya.

“Di Nabire ini, miras ada di mana-mana, togel juga sama. Kenapa? Ya, karena banyak pelaku di sana. Kalau tidak ada yang mau, tidak mungkin eksis,” tegas You.

Solusi berikut, waktu yang ada sebaiknya diluangkan bersama anak-anak untuk bermain-main. Juga ajak anak-anak di komplek.

Menyibukkan diri dengan aktivitas positif membawa manfaat positif bagi diri sendiri, juga keluarga maupun sesama di sekitarnya. Maka, perlu ambil peran penting secara bersama-sama dengan posisi masing-masing akan baik pada akhirnya.

Setiap anak negeri punya hak untuk berkarya, termasuk menjadi penulis, wartawan, penyanyi, pelukis, dan lain sebagainya. Tak lain, semua demi mempersembahkan yang terbaik bagi kehidupan bersama di negeri titipan Tuhan, Tanah Papua.

Sebagai informasi, kumpulan cerpen “Perempuan Penyembah Malaikat” diterbitkan Ko’Sapa bekerjasama dengan Sulur Pustaka. Buku setebal 101 halaman berisi 12 cerpen yang bersinggungan dengan kehidupan orang-orang Papua itu diterbitkan Desember 2023. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

MRP-PP Minta Penyelenggara Pemilu Berkomitmen Dukung Caleg Putra Daerah

0
"Karena itu, saya berharap buat komitmen dan berikan suara rakyat itu kepada yang punya komitmen untuk membangun Papua Pegunungan, meletakkan fondasi pembangunan. Bukan membeli jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu," ungkapnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.