Tanah PapuaDomberaiTolak ke Pasar Modern Rufei, Tuntut Bangun Pasar Mama-Mama Papua

Tolak ke Pasar Modern Rufei, Tuntut Bangun Pasar Mama-Mama Papua

SORONG, SUARAPAPUA.com — Para pedagang pasar Boswesen yang menolak pindah berjualan dari pasar modern Rufei sekaligus menuntut pasar khusus mama-mama Papua atau pasar tradisional Papua di lokasi pasar lama, pasar Boswesen, mengaku kehilangan sumber pendapatan sehari-hari.

Meski mama-mama pedagang sudah tiga bulan berjualan di ruas jalan jalan Surya, kelurahan Klabala, distrik Sorong kota, kota Sorong.

Di hadapan pemerintah distrik dan lurah, Selasa (18/4/2023) di kantor lurah Klabala, para pedagang menyatakan sikapnya tetap tidak akan berjualan dari pasar modern Rufei. Mereka mendesak pemerintah kota Sorong bersama provinsi untuk membangun pasar khusus bagi mama-mama Papua di lokasi pasar lama.

“Kami tidak mau. Kami tidak akan masuk berjualan di pasar modern. Kami minta pasar khusus mama-mama Papua atau pasar tradisional bagi mama-mama Papua. Bangun saja di pasar lama Boswesen. Keputusan kami dari awal tidak akan pernah berubah, dipaksa bagaimanapun tidak akan kami mau,” ujar mama Levina Dwith saat pertemuan dengan pemerintah distrik dan kelurahan.

Banyak kali digusur hingga dilarang paksa dan gedung pasar dibongkar, mama-mama pedagang di pasar Boswesen tetap tidak peduli. Jikapun harus berjualan dari tempat tidak layak, seperti sekarang di pinggir jalan raya Surya, hal itu semata-mata untuk menyambung hidup, melanjutkan tradisi berjualan.

Baca Juga:  KLHK dan Bappenas Kunjungi PTFI Pantau Reklamasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Terpaksa berjualan dari tempat tak layak, kata Levina, pemerintah harus buka mata melihat hal itu. Sebab, memaksa pindah berjualan dari pasar Rufei pun tidak mungkin menjawab persoalan. Apalagi keputusannya, mama-mama ngotot tidak mau ke pasar modern, sebaliknya menuntut pasar tradisional.

“Tidak mungkin berubah keputusan mama-mama pedagang. Daerah lain, seperti di Manokwari sudah ada pasar mama-mama Papua. Jadi, kami di Sorong juga harus ada pasar khusus mama-mama Papua. Kami tidak minta gedung yang mewah, cukup bangun gedung sederhana sesuai dengan gaya jualan kami agar barang cepat laku,” ujar mama Levina.

Yustinus Hosio, kepala distrik Sorong Kota, menjelaskan, ia bersama para kepala lurah mengundang mama-mama Papua untuk mendengarkan aspirasi para pedagang. Sesudahnya aspirasi tersebut akan dilanjutkan ke penjabat wali kota Sorong.

Baca Juga:  Pedagang Orang Asli Papua di Manokwari Harus Diperhatikan!

Hal itu menurutnya karena pihak distrik dan lurah merasa para pedagang berjualan di tempat yang kurang layak dan mengganggu aktivitas publik. Tetapi masih memberi kesempatan buat para pedagang untuk berjualan sambil mencari solusi bersama.

“Dari mama-mama kami mendengar aspirasinya. Selama ini mereka berjualan dari tempat tidak layak. Pas di tikungan, terus banyak debu, dan lainnya. Bahan-bahan mau dibelanja tidak nyaman bagi para pembeli. Mama-mama tidak bisa berjualan seperti itu. Sebaiknya ada tempat yang layak untuk bisa berjualan. Makanya, tadi kami pertemuan dengan mereka bahwa pemerintah menyediakan pasar modern Rufei,” tutur Hosio.

Sekalipun sudah diminta agar pindah tempat, ia akui mama-mama tetap ngotot dengan keputusan awal.

“Saat pertemuan tadi, kami sampaikan supaya pindah. Tetapi tidak mau. Mama-mama bicara tegas. Mereka tetap tolak. Tidak mau masuk ke pasar Rufei. Nah, untuk mengatasi hal begini, sebaiknya ada solusi terbaik. Menurut saya pribadi, memang perlu ada tempat khusus yang layak bagi mereka. Kasihan kalau harus berjualan di pinggir jalan. Banyak resiko kalau masi bertahan di samping Surya. Dan, kami kami pun tidak bisa kasih ijin lagi. Keputusannya ada di pimpinan. Kami hanya sampaikan ke atasan untuk ditindaklanjuti, bagaimana solusi terbaiknya bagi para pedagang yang menolak pindah itu,” jelas kepala distrik.

Baca Juga:  FAO Bareng Masyarakat Yoboi Tanam dan Kelola Sagu Sebagai Pangan Lokal

Selain ke penjabat wali kota, hal tersebut akan disampaikan juga ke dinas terkait, termasuk lembaga legislatif. Apalagi aspirasinya adalah meminta pasar khusus mama-mama Papua.

“Apa yang disampaikan mama-mama, akan kami lanjutkan ke penjabat wali kota dan pihak terkait. Salah satu aspirasi menarik yang disampaikan oleh koordinator adalah pasar mama-mama Papua. Kita punya mama-mama Papua sukanya berjualan sambil duduk. Mereka tidak mau di atas. Sekiranya pemerintah bisa ambil solusi, mungkin dengan melihat tanah kosong supaya bangun pasar trasional,” imbuh Yustinus.

Usai pertemuan, mama-mama pedagang menyatakan akan mengikuti apa kebijakan pemerintah daerah. Paling pokok, kebijakannya seturut aspirasi mereka yakni bangun sebuah pasar tradisional.

Pewarta: Maria Baru
Editor: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Mahasiswa Nduga se-Indonesia Sikapi Konflik Pemilu di Distrik Geselema

0
“Yang terjadi di lapangan ternyata prinsip-prinsip demokrasi tidak berjalan baik sesuai dengan harapan masyarakat Nduga. Seperti terjadi dalam pesta demokrasi berupa pemilihan presiden dan wakil presiden maupun pemilihan legislatif (DPR RI, DPD RI, DPRP, dan DPRK). Proses pemilihannya berubah jadi konflik. Situasi kabupaten Nduga tidak kondusif karena terjadi perang keluarga bertepatan dengan Pemilu serentak pada tanggal 14 Februari 2024 yang mana saat perhitungan suara dari distrik Geselema, dari hasil pemungutan suara salah satu caleg dari PSI unggul dibandingkan caleg dari partai Golkar,” bebernya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.