Mahasiswa Nabire Tak Pernah Diperhatikan

1
0

NABIRE, SUARAPAPUA.com — “Pemerintah Kabupaten Nabire dibawah kepemimpinan Isaias Douw selama kurang lebih enam tahun, tidak realisasikan dana pendidikan bagi mahasiswa asal kabupaten ini. Keluhan demi keluhan selalu disampaikan, tetapi tidak pernah direspon.”

Demikian diungkapkan Demi Nawipa, aktivis peduli pendidikan di Papua, kepada media ini, akhir pekan lalu.

“Bupati Nabire seharusnya tidak terus melupakan tanggung jawabnya terhadap kebutuhan mahasiswa-mahasiswi asal Kabupaten Nabire dalam hal pembagian dana pendidikan (tugas akhir) dan pemondokan di kota studi,” tuturnya.

- Event -
Festival Film Papua

Ia membeberkan fakta semenjak Isaias Douw menjabat sebagai bupati Nabire, tidak melihat kesusahan dari putra-putri asal Nabire yang lagi mengenyam pendidikan di berbagai kota studi di Indonesia. Hal itu menurutnya berbeda dengan kepedulian bupati sebelumnya.

“Jangankan dana pendidikan, untuk perbaiki bangunan asrama yang sudah rusak saja tidak pernah ada. Bupati tidak boleh lupa. Itu tanggung jawab pemerintah daerah,” ujar Demi.

Salah satu contohnya, sebut dia, Asrama Putri Gamei di Manokwari, provinsi Papua Barat. “Asrama Gamei tidak bisa dihuni lagi akibat bencana alam beberapa bulan lalu. Sekarang asrama itu sedang dibangun oleh Pemda Puncak Papua. Bupati Willem Wandik yang ambil kendali, bukan Bupati Nabire,” tandasnya.

Demi  mempertanyakan, “Bupati sedang kemana? Heran, asrama putri Nabire malah diperbaiki oleh Pemda lain. Bukankah itu aset yang harus diperhatikan Pemda Nabire?”.

Dari data yang ada, kata Nawipa, Asrama Putri Gamei adalah salah satu asrama tertua di Manokwari. Asrama itu dibangun di masa A.P Youw menjabat sebagai Bupati Nabire beberapa tahun lalu.

“Adanya asrama Gamei sangat membantu mahasiswa. Selama beberapa tahun telah digunakan oleh semua mahasiswa yang berasal dari wilayah adat Meepago sebelum ada pemekaran,” jelasnya.

Demi menduga nasib yang sama dialami seluruh mahasiswa asal Nabire di seantero tanah air. “Yang di Papua saja tidak dilihat, apalagi yang di luar sana. Pasti dong tidak diingat.”

Untuk itu, pemerintah diminta tidak lupakan mahasiswa asal Nabire yang merupakan generasi penerus bangsa.

“Kalau pemerintah daerah terus bersikap demikian, bagaimana kita mau cetak sumber daya manusia (SDM) yang layak dan berkompeten? Kasihan, mahasiswa Nabire di semua kota studi sudah sekian tahun benar-benar dilupakan,” tandas Demi.

Sebelumnya, mahasiswa asal Nabire di Manado dan Gorontalo, Sulawesi Utara, mengeluhkan dana pendidikan dan pemondokan yang belum direalisasikan seperti Pemda lain di Papua.

“Teman-teman dari kabupaten lain sudah dapat bantuan tugas akhir dan pemondokan. Tetapi kami yang asal Nabire belum. Kapan Pemda Nabire mau datang? Dari dulu kami begini terus, Pemda lupakan kami. Bupati adakah tidak di Nabire?” tutur salah satu mahasiswa Nabire di Gorontalo.

Dilansir dari Nabire.net edisi 21 Oktober 2016, Pemda Nabire pada tahun anggaran 2016 alokasikan dana Rp10 Miliar untuk membantu mahasiswa semester akhir. Bulan April lalu tim telah mendatangi kota studi. Tim bertatap muka dengan mahasiswa sekaligus validasi data. Sedianya dana akan disalurkan bulan Mei setelah ada rekomendasi dari Bupati, tetapi hingga kini belum.

Pewarta: Stevanus Yogi
Editor: Mary Monireng