Anak Papua Juga Bisa Jadi Sutradara Film

Bincang-bincang denga Ketua Papuan Voices

0
5479

SUARA PAPUA belum lama ini berkesempatan berbincang-bincang dengan ketua Papuan Voices. Papuan Voices adalah Komunitas Filmmaker Papua yang fokus memproduksi dokumenter berdurasi pendek tentang Manusia dan Tanah Papua.

Filmmaker Papua hendak menyampaikan pesan-pesan kepada seluruh lapisan komunitas masyarakat di Tanah Papua, Indonesia dan Internasional untuk melihat Papua melalui “mata” orang Papua sendiri dalam bentuk film dokumenter.

Papuan Voices terbentuk Tahun 2011 ketika EngageMedia, Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke (SKP-KAME), Justice Peace and Integration of Creation (JPIC)  MSC Indonesia dan Sekretariat Keadilan Perdamaan dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Franciscan Papua (FP)  bekerjasama dan mulai melatih para filmmaker baru di Papua. Papuan Voices sudah memproduksi  beragaman  jenis film dokumenter serta menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk melahirkan para filmmaker  di Tanah Papua.

Saat ini  Papuan Voices tersebar  di 5 daerah di Tanah Papua, yakni:  Jayapura, Keerom, Wamena, Merauke dan Sorong dan Raja Ampat. Dan ketua Papuan Voices adalah Max Binur. Ialah seorang seniman, pegiat budaya, sastra, pendidikan dan juga menaruh perhatian pada dunia filmmaker.

Di sela-sela kesibukannya menyiapkan Festival Film Papa perdana yang akan digelar pada 7-9 Agustus di Merake, Suara Papua meminta kesediaannya untuk berbincang-bincang seputar Papuan Voices dan Festival Film Pertama yang akan digelar Papuan Voices di tahun 2017 ini.

Simak wawancara Suara Papua (SP) dengan Max Binur (MB) berikut:

SP           : Sa ingin tarik lebih jauh ke belakang dulu. Sejak kapan PV punya agenda tuk gelar FPP?

MB         :  Ide FFP ini adalah usulan saya waktu pertemuan PV di susteran waena. Saya usulkan bahwa kalau kawan kawan PV siap maka kita gelar FFP bulan agustus dan kawan kawan terima. Kenapa bulan agustus karena sebenarnya mau kegiatan ini dipadukan dengan rencana kongres masyarakat adat Papua korban investasi yang setiap tahun dilaksanakan oleh kawan kawan ngo di Papua. Kenapa pilih moment ini tujuannya adalah supaya PV juga bisa ikut merekam testimoni korban dalam. Konggres tersebut

Namun karena konggres ini batal dilaksanakan di Merauke maka maka kami PV tetap komitmen untuk laksanakan sendiri. Hal lain adalah dari pengalaman melihat perkembangan perfileman di Papua. Banyak film pendek panjang yang sudah di produksi oleh orang luar Papua dan Papua tapi tidak ada ruang untuk bgm hasil produksi film itu di kampanyekan secara luas kepada masyarakat.

Sehingga moment FFP ini adalah salah satu solusi untuk membangkitkan samangat anak anak Papua untuk mencintai bidang audio visual untuk menjadikan sebagai salah satu bidang kerja yang bisa membuka lapangan kerja bagi kreatifitas anak muda.

Dengan demikian semoga suatau saat akan muncul sutradara-sutradara asal Papua yang bisa produksi film pendek-sampai layar lebar kalau benar benar ada yang menekuni bidang ini.

SP           : Lalu saat ini PV tersebar di berapa daerah? Fokus kerja PV itu apa?

MB         : Saat ini PV tersebar di beberapa wilayah yaitu Jayapura, Keerom, Wamena, Merauke, Sorong Kota, Sorong Kabupaten, Tambrauw dan Raja Ampat. Dua wilayah lain yaitu Wasior dan Bintuni sudah terbentuk. Namun tidak aktif.  Harapan kami PV bisa terbentuk di seluruh kabupaten di tanah Papua di masa masa mendatang.  Rencana tahun ini adalah PV terbentuk di Biak, Supiori, Manokwari (dlm proses diskusi) dan juga daerah-daerah lain di seluruh tanah Papua.

Fokus kerja PV adalah dokumentasi visual (membuat film dokumenter tentang manusia dan alam Papua, Sosial, budaya, dll).  Pendidikan audio visual untuk anak anak muda dan advokasi visual (membuat film-film) tentang kasus kasus SDA dll.

SP           : Kami dengar ada rencana PV bikin Festival Film Papua pada Agustus ini. Berapa lama dari perencanaan, persiapan sampai hari H FPP?

MB         : Benar. FFP ini kami rencanakan sejak Desember 2016. Kami sepakati untuk dilaksanakan pada bulan Agustus 2017.  Jadi kalau dihitung, maka untuk persiapannya antara 7 – 8 bulan persiapan. Itu termasuk dengan hari pelaksanaan. Yaitu bulan Agustus 2017, tepatnya tanggal 7-9 Agustus nanti.

SP           : Bagaimana nasib FPP ini ke depan menurut hemat anda. Apakah akan jadi kegiatan tahunan atau bagaimana?

MB         : Harapan kami FFP ini akan menjadi agenda tahun yang akan dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 9 Agustus.  Kenapa pilih tanggal 9 Agustus? Karena berkaitan dengan hari masyarakat adat sedunia.  Mengapa karena kami ingin pada tanggal ini suara masyarakat adat Papua dan alam Papua bisa berbicara lewat video kepada semua umat manusia? agar masyarakat dapat  bangkit melawan ketidakadilan di atas tanah adatnya.  Salah satu media menyampaikan pesan ini adalah melalui film.

SP           : PV gelar FPP, motivasi untuk masyarakat luas terutama di Papua?

MB         : Motivasi adalah masyarakat dapat berbicara (menyampaikan pesannya) kepada dunia melalui film.  Karena dengan film orang di seluruh dunia bisa menonton, melihat mendengar langsung Suara Hati Masyarakat Adat Papua yang terpendam

SP           : Berapa film yang masuk untuk dilombakan?

MB         : Ada 27 film yang masuk. Tetapi yang menenuhi syarat 25 Film. Film-film itu bersal dari Raja Ampat (2 film), Nabire (1 film), Merauke (3 film), Sentani (2 film), Mimika (2 film), Sorong (1 film), Biak (2 film), Korowai (1 film), Kota Jayapura (5 film), Wamena (5 film), dan Keerom (1 film).

Dari 25 film ini, juri sudah tentukan 10 film terbaik. Film pertama dengan judul “Nagosa” (Mama), sutradara Kristian G. Tigor Kogoya, durasi 13 menit 54 detik, lokasi Wamena, Papua. Film kedua “Untuk Novalinda dan Andrias”, sutradara Elisabet Apyaka, durasi 30 menit, lokasi Koya, Kota Jayapura, Papua. Film ketiga “Mama Amamapare”, sutradara Fabian Kakisina dan Yonri S. Revolt, durasi 24 menit, lokasi Mimika, Papua.

Film keempat berjudul “Sang Pendamping”, sutradara Stefanus Abraw, durasi 11 menit, lokasi Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Film kelima “Sa Butuh Ko Pu Cinta”, sutradara Benedicta Lobya, Franky Lokobal dkk, durasi 16 menit 21 detik, lokasi Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Film keenam “Salon Papua”, sutradara Stracky Yally Asso, durasi 19 menit 26 detik, lokasi Kota Jayapura, Papua.

Film ketujuh “Maximum Impact” (hidup yang berdampak), sutradara Rizal Lanni, durasi 20 menit 28 detik, lokasi Wamena, Jayawijaya, Papua. Film kedelapan “Truk Monce”, sutradara Imanuel Hindom, durasi 23 menit 48 detik, lokasi Keerom, Papua. Film kesembilan “Anak Papua Belajar”, sutradara Fransiska Pigay, durasi 20 menit 16 detik, lokasi Waena, Kota Jayapura, Papua. Film kesepuluh “Tete Manam”, sutradara Siska Manam, durasi 26 menit 59 detik, lokasi Jayapura, Papua.

SP           : Apa harapan PV tuk Papua ke depan?

MB         : Harapan PV sederhana saja. Kami anak anak PV bisa menjadi jembatan masyarakat untuk memyampaikan suara hati masyarakat secara visual

Harapan lainnya adalah dengan FFP ini ada gerakan moral bersama generasi muda untuk bisa mendokumentasikan semua peristiwa hidup yang terjadi di lingkungan dia. Atau kreativitas dia sehingga orang lain juga tahu. Hal lain juga dan mendasar adalah kami anak-anak Papua juga bisa menjadi sutradara film apa saja. Itu juga kalau memiliki fasilitas yang memadai.  ***