ArsipSeluruh Calon Anggota Komnas HAM Pusat Asal Papua Gugur

Seluruh Calon Anggota Komnas HAM Pusat Asal Papua Gugur

Sabtu 2012-04-14 13:31:00

Matius Murib, salah satu calon anggota Komnas HAM asal Papua yang dihubungi suarapapua.com membenarkan, bahwa seluruh calon asal tanah Papua di gugurkan oleh panitia seleksi.

“Benar, semua calon asal Papua gugur, bisa dianalisa, apa yang dikuatirkan dari Papua,” kata Murib, Sabtu (14/4) siang tadi.

Lanjut Murib, dirinya bersama calon lainnya sudah berjuang secara maksimal, namun hasilnya di gugurkan oleh panitia seleksil pada tahap III.

“Kami sudah maksimal berjuang untuk masuk menjadi komisioner komnas HAM RI, tetapi Jakarta melalui pansel punya pertimbangan lain sehingga menggugurkan semua calon asal Papua, silakan dianalisa sendiri apa tujuannya,” ujar Murib yang juga Ketua Komnas HAM Papua.

Sementara itu, menurut Ketua Pansel Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, 60 calon yang lolos tahap ketiga dari total 120 calon yang telah melakukan sejumlah instrumen seperti uji profil, tes kejiwaan, kesehatan, membuat makalah dan masukan dari masyarakat adalah mereka yang dinilai layak dan berkompeten.

Sebelumnya, ada tujuh orang calon anggota dari Papua, mereka adalah Andriani (40) Mantan Anggota Komnas HAM Daerah Papua, Dorus Wakum (40) LSM. KAMPAK Papua /mantan Aktivis KontraS Papua, Frida Tabita Kelasin (43) LSM Jaringan Perempuan Papua, Laurent Mayasari (41) LSM Komunitas Bersatu Kebenaran.

Simon Metalmety (51) Rohaniawan Kristen, Jules Rimet Assa (Mantan Anggota Komnas HAM Papua), dan Matius Murib (40) Mantan Anggota Komnas Ham Papua.

Satu-satunya putra asli Papua yang dinyatakan lolos dalam seleksi tahap III adalah Decky Natalis Pigay, namun ia sendiri berdomisili di Jakarta, dan PNS di Kemenakertrans Jakarta.

Ketika dihubungi media ini, Natalis mengatakan dirinya berharap agar teman-teman dari Papua yang dinyatakan gugur oleh Pansel untuk tidak berkecil hati dan terus berjuang untuk kemanusian di tanah Papua.

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Referendum Vanuatu Berupaya Menanamkan Stabilitas Setelah Pemerintahan Terbuka

0
"Vanuatu memiliki sistem pemerintahan yang demokratis, tetapi ketika referendum berfokus pada penghapusan hak konstitusional seorang anggota Parlemen, apakah kita masih berada di negara demokrasi?" kata seorang pengguna bernama Peserta Anonim di grup Facebook Yumi Tok Tok Stret.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.