ArsipDemi Pembangunan Mako Brimob dan Pemekaran, Perang Suku "Diijinkan"

Demi Pembangunan Mako Brimob dan Pemekaran, Perang Suku “Diijinkan”

Senin 2015-01-12 22:53:45

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sejumlah tokoh intelektual dan mahasiswa asal Kabupaten Jayawijaya, Papua, menilai, pembangunan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Polisi, di Jayawijaya merupakan, skenario elit politik untuk mendatangkan pemekaran Provinsi Pegunungan Tengah Papua.

Alius Lokobal, salah satu tokoh intelektual asal Jayawijaya mengatakan, rencana pembangunan Mako Brimob, termasuk terjadi perang suku beberapa waktu lalu merupakan setingan para elit politik di Jayawijaya. 

 

"Perang suku yang terjadi bagian dari langkah memuluskan pembangunan Mako Brimob, makanya kami bisa katakan ini permainan elit-elit politik di Jayawijaya," kata Alius bersama sejumlah rekannya, saat memberikan keterangan pers, di depan Auditorium Universitas Cenderawasi Papua. Senin (12/1/15) siang.

 

Dikatakan, perang suku yang terjadi di wilayah Baliem antara Kurima, Asolokobal, Wouma dan Welesi, merupakan sebuah skenario yang sudah bisa ditebak untuk kepentingan kelompok tertentu. (Baca: Mahasiswa Jayawijaya Tolak Pembangunan Mako Brimob di Wamena),

 

"Dulu orang-orang tua kami masih ada, masalah-seperti ini biasanya diselesaikan dengan cepat, seperti Almarhum Jhon Haluk, Yulianus Hisage, Philip Mulait, Minus Lokobal dan Gabriel Lagowan, namun saat mereka tidak ada, sekarang tidak ada penyelesaiaan yang jelas."

 

"Nama-nama yang kami sebutkan diatas sejak awal tidak mau ada Mako Brmob disana, namun dengan meninggalnya mereka, ada elit-elit tertentu yang bermain agar Mako Brimob dibangun, kami tegas menolaknya," kata Alius.

 

Menurut Alius, ia juga mendapatkan informasi jika Bupati Jhon Wempi Wetipo dengan lantang memberikan ijin kepada masyarakat untuk melakukan perang selama dua hari.

 

"Seorang pimpinan tidak pantas bersikap demikian, apalagi dia Bupati, kami lihat ini sebuah skenario yang dimainkan, tujuannya memuluskan pembangunan Mako Brimob," tegas Alius. (Baca: Honai Resort Wamena Akan Dijadikan Asrama Kompi Brimob Sementara).

 

Ditambahkan oleh Benyamin Lagowan, salah satu mahasiswa Uncen, kecurigaan mahasiswa dan tokoh intelektual semakin menguat ketika usai perang, Bupati langsung memberikan ijin agar Mako Brimob segera dibangun, dan "membersihkan" masyarakat dari lokasi pembangunan.
 

"Ini selain untuk pemekaran Provinsi Pegunungan Tengah Papua, juga untuk kepentingan-kepentingan lain, karena itu kami minta elit-elit politik tidak mengorbankan masyarakat untuk kepentingannya."

 

"Disini kami mau tegaskan bahwa kami adalah satu, dan kami tidak mau lagi pecah, atau terbagi-bagi, dan saya berharap perang suku seperti itu tidak terjadi lagi hanya karena kepentingan elit tertentu, dengan mengorbankan nyawa manusia," tegas Lagowan.

 

Sekedar diketahui, perang suku yang berlangsung beberapa waktu lalu, telah memakan banyak korban luka-luka, termasuk beberapa orang meninggal dunia.

 

Hingga saat ini, dikabarkan penyelesaiaan perang suku masih belum dilangsungkan, walau Kapolres Jayawijaya, AKBP. Adolof Beay, mengatakan, penyelesaian adat telah dilangsungkan. (Baca: Kapolres Jayawijaya: Perang Antar Warga Kurima dan Asolokobal Sudah Diselesaikan).

 

Editor: Oktovianus Pogau

 

AGUS PABIKA

Terkini

Populer Minggu Ini:

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.