ArsipUmat Kristen Papua Kecam Pelaku Pembakaran Gereja di Aceh Singkil

Umat Kristen Papua Kecam Pelaku Pembakaran Gereja di Aceh Singkil

Kamis 2015-10-15 10:48:02

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Pemuda, mahasiswa dan tokoh agama Kristen di Tanah Papua mengecam tindakan kelompk masyarakat dari agama tertentu yang membakar gereja di Aceh Singkil, pada 13 Oktober 2015 lalu.

Seruan ini disampaikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan sejumlah denomenasi gereja yang tergabung dalam Solidaritas Peduli Kebebasan Beragama, yang disampaikan, siang tadi.

Salah satu tokoh gereja, Pdt. John Baransano, menegaskan, peristiwa di Aceh Singkil menunjukan sulit memeluk agama di Indonesia.

 

“Kami dengar di Aceh Singkil ada dua orang menjadi korban, dan beberapa gereja dibakar, dan ratusan umat Kristen harus mengungsi, kami sayangkan tindakan intoleransi seperti ini,” tegasnya.

Lanjut Pdt. Jhon, aksi solidaritas dari Papua bagian dari seruan untuk mengajak pemimpin-pemimpin umat beragama di Papua peduli pada nasib saudara-saudara yang mengalami tekanan di Aceh.

 

“Para pemimpin agama harus berbicara demi perlindungan kepada umat Kristen, seperti yang tertera dalam konstitusi Negara Indonesia,” ujar Baransano.

Dikatakan, saat ini pengamalan akan nilai-nilai Pancasila dan UUD 19945 semakin berkurang, sehingga banyak yang mempertanyakan toleransi antar umat beragama di Tanah Papua.

 

“Suatu saat umat Kristen, Budha, Hindu, dan Katolik akan mempertanyakan Negara terkait perlindungan bagi kelompok minoritas, jangan salah kalau ada yang berpikir sebaiknya keluar dari bangsa Indonesia saja,” katanya.

 

Menurut Pdt. Jhon, kejadian di Aceh Singkil harus menjadi pemikiran dan perenungan bagi pemimpin bangsa Indonesia, apalagi ini Negara yang menganut demokrasi.

 

Sementara itu, salah satu tokoh pemuda, Yesaya Udam menuturkan, peristiwa intoleransi di Aceh sering terjadi, dan harus mendapatkan perhatian Negara.

 

“Kami lihat tidak ada keadilan, walaupun Negara ini dibangun berdasarkan iuran kolosal atas nosinasi anak bangsa dengan tidak mengenal satu atau dua kelompok.”

 

“Karena Negara ini dibangun berdasarkan keragaman, heterogenitas, dengan semangat keloktif anak bangsa untuk melahirkan sebuah Negara yang disebut Negara Indonesia ini untuk hidup bersama-sama,” tegas Udam.

 

Sementara itu, Seblom Libia, Koordinator Umum aksi menegaskan, pada 19 Oktober 2015 mendatang para pemimpin gereja di Tanah Papua akan menggelar konser kemanusiaan untuk Aceh.

 

“Kami akan melakukan aksi dalam bentuk ibadah perenungan berupa konser kebangunan rohani, rencana berlangsung di halaman DPR Papua, kami menyatakan keprihatinan atas peristiwa di Aceh Singkil,” kata Libia.

REDAKSI

Terkini

Populer Minggu Ini:

Hilang 17 Hari, Anggota Panwaslu Mimika Timur Jauh Ditemukan di Potowaiburu

0
“Adik ini hilang selama dua minggu lebih. Begitu dapat kabar, semua keluarga besar suku Mee langsung berkumpul dan ada tunggu di rumah,” jelas Dogopia.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.