ArsipAkibat Diabaikan Dokter IGD, Pasien di RS Wamena Meninggal Dunia

Akibat Diabaikan Dokter IGD, Pasien di RS Wamena Meninggal Dunia

Kamis 2015-01-08 18:30:00

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Jayawijaya, Papua, dokter ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD), diketahui malas tahu dengan kehadiran para pasien, sehingga banyak yang meninggal dunia.

Amon Alua, orang tua dari Mendrogen Mosa Alua, pasien anak usia delapan bulan yang meninggal dunia, beberapa waktu lalu, mempertanyakan kinerja petugas medis di rumah sakit tersebut.

 

“Awalnya Mosa, panggilan anak kami muntah-muntah dan mencret pada tanggal 2 Januari 2015 lalu. Karena itu, kami membawanya ke RSUD Kabupaten Jayawijaya,” kata Amon, kepada suarapapua.com, melalui email, Kamis (8/1/2015) siang.

 

Menurut Amon, ketika dibawa ke Rumah Sakit, anaknya didata, setelah diperiksa oleh dokter, dan yang anehnya si dokter mengatakan anaknya tidak sakit apa-apa. 

 

"Tapi dokter memberikan resep untuk membeli obat di apotek luar rumah sakit. Saya sempat bingung, karena anak saya dinyatakan tidak sakit, tetapi diberikan resep dengan empat jenis obat."

 

“Karena percaya pada dokter, kami keluar dan beli obat di apotek. Setelah diberikan obat, anak saya justru semakin parah. Panasnya bertambah tinggi yang akhirnya kami kembali ke rumah sakit untuk menemui dokter yang menangani anak kami."

 

"Sampai di Rumah Sakit, si dokter langsung menanyakan obat yang kami beli. Setelah menunjukkan obat tersebut, dokter mengambil salah satu jenis obat, sementara tiga jenis lainnya diberikan kepada istri saya," cerita Amon.

 

Ibu korban, Nela mengatakan, setetelah mengambil satu jenis obat, dokter itu pergi dan tidak memberikan petunjuk apa-apa. Kemudian anaknya ditangani seorang suster yang hendak memasangkan infus, tetapi karena tidak mendapat urat nadi, Mosa ditinggalkan begitu saja.

 

“Setelah ditinggal dokter dan suster jaga, anak saya menghembuskan nafas terakhir,” kata Nela.

 

Nela mempertanyakan kinerja petugas medis di RSUD Wamena yang terkesan tidak bertanggung jawab pada pasien, dimana dr. Danny sebagai pihak yang memeriksa kondisi Mosa tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan keluarga pasien dan menghilangnya dokter tersebut.

 

“Hal lain yang menurut saya agak aneh adalah sebuah rumah sakit milik pemerintah dengan kucuran dana Otsus dimana bidang kesehatan menjadi prioritas tidak memiliki jenis-jenis jarum suntik,” tutur Nela.

 

Dengan demikian, keluarga Amon meminta pertanggungjawaban pihak rumah sakit atas meninggalnya Mosa pada 3 Januari 2015 lalu. Keluarga Amon juga berharap petugas medis ke depan harus melayani pasien dengan hati.

 

Editor: Oktovianus Pogau

 

MIKHA GOBAY

Terkini

Populer Minggu Ini:

Rapat Pleno Terbuka Tingkat Kabupaten Tambrauw Masih Berlanjut

0
“Waktu plenonya sangat singkat, sehingga butuh kerja sama dari semua pihak agar proses ini berjalan dengan lancar dan aman hingga selesai,” kata Andreas Daniel Kambu, ketua KPU provinsi Papua Barat Daya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.