George Saa: Orang Papua Harus Ikut Membangun RI

0
16021

JAYAPURA, SATUHARAPAN.COM/SUARAPAPUA.com— Septinus George Saa sudah sangat identik dengan Papua. Ia selalu mengaku bahwa ia adalah orang Indonesia tetapi juga orang Papua.

Naskah berita wawancara ini adalah berita hasil wawancara Redaksi satuharapan.com dengan Septinus George Saa beberapa waktu lalu, dan dipublikasikan pada situs berita satuharapan.com pada edisi 21 Februari 2018. Redaksi suarapapua.com sadur ulang dan publikasikan lagi di situs suarapapua.com.

Pria kelahiran 22 September 1986 itu, pada tahun 2004 mengejutkan banyak orang ketika ia berhasil memenangi lomba First Step to Nobel Prize in Physics. Ia meraih kehormatan itu lewat makalahnya yang berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. Rumus penghitungan hambatan dua titik rangkaian resistor yang ditemukannya itu bahkan diberi namanya sendiri yaitu “George Saa Formula”. Ia masih duduk di SMA Negeri 3 Jayapura kala itu.

Prestasinya itu bukan hanya mengangkat nama Papua tetapi juga Indonesia. Ia mengungguli ratusan paper dari 73 negara yang masuk ke meja juri. Ia meraih medali emas setelah para juri dari 24 negara memutuskan dirinya sebagai pemenang.

George Saa kini berada di Birmingham, Inggris, melanjutkan studi S2-nya di bidang Mechanical Engineering di University of Birmingham. Sebelumnya, ia menempuh studi S1 di Florida Institute of Technology AS, dengan major: Aerospace Engineering dan lulus tahun 2009.

Ini adalah wawancara bagian terakhir dari lima bagian wawancara dengan satuharapan.com (18/02).

Bagian pertama berjudul Wawancara George Saa: Asmat, Papua dan Aspirasi Merdeka, bagian kedua, George Saa: Orang Papua Didiskriminasi Dimana-mana, bagian ketiga, George Saa: Masalah Masa Lalu Papua Harus Diselesaikan, bagian keemat, George Saa: RI Sebaiknya Berunding dengan Semua Kelompok di Papua.

Satuharapan.com: Bagaimana sebaiknya upaya menumbuhkan optimisme di kalangan orang Papua. Kesan saya masalah yang kita hadapi di Papua berat sekali.

Septinus George Saa: Saya juga tidak tahu bagaimana untuk menumbuhkan optimisme. Kalau optimisme untuk bersekolah dan bisa meraih cita-cita pribadi saya tahu caranya bagaimana memotivasi individu-individu.

Apa misimu untuk Papua setelah lulus nanti?

Saya akan jadi dosen saja. Saya sudah jadi professional engineer hampir enam tahun di BP Indonesia dari 2010 sampai 2015. Saat saya pulang S1 dari AS. Saya masih terus akan kejar pendidikan saya juga ilmu yang saya tekuni hingga PhD, melanjutkan Postdoc dan setelah itu balik bangun Indonesia untuk bangun Papua. Kalau bangun Papua secara langsung saat ini, menurut saya sudah banyak orang-orang Papua hebat-hebat calon pemimpin Papua yang siap membangun tanah Papua*. (*Papua ini saya maksudkan Papua dan Papua Barat)

Mungkin saat ini masih kurang orang Papua yang terlibat dalam membangun Indonesia dari pusat sehingga saya mengajak kita yang dari Papua yang ada ini harus juga bermimpi untuk bukan saja fokus bangun Papua tetapi kita juga ikut bangun Indonesia dimana secara otomatis kita akan bangun Papua sesuai cara kita sendiri

Dari pengalaman George bersekolah di Papua, apa yang harus mendesak dibenahi?

Sekolah di Papua ini jauh lebih baik. Masalahnya saya rasa sama juga yang terjadi di daerah terpencil. Contohnya yang pernah saya pelajari itu kondisi pendidikan di pedalaman Bengkulu juga beberapa daerah di Kalimantan. Masalah pendidikan semisalnya ketidakhadiran guru yang terjadi dimana-mana didalam Indonesia ini sama alasannya ataupun sebagian alasannya sama.

Sebenarnya pertanyannya itu, apa yang ingin dicapai dulu sehingga harus ada pembenahan di sekolah-sekolah di Papua. Banyak yang harus dibenahi namun kembali lagi, dibenahi untuk mencapai apa – ini hal yang penting menurut saya.

Kami mendengar banyak sekolah di Papua tidak pernah didatangi guru?

Benar. Kalau ini masalah multimasalah. Ada beberapa FGD yang sudah dijalankan untuk membahas detilnya. Saya tidak ada wewenang ataupun diberikan kesempatan untuk jadi tim atau masuk tim untuk atasi masalah ini sehingga saya tidak bisa kasih banyak masukan. Namun saya bisa berbagi case di wilayah kami Maybrat, dimana sumber persoalannya jelas dan bisa dijadikan basis analisis untuk di daerah lain. Namun lagi-lagi ini tidak menjadi fokus saya saat ini karena banyak yang sudah bisa memberikan solusi dan mungkin saja sudah dijalankan.

By the way, bagaimana interaksi George dengan para mahasiswa di Inggris. Apa yang pertama kali jadi impresi mereka bila mengetahui George dari Papua?

Teman-teman di Inggris mereka tidak peduli. Mereka tahu saya dari Indonesia dan itupun sudah cukup untuk saya memperkenalkan diri. Kalau bertemu sesama orang Indonesia baru biasanya mereka dengan otomatis menanyakan saya dari Papua mana.

Banyak isu sensitif yang sudah kita percakapkan ini. Semoga pendapat-pendapat kritis George tidak mengganggu studi George.

Isu sensitif itu sudah sering diperdebatkan, saya amati baik-baik dan kadang bila ada hal yang menurut saya tidak sesuai saya akan ikut berbicara dengan bahasa sehalus mungkin namun kalau yang baca dan paham, mereka pasti tahu bahwa kami semua ingin perubahan yang baik dan keinginan luhur kami untuk membawa perubahan yang lebih baik untuk manusia bukan saja di Papua namun juga di Indonesia.

Saya memang secara akademis boleh berbicara apa saja, yang penting bisa dipertanggungjawabkan dan mau di kritik juga. Bidang studi saya dan opini publik seperti ini saya rasa memang akan menuai kritik namun saya sampaikan bahwa apa yang saya sampaikan ini adalah common sense. Saya rasa orang Papua yang prihatin untuk Papua juga orang Indonesia yang paham akan situasi di Papua dan me-relate sedikit atau banyaknya dari jawaban saya ini. Terima kasih

Sumber: satuharapan.com