BeritaTrauma Berkepanjangan, Pengungsi Intan Jaya dan Nduga Butuh Pemulihan

Trauma Berkepanjangan, Pengungsi Intan Jaya dan Nduga Butuh Pemulihan

SORONG, SUARAPAPUA.com — Bernadus Kobogau, tokoh masyarakat Intan Jaya mengaku warga pengungsian butuh waktu yang sangat lama untuk pulih dari tekanan psikologis.

“Sejak 17 Agustus 2018 sudah mulai terjadi konflik bersenjata. Sejak itu masyarakat di sana mulai takut dan kesulitan dalam beraktivitas,” jelasnya melalui keterangan tertulis yang diterima dari Nabire, Sabtu (1/5/2021).

Konflik antar militer Indonesia dan TPNPB di Intan Jaya hingga kini terus berlanjut apalagi ada penambahan pasukan.

“Begitu terjadi penembakan terhadap bapak pendeta Yermias Zanambani dan tiga orang di Sugapa, masyarakat mulai keluar meninggalkan Intan Jaya ke Nabire maupun Timika. Karena merasa akan menjadi korban jika bertahan di Intan Jaya,” jelasnya.

Baca Juga:  SMP PGRI Kota Sorong Selalu Tampung Anak-Anak Buangan dari Sekolah Lain

Belum amannya situasi daerah diprediksi memperpanjang trauma bagi warga setempat. Kemungkinan pulang ke kampung halaman belum segera terwujud. Karena itu, perlu adanya pemulihan untuk menghilangkan trauma.

“Mereka butuh pemulihan, terutama untuk anak-anak karena trauma yang mereka alami butuh waktu cukup lama. Beberapa waktu ada KKR dari pihak gereja, terus kemarin para seniman melakukan berbagai kegiatan untuk menghibur agar pulihkan trauma.”

Baca Juga:  Semua Pihak di Intan Jaya Sepakat Tolak Eksploitasi Blok Wabu dan Hentikan Pembangunan Patung Yesus

Hal ini diharapkan dilakukan lagi sebagai bagian dari trauma healing bagi warga pengungsi.

Sementara itu, Pdt. Dora Balubun dari Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Cipta (KPKC) GKI Tanah Papua, mengaku sangat terpukul dengan situasi Intan Jaya dan Nduga terutama masyarakat yang terusir dari rumah dan kampung halamannya.

Situasi tersebut menurutnya menjadi pergumulan panjang pihak gereja.

“Semua orang Papua, masyarakat adat meninggalkan tanah adat mereka. Kami pihak gereja tidak bisa bergerak sendiri tanpa bantuan rakyat Papua,” kata Dora.

Baca Juga:  Dewan Adat Segun: Tanah Jangan Dijadikan Lahan Bisnis!

Karena itu, ia berharap dukungan dari semua pihak agar warga di daerah konflik bebas dari trauma berkepanjangan.

“Mereka butuh pemulihan. Masa depan anak-anak Papua ini akan seperti apa, ini yang dipikirkan bersama. Kami sangat bersyukur kepada semua yang selalu ada dan peduli terhadap rakyat Intan Jaya dan Nduga,” ucapnya.

Pewarta: Reiner Brabar
Editor: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Masalah Politik Mendominasi Kunjungan Menteri Prancis Gérald Darmanin di Kaledonia Baru

0
"Kami bekerja dengan sangat baik dengan teman-teman Australia kami yang juga mengamati perkembangan Kaledonia Baru dengan sangat cermat. Kami ingin bekerja sama dengan mereka dalam hal perlindungan strategis dalam kaitannya dengan kekuatan besar seperti Cina, yang terkadang berperilaku predator terhadap wilayah kami".

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.