Tantangan Pengecoran Beton di Daerah Dingin dan Curah Hujan Tinggi

0
1132

Oleh: Yan Ukago)*
)* Penulis adalah Intelektual Muda Papua dari Meepago

Kampung Poik, Tempat paling  tinggi  di Negeri  Yalimo. Suhunya  sekitar 18 °C.

Pengecoran beton di daerah dingin seperti Poik, hadapi tantangan yang berat. Semen kering begitu tiba dari pesawat perintis. Kalau tidak langsung segera dicor, siap-siap mendingin, mengeras, membeku dan jadi batu. Akhirnya tidak bisa dipake lagi.

Padahal satu zak semen 50 kg di sini mahal sekali. Harganya sekitar 1 juta rupiah. Biaya angkut  via pesawat saja mencapai 800 ribu. Belum lagi harga semennya. Sekira Rp 200.000. Kalau dibiarkan lebih dari dua  hari, sudah mengeras dan semen satu sak rugi sudah.

Memang semen itu butiran halus senyawa kimia yang mudah  kawin mawin dengan partikel udara dingin. Secara ilmiah rumusnya itu butir semen ditambah butiran air menghasilkan batu, alias C3S + H2O = Benda sekeras batu.

ads

Semen di daerah dingin masih ada tantangan lain lagi. Semen itu kalau  dicor di daerah yang dingin baru  curah hujan tinggi, sekalipun  sudah dicor cepat-cepat, namun  waktu yang diperlukan campuran basah untuk mengeras sangat lama. Sejak cor, standar semen mengeras itu  cuma 8 jam, tapi itu daerah panas dan pesisir.  Untuk daerah dingin macam di Kampung Poik ini, mengeras setelah 20 jam,  itu di luar dari teori yang ada di universitas negeri Panas.

Kalau coran semen belum keras kemudian andaikan  campuran kena hujan, maka pekerjaan konstruksi gagal sudah.   Alam berjalan sesuai hukumnya, tidak mungkin hujan dia tunggu  20 jam menanti semen mengeras duluh baru turun. Para Tukang di lapangan selalu cari banyak  akal, selain  terpal biru juga mungkin siapkan pawang hujan. Penduduk asli setempat, mereka itu  sesungguhnya   para klimatolog yang handal. Mereka bisa tau kapan hujan dan kapan cerah hanya  dengan pengalaman (felling experiences). Kita biasa tanya pada mereka baru tetapkan kapan waktu cornya.

Kedepan, untuk material konstruksi selain dengan  beton yang bahan dasar semen dan dikerjakan secara manual, kita juga perlu teknologi  alternatif lain di daerah dingin. Teknologi model knock down yang digunakam di negara lain yang tinggal rakit  atau model lain. Perlu kajian dari berbagai pihak seperti universitas, pemerintah dan masyarakat teknik.

Selama ini negara kita tidak fokus pada teknologi alternatif, mungkin karena daerah dingin di Indonesia luasnya tidak sampai 10 %, membuat negara sebesar  ini belum berfikir sampai ke sana. Masih belum nyata kemajuan  teknologi kostruksi daerah dingin atau  teknologi beton untuk daerah yang  tiada pasir.

Di Papua, khususnya  pegunungan tengah seperti Kabupaten Tolikara, Lani jaya,  Puncak sebagian Yalimo masih  ambil pasir dari kali  kota wamena  di kali uwe, kemudian  angkut ratusan kilometer yang membua biaya konstruksi jadi tinggi. Di jawa seperti daerah malang, tangkubanprau dan dataran tinggi dieng di Jateng, daerah malino  di sulawesi  serta Brastagi di sumatera adalah contoh wilayah yang sangat dingin. Daerah-daerah dingin ini perlu konstruksi khusus dan negara perlu lakukan terobosan melalui badan pengkajian seperti BPPT yang ada. Tapi sepertinya nihil, Negara ini  masih sibuk dengan urusan-urusan tuntaskan nasib bangsa. (*)

 

Artikel sebelumnyaKisah Kopi untuk Membayar SPP di Papua
Artikel berikutnyaKNPB Menduga Senat Soll dan Temianus Magayang Dibunuh di RS Bhayangkara