Tanah PapuaLa PagoPKK Yahukimo Adakan Lomba Lukis Batik dan Fashion Show Rajutan Bahan Lokal

PKK Yahukimo Adakan Lomba Lukis Batik dan Fashion Show Rajutan Bahan Lokal

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Memeriahkan peringatan HUT ke-143 RA Kartini, Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) kabupaten Yahukimo mengadakan dua jenis perlombaan yang dipusatkan di Gedung Olahraga (GOR) kabupaten Yahukimo.

Lomba yang diadakan selama dua hari (19-20/4/2022) itu, yakni fashion show rajutan bahan lokal dan lomba lukis batik.

Ammy J. Yahuli, ketua TP-PKK kabupaten Yahukimo, menjelaskan, perlombaannya selama dua hari dan pada tanggal 21 April 2022 penutupan sekaligus perayaan HUT ke-143 RA Kartini.

Menurut Ammy, kegiatan ini bertujuan mencari minat dan bakat generasi milenial di era modern yang kian mengikis nilai-nilai budaya suku bangsa di Tanah Papua.

“Kami ajukan kegiatan pertama itu fashion show dan kemudian lomba menggambar untuk mencari minat dan bakat dari semua pemuda dan pemudi yang ada di kabupaten Yahukimo,” katanya, Rabu (20/4/2022).

Baca Juga:  Theys Adalah Pejuang, Pemindahan Makam Harus Mendapat Persetujuan Rakyat Papua

Dalam lomba menggambar, kata Ammy, peserta diberi keleluasaan untuk menggambar rumah adat Pegunungan Tengah Papua, rumah pohon dan sejenis lainnya.

“Pemenangnya akan didorong untuk dijadikan sebagai ikon batik asli Yahukimo,” imbuh Ammy.

Tidak hanya kali ini saja, menurutnya, akan ada berbagai perlombaan serupa di tingkat kabupaten hingga provinsi. Untuk itu, peserta yang tidak terpilih agar terus bersemangat dan berikan yang terbaik di lomba berikutnya.

“Terima kasih kepada anak-anak yang sudah merespons dengan baik kegiatan lomba ini. Saya percaya, semua pasti ingin menampilkan yang terbaik.”

Ammy menilai peserta lomba mampu tunjukkan rajutan lokal atau budaya suatu suku agar melalui itu bisa mengangkat nilai-nilai budaya masing-masing suku.

Baca Juga:  TP PKK Intan Jaya Dukung Pelaksanaan PIN Polio di Kab. Intan Jaya

“Kita tunjukkan apa yang kita punya dari tempat ini. Pakaian dan aksesoris tradisional yang kamu pakai itu mau mengangkat nilai-nilai budaya kita. Di Yahukimo, kita ketahui ada 12 suku dengan kekayaan budayanya. Hari ini ada beberapa yang ditampilkan, tetapi lomba-lomba yang berikut saya harap dari 12 suku bisa tampil semuanya,” tutur Ammy.

Reimona Kabak, koordinator lomba fashion show dan lukis batik. (Atamus Kepno – SP)

Senada, Reimona Kabak, koordinator lomba, mengatakan, kedua lomba itu bertujuan menggali sekaligus mempertahankan ciri khas budaya Yahukimo sambil persiapkan generasi muda di bidang pariwisata.

“Kami mengangkat kedua lomba ini karena sekarang zamannya sudah modern, generasi kita jangan lupa kebudayaan. Kita mau untuk menjaga dan melestarikan budaya kami, jadi kami angkat supaya di fashion show ini mereka angkat ciri khas daerah kita,” katanya.

Reimona berharap hasil dari lomba lukis akan didorong untuk dijadikan ikon kabupaten Yahukimo. Dalam hal ini akan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata.

Baca Juga:  Menjadi Bapak Bagi Semua Calon Kandidat Bupati Lanny Jaya

“Kami mengangkat empat ikon yaitu bulu burung nuri, honai dari pegunungan, rumah pohon dan kura-kura moncong babi. Itu kami angkat dalam lomba menggambar pada tahun ini.”

Para peserta lomba termasuk perwakilan ibu-ibu merasa senang dengan ajang lomba yang diadakan TP-PKK.

Mereka mengucapkan terima kasih atas inisiatif yang baik dan berharap kedepannya lebih semarak lagi adakan kegiatan lomba untuk menggali potensi lokal di kabupaten Yahukimo.

“Terima kasih, kami mengucap syukur kepada Tuhan dan juga kepada ketua PKK Yahukimo yang sudah mensuport kami untuk menyelenggarakan kegiatan ini demi menggali bakat-bakat lokal,” imbuh Reimona.

Pewarta: Atamus Kepno
Editor: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Lindungi Rakyat Sipil, TNI Polri dan TPNPB Wajib Terapkan Konvensi Jenewa...

0
“Kedua belah pihak wajib menerapkan Konvensi Jenewa IV tahun 1949 tentang perlindungan rakyat sipil dalam masa perang yang sedang terjadi di Bibida, kabupaten Paniai,” ujar Emanuel.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.