BeritaSD Negeri Ruvewes Sudah Tidak Aktif Empat Tahun

SD Negeri Ruvewes Sudah Tidak Aktif Empat Tahun

SORONG, SUARAPAPUA.com — Halaman penuh dengan rerumputan. Gedung tidak terawat hingga nyaris rusak total. Kesan sudah lama tidak ada aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) benar-benar terlihat di Sekolah Dasar Negeri Ruvewes.

Sekolah ini terletak di kampung Ruvewes, distrik Miyah Selatan, kabupaten Tambrauw, provinsi Papua Barat.

Gedung sekolah dibangun tahun 2013. Dengan tiga ruangan. Didatangkan juga buku-buku pelajaran.

Aktivitas KBM berlangsung kurang lebih lima tahun. Anak-anak murid rajin belajar. Tiap hari belajar bersama dua orang pendidik. Satu guru honorer dan satunya berstatus PNS.

Ketika suarapapua.com berkunjung ke sana akhir pekan kemarin, tidak hanya di halaman depan, rumput tumbuh subur sekeliling sekolah. Ruang kelas tampak berantakan. Penuh dengan sarang laba-laba. Bahkan hingga dinding luar. Kursi dan meja mulai lapuk. Buku-buku tertumpuk di atas meja. Beberapa papan dan tripleks sudah terlepas.

Lama tiada aktivitas, rerumputan di halaman sekolah jadi “berkat” bagi babi yang tiada hari bermain sekaligus mencari makanan di situ.

Situasi riang gembira para bocah sudah tidak tidak terlihat lagi. Anak-anak Ruvewes tidak bisa belajar di sekolah ini. Mereka terpaksa mencari sekolah yang ada di kampung lain.

Baca Juga:  Ketua DPC Partai Demokrat Resmi Terima Surat Tugas DPP, Siap Bersaing Dalam Pilkada 2024

Keterangan dari Oktovianus Sedik, kepala kampung Ruvewes, sekolah ini sudah tidak aktif sejak empat tahun lalu.

Begitu tidak ada aktivitas KBM, anak-anak terpencar mencari sekolah di kampung-kampung lain yang bisa dijangkau. Beberapa orang tua menitip anaknya di keluarga lain mengingat jarak tempuh jauh.

Sebagian murid dipindahkan orang tuanya ke kota untuk bisa bersekolah dengan baik. Bahkan hingga dipindahkan ke kota Sorong.

“Sudah empat tahun sekolah ini tidak aktif. Kepala sekolah juga tidak aktif. Guru tidak aktif. Anak-anak sudah pindah sekolah. Situasi ini tidak ada kontrol dari dinas pendidikan. Orang di kantor dinas sana hanya terima laporan saja. Itu laporan palsu, karena di sini tidak ada proses belajar mengajar,” tutur Oktovianus kepada suarapapua.com, Sabtu (8/10/2022).

Para orang tua termasuk Oktovianus Sedik merasa sedih dengan terhentinya aktivitas KBM. Anak-anak tidak bisa bertahan dalam situasi begini. Mereka harus belajar. Solusinya, cari sekolah lain yang masih aktif.

Menurut Oktovianus, guru-guru beralasan tidak aktif lantaran tidak ada murid adalah alasan yang kurang tepat. Banyak anak saat sekolah awal dibuka hingga beberapa tahun selama KBM aktif seperti biasanya.

Baca Juga:  Aksi Penghijauan di Grasberg Dalam Rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2024

Sejak guru tidak aktif mengajar, orang tua memilih memindahkan anak-anaknya ke sekolah lain, bahkan hingga ke kota Sorong.

“Tidak ada murid itu tipu. Guru tidak aktif, jadi orang tua kasih pindah dong punya anak-anak ke sekolah lain,” ujarnya.

Ia rindu SD Negeri Ruvewes diaktifkan agar anak-anak bisa belajar lagi. Orang tua juga bawa anak-anaknya kembali ke sekolah ini.

“Kami mau sekolah segera diaktifkan supaya anak-anak dari sini tidak pergi jauh-jauh,” ucap Sedik.

Nikodemus Momo, intelektual muda Tambrauw, mengaku sedih dengan kondisi tersebut. Sebab, sebenarnya di kampung Ruvewes dan sekitarnya ada murid, tetapi guru terbatas hingga aktivitas KBM tidak lancar bahkan sampai terhenti sejak empat tahun lalu.

Sejak tidak ada proses belajar mengajar, Nikodemus membenarkan, orang tua memindahkan anak-anaknya. Dalam kondisi demikian, pemerintah daerah terutama Dinas Pendidikan Tambrauw mesti ke lapangan untuk melihat persoalan sebenarnya.

Baginya, kebutuhan di SD Negeri Ruvewes hari ini adalah penambahan tenaga guru agar KBM diaktifkan.

Baca Juga:  Pemuda Adat Tekankan Cakada Harus Memihak Masyarakat

“Murid ada. Hanya tenaga guru yang kurang. Makanya, orang tua kirim anak ke kampung lain dan ada juga yang diantar ke kota. Persoalan ini Dinas Pendidikan harus turun lihat. Setelah cek langsung barulah tambahkan tenaga guru yang mau menetap untuk bisa mendidik generasi Tambrauw,” kata Nikodemus.

Menanggapi persoalan di SD Negeri Ruvewes, Yosep Yewen, kepala Dinas Pendidikan kabupaten Tambrauw, menjelaskan, pihaknya sempat menugaskan tenaga pendidik pada tahun 2021 bahkan tahun 2022 juga, tetapi tidak ada murid.

Kata Yosep, jika guru sudah dikirim, tetapi tidak ada murid, maka sekolah tersebut akan ditutup.

“Tahun 2021 kami sudah kirim guru ke sana. Guru tunggu murid, tetapi tidak ada murid. Akhirnya, guru itu minta pindah ke sekolah lain. Kami kirim guru lagi, tetapi tidak ada murid juga. Jadi, SD itu akan ditutup,” ujarnya saat dikonfirmasi suarapapua.com.

Pendidikan dasar milik pemerintah itu didirikan berdasarkan surat keputusan (SK) nomor 421.1/086/V/2005. Sekolah ini telah mengantongi Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) 69728600.

Pewarta: Maria Baru
Editor: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.