Pastor Djonga: Gereja Tidur Nyenyak Depan Realitas Pelanggaran HAM

0
1690

YOGYAKARTA, SUARAPAPUA.com — Pastor Johanes Jonga, pegiat hak asasi manusa (HAM) di Papua, penerima penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2009 ini mengatakan, laporan Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Brisbane, Australia, adalah tamparan keras bagi Gereja di Indonesia dan Gereja di Papua.

Gereja Katolik Brisbane mendesak Dewan HAM dan Majelis Umum PBBB untuk turun tangan, membuat investigasi yang kredibel dan independen soal pelanggaran HAM di Papua. Menurut Jonga, desakan Gereja Katolik Australia itu tidak mengejutkan karena memang kondisi hak asasi manusia di Papua terus memburuk sejak Pepera 1969.

Menanggapi hal itu, imam Katholik juga aktivis HAM Papua ini menegaskan, harusnya Gereja di Indonesia dan Gereja di Papua malu karena tidak mampu membuat sesuatu yang ‘lebih’ sebagai upaya menyelamatkan bangsa Papua yang sedang tertindas.

- Event -
Festival Film Papua

“Kita menyaksikan pelanggaran HAM di depan mata, tetapi kita tetap tidur nyenyak,” kata Jonga yang juga petugas gereja ini mengkritik gereja di Indonesia dan di Papua.

Sementara itu, Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik asal Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta (FKPMKP DIY) menyatakan mendukung upaya Keuskupan Agung Brisbane, Australia, dalam desakannya meminta Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB menginvestigasi pelanggaran-pelanggaran HAM di Papua.

“FKPMKP gembira dengar gereja katolik Brisbane desak agar PBB turun tangan investigas resmi dari PBB yang independen, agar semua perosalan HAM yang Indonesia tidak mampu selesaikan ini, dapat diselesaikan. Rakyat Papua sebagai korban sudah terlalu lama menanti keadilan,” tegas Yosef Fatem, wakil ketua FKPMKP kepada Suara Papua, Rabu (18/05/2016) sore.

FKPMKP mendesak lima keuskupan Gereja Katolik di Tanah Papua yang ada untuk mendukung upaya Keuskupan Agung Brisbane.

“Kami ingin para imam di Papua benar-benar jadi gembala, tidak hanya di mimbar, tapi ada membela umat saat HAMnya dilecehkan. Kami ingin paroki, keuskupan, tidak diam saat umatnya dibantai, dibunuh, dihilangkan hak hidupnya,” tambah Yosep Degei, sekretaris FKPMKP.

 

Pewarta: Bastian Tebai

Editor: Arnold Belau

  • Ham yang mana nich….

  • Pengembala tidak menyelamatkan dombanya maka sebagai akibatnya, domba-domba berlarian tanpa arah dan kandang pengembala domba menjadi bangunan kuno papua barat.

  • Nanya dulu “mengapa terjadi” baru bisa dicari solusi. Jgn selalu alasan HAM jika aparatur bertindak, dan ketika aparatur “ditindak” kata HAM disingkirkan.

  • Yang tidur nyenyak adalah Gembala Domba (pimpinan gereja) seperti Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM. Sebelumnya aktif menyuarakan kasus – kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua, namun akhir – akhir ini tinggal diam dan bungkam seribu bahasa. Ada apa ini ? Jangan – jangan seorang Uskup yang notabenenya adalah Gembala Umat dan mempunyai tugas dan tanggung jawab penuh atas penyelamatan jiwa – jiwa manusia Papua, disusupi dan dihasut oleh si iblis pembunuh dan pemusnah manusia Papua. Semoga sadari dan bertobat !!!