ArsipTokoh Adat: Kasus Tolikara Terjadi Akibat Arogansi Aparat TNI/Polri

Tokoh Adat: Kasus Tolikara Terjadi Akibat Arogansi Aparat TNI/Polri

Kamis 2015-07-23 05:19:18

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sekertaris II Dewan Adat Papua (DAP), Jhon NR Gobay menilai, insiden yang terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua, dikarenakan arogansi aparat keamanan dalam menghadapi pemuda gereja yang notabene orang asli Papua.

“Kalau aparat TNI/Polri tidak kedepankan kekerasan, tidak mungkin para pemuda bisa bakar kios. Tapi karena main tembak-tembak hingga 12 orang pemuda gereja kena peluru tajam, itu yang justru timbulkan kemarahan,” kata Gobay, dalam siaran pers yang dikirim kepada redaksi suarapapua.com, Kamis (23/7/2015).

 

Menurut Gobay, selama ini aparat keamanan yang bertugas di seluruh Tanah Papua selalu kedepankan emosional dan kekerasan dalam menghadapi massa, dibandingkan melakukan dialog persuasif untuk menciptakan kedamaiaan.

 

“Selain peristiwa Tolikara, juga kita bisa lihat peristiwa penembakan empat siswa oleh aparat keamanan di Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua, pada 8 Desember 2014 lalu, hingga saat ini belum juga dituntaskan.”

 

“Jadi, aparat keamanan di seluruh Tanah Papua bekerja dengan emosional, ini sebenarnya penyulut konflik di Tanah Papua, apalagi tidak pernah ada hukuman (impunitas) bagi aparat keamanan yang jelas-jelas melakukan pelanggaran HAM,” kata Gobay.

 

Gobay juga menyesalkan sikap masyarakat Indonesia, termasuk sejumlah pimpinan Negara yang memberikan respon begitu cepat ketika Musolah di Tolikara ikut terbakar, berbeda dengan berbagai peristiwa pelanggaran HAM yang selalu diabaikan.

 

“Ada standar ganda, nyawa orang Papua dianggap tidak penting, sehingga kalau ada berbagai pelanggaran HAM tidak pernah ada yang bicara cepat, ini sangat kami sesalkan,” katanya.

 

Sebelumnya, terkait insiden di Tolikara, Pdt. Dorman Wandikmbo menegaskan, kepada suarapapua.com, bahwa pemuda gereja tidak melarang, bahkan melakukan pembakaran terhadap Mushola, namun hanya ingin mempertanyakan ketegasan aparat TNI/Polri terkait kesepakatan bersama yang pernah dilangsungkan beberapa waktu lalu, namun sudah keburu alat negara (senjata) digunakan untuk menembak 12 pemuda gereja.

 

“Saya mau tegaskan bahwa tidak benar masyarakat Tolikara, atau warga gereja GIDI melakukan pembakaran terhadap Mushola (seperti pemberitaan berbagai media massa di tingkat nasional), namun hanya beberapa kios yang dibakar pemuda, dan merembet hingga membakar Musolah karena dibangun menggunakan kayu, dan berhimpit-himpit dengan kios/rumah milik warga Papua maupun non-Papua, sehingga dengan cepat melebar dan terbakar.”

“Tindakan spontan yang dilakukan beberapa pemuda membakar beberapa kios ini muncul karena ulah aparat keamanan yang tak bisa menggunakan pendekatan persuasif, tapi menggunakan alat-alat Negara (senjata dan peluru) untuk melumpuhkan para pemuda tersebut. Kami minta Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), dan Panglima TNI untuk juga mengusut tuntas penembakan warga sipil oleh aparat keamanan yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia (Endi Wanimbo, usia 15 tahun), dan 11 orang terluka,” kata Dorman.

 

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Pembangunan RS UPT Vertikal Papua Korbankan Hak Warga Konya Selamat dari...

0
“Penegasan ini disampaikan berdasarkan ketentuan bahwa kawasan resapan air dilarang adanya kegiatan yang berpotensi menimbulkan perubahan lingkungan fisik alami ruang untuk kawasan resapan air dan penggunaan lahan untuk bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi mata air sebagaimana diatur pada Bagian V tentang pengaturan zonasi angka 2 Peraturan Daerah Kota Jayapura nomor 1 tahun 2014,” ujar Gobay.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.