ArsipTelenovela Berjudul Papua TV Kitong Suka (Bagian 1)

Telenovela Berjudul Papua TV Kitong Suka (Bagian 1)

Minggu 2013-08-11 14:54:45

DIBANDING media konvensional (koran/majalah, radio, televisi), media online termasuk facebook dan twitter, punya kelebihan, kekuatan, kebebasan, keunikan sekaligus kelemahan dan bau bacinnya sendiri-sendiri. Lewat facebook dan twitter, orang bisa mengungkapkan apa saja yang mustahil tersalurkan atau dicover media konvensional. Entah dengan maksud agar diketahui orang lain, ataukah sekadar hanya mengekspresikan isi hati dan pikirannya.

 

Sekadar contoh, di akun facebooknya, satu sobat dengan enteng, berkicau menulis, “Papua Televisi dibunuh, selamat datang Majalah Papua Bangkit”. Sobat ini jelas mengomentari sengkarut masalah yang tengah melilit dan membelit stasiun televisi swasta pertama milik masyarakat dan pemerintah di Provinsi Papua. Dan, ketika stasiun televisi swasta milik Pemda Provinsi Papua itu sedang mati suri akibat salah kelola dan akibat sindroma “ganti pemimpin, ganti selera”, di satu hotel berbintang di Kota Jayapura, baru saja diluncurkan satu majalah wah (dari sisi fisik) bernama “Papua Bangkit”. Disebut wah karena majalah tersebut bukan hanya diluncurkan pertama kali di sebuah hotel berbintang, tetapi fisiknya memang wah. Simaklah semua halamannya yang berjumlah 112 dan full-colour, serta dicetak menggunakan kertas yang kualitasnya lebih mahal ketimbang majalah TEMPO sekalipun.

Fisik Majalah Papua Bangkit (MPB) lebih wah ketimbang fisik majalah TEMPO, majalah berita terkemuka di atau milik NKRI itu. Lalu, bagaimana dari sisi isi dan atau semangatnya? Hendak merujuk pada TEMPO jugakah? Ssstt… itu hal lain. Fisik yang lebih wah dan peluncuran perdana di hotel berbintang adalah satu hal, isi dan semangat adalah hal lain. Tanpa perlu mengerutkan dahi dalam-dalam, dan hanya dengan sekadar membolak-balik halaman demi halaman MPB tanpa perlu memelototi isinya, siapa pun yang (cukup) paham tentang pers atau jurnalisme segera tahu bahwa tujuan dan segmen dua majalah tersebut berbeda.

Bukan hanya karena TEMPO telah puluhan tahun jatuh bangun untuk sampai pada kondisi sekarang, sedangkan MPB baru nongol edisi perdana, namun hanya dengan melihat adanya lambang (logo) Pemda Provinsi Papua yang secara mencolok tertera di bagian kiri atas cover depan MPB, orang segera paham bahwa MPB adalah corong Pemda Provinsi Papua. Dan, hanya dengan melihat judul edisi perdana MPB yang berjudul ”Review Gebrakan 100 Hari Kerja Gubernur & Wakil Gubernur Papua”, kita segera tahu bahwa MPB adalah pintu dan jendela bagi siapapun yang hendak melongok seperti apa isi rumah Pemda Provinsi Papua setelah 100 hari di bawah kepemimpinan Gubernur Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Klemen Tinal.

Sedangkan TEMPO, sejak awal dan sejauh ini terus bergumul untuk selalu menjadi corong masyarakat Indonesia, sekaligus menjadi pintu dan jendela bagi siapapun di dalam maupun di luar sana (NKRI) yang hendak melongok dan mengetahui seperti apakah isi rumah NKRI. Niscaya sejak pertama kali diluncurkan sampai sekarang, TEMPO terus bergumul untuk menjadi simbol peradaban masyarakat Indonesia. Kalau sepakat dengan mendiang Rosihan Anwar bahwa pers selangkah di depan peradaban, maka bagaimana rupa dan karakter TEMPO hari ini, seperti itu pulalah rupa dan karakter masyarakat Indonesia. Bedanya, TEMPO hanya selangkah di depan, begitu yang saya paham dari kalimat legendaris mendiang Rosihan Anwar: “Pers Selangkah di depan Peradaban”.

Dari sisi fisik dan umur serta semangat ketidakberpihakan (netralitas), membandingkankan MPB dan TEMPO memang seperti perbuatan tolol membandingkan minyak dan air. Tapi bukankah minyak dan air adalah sama-sama larutan? MPB dan TEMPO niscaya punya kesamaan, yaitu sama-sama bisa menjadi bahan rujukan. Kalau TEMPO menjadi rujukan bagi siapapun yang ingin mengetahui bagaimana perkembangan terkini Indonesia sepekan terakhir, maka MPB adalah rujukan bagi siapa pun yang ingin mengetahui sudah seperti apa rupa Provinsi Papua pasca 100 hari dipimpin Gubernur Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Klemen Tinal. Dari aspek ini, TEMPO dan Papua Bangkit punya kesamaan: sama-sama informatif.

Sama-Sama Wah di Awal

Kembali ke kicauan “Papua Televisi Dibunuh, Selamat datang Majalah Papua Bangkit”. Ketika pertama membaca kicauan teman itu, dan setelah membolak balik halaman demi halaman MPB, saya pun mengenang dan teringat kembali peristiwa yang terjadi pada 20 Mei 2007 di lantai tujuh Gedung Kantor Bank Papua di Jayapura seolah tengah menonton kembali peristiwa itu di layar kaca. Juga serangkaian kejadian sebelum dan setelah 20 Mei 2007 malam itu.

Lantai tujuh Kantor Bank Papua 20 Mei 2007 malam. Malam itu, Stasiun Televisi Swasta milik masyarakat dan Pemerintah di Tanah Papua bernama Metro Papua Televisi mengudara untuk pertama kalinya (on-air). Kalau peluncuran edisi perdana MPB di hotel berbintang, maka siaran pertama Metro Papua Televisi mengambil tempat di Lantai tujuh Kantor Bank Papua, satu dari sedikit gedung berlantai di Tanah Papua yang menggunakan lift. Gedung Kantor Bank Papua adalah asset Pemda Provinsi Papua yang tergolong paling wah diantara kantor-kantor milik pemerintah maupun swasta di Papua.

Layaknya sepasang selebriti, Amanda Manuputi dan Hendra Waromi menjadi pemandu acaranya (host). Pemilihan Amanda yang nice-looking menyejukkan mata dan hati kaum Adam yang melihatnya, begitu pula Hendra Waromi yang hitam manis yang juga nice-looking di mata kaum Hawa, bukan tanpa maksud. Amanda dan Hendra dipilih bukan hanya karena memenuhi persyaratan camera-face. Ada alasan dibalik pemilihan mengapa Amanda dan (harus) Hendra. Ada pesan yang hendak dikirim dan disampaikan kepada publik lewat Amanda dan Hendra sebagai host.

Kalau berdiri di depan kamera bukanlah hal asing lagi bagi Amanda sebab dia sebelumnya adalah repoter (wartawati) Metro TV, menjadi host acara live televisi bagi Hendra, itulah “hit-perdana”-nya. Kalau Amanda sebelum 20 Mei 2007 sudah makan garam di dunia televisi dan pemberitaan, maka Hendra benar-benar anak baru. Hendra adalah produk dari operasi kilat supercepat crew Metro TV pimpinan Adrianus Pao dari markas besarnya di Kedoya Jakarta yang dikirim ke Papua untuk mempersiapkan pendirian, dan memastikan stasiun televisi swasta pertama milik masyarakat dan pemerintah di Tanah Papua  on-air pada 20 Mei 2007, lalu mengawal perjalanannya.

Kepada saya kira-kira dua pekan sebelum 20 Mei 2007, Adrianus Pao mengatakan, di Kedoya (markas besar Metro TV Jakarta), untuk tampil menjadi host pada acara di prime-time, reporter pemula setidaknya harus magang dulu 6 bulan atau lebih dulu dilatih tampil menjadi host di acara-acara bukan di  prime-time setidaknya tiga bulan. Mendengar ucapan Adrianus, saya menjawab, “Oke Bung. Tapi siapa yang jadi host pada on-air perdana nanti, harus salah satunya dari Papua. Tidak bisa dua-duanya bukan dari Papua.”  Adrianus memahami pesan di balik jawaban saya. Maka Hendra Waromi pun di-drill dalam 10 hari untuk menjadi host pada 20 Mei 2007 malam.

Selain memilih Lantai 7 Kantor Bank Papua karena pertimbangan teknis, on-air perdana Metro Papua TV juga sengaja didisain wah. Sehari sebelum on-air perdana, Andi Flores Noya yang supersibuk karena menjabat Pemimpin Redaksi Metro TV, sudah tiba di Jayapura. Pada 19 Mei 2007 pagi, saya dan Adrianus Pao menjemput Andi di Bandara Sentani. Andi datang bukan hamya untuk menghadiri on-air perdana Metro Papua TV, melainkan juga untuk memandu acara talk-show langsung dengan Wakil Presiden Jusuf  Kalla. Kedatangan Andi untuk menjadi host acara wawancara langsung dengan Wapres Jusuf  Kalla, lalu disain acara wawancara yang live dengan Wakil Presiden RI, sengaja direncanakan dan diadakan untuk menunjukkan dan memperlihatkan kepada khalayak berada di level mana kapasitas Metro TV sebagai stasiun televisi swasta dengan genre televisi berita pertama di Indonesia. Jelas, bukan main-main atau tidak main-main, Pemimpin Redaksi Metro TV khusus datang ke Jayapura untuk memandu sebuah acara siaran langsung milik Stasiun Televisi Swasta milik masyarakat dan Pemerintah Daerah Provinsi Papua, dimana Wakil Presiden RI terlibat!

Maka niscaya tertemukan satu kesamaan antara Metro Papua Televisi dan Majalah Papua Bangkit yaitu sama-sama wah dan glamour di pemunculan perdananya. Kebetulan, MPB pun memberi perhatian dengan menyediakan dua halamannya untuk mengulas sengkarut masalah yang tengah melilit Papua TV dengan artikel berjudul “Gubernur Bekukan Papua TV”.

Ketika membaca artikel itu, benak saya pun muncul pertanyaan, “Lho kok bisa Gubernur yang bekukan? Bukankah Gubernur sebelumnya meragukan televisi Papua adalah milik Pemda Provinsi Papua?”

Papua TV adalah satu-satunya stasiun televisi yang menyiarkan secara langsung seluruh prosesi acara pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua periode 2013-2018 tanggal 9 April 2013 di Stadion Mandala, sehingga acara pelantikan gubernur dan wakil gubenur yang pertama kalinya digelar di ruang terbuka itu bisa disaksikan lewat layar kaca. Bahkan jauh sebelum acara prosesi pelantikan di Standion Mandala dimulai, Papua TV sudah lebih dulu live dengan membedah dan memperkenalkan sosok-sosok yang akan dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur, dengan dua narasumber di studionya yaitu Ramses Wally (Ketua PKPI Provinsi Papua, salah satu satu partai pengusung Lukas Enembe dan Klemen Tinal) dan Lamadi de Lamato.

*Mathias Rafra adalah mantan wartawan SKM Tifa Irian. Ia termasuk salah satu pendiri Televisi Mandiri Papua (Papua TV) 

Terkini

Populer Minggu Ini:

PNG Rentan Terhadap Peningkatan Pesat Kejahatan Transnasional

0
“Karena lokasinya, PNG berfungsi sebagai titik transit penyelundupan senjata api, obat-obatan terlarang, perdagangan satwa liar, pembajakan laut, dan kejahatan transnasional lainnya melintasi perbatasan. Negara ini mempunyai resiko tinggi terhadap pergerakan orang dan barang yang tidak terkendali melalui darat dan laut, karena perbatasannya sebagian besar terbuka,” beber peneliti Julian Melpa.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.