ArsipIni Empat Sanksi Tegas Dari Komdis PSSI untuk Persipura Jayapura

Ini Empat Sanksi Tegas Dari Komdis PSSI untuk Persipura Jayapura

Sabtu 2014-10-25 10:23:30

JAKARTA, SUARAPAPUA.com — Tim Persipura Jayapura mendapatkan banyak sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, terkait insiden yang terjadi saat menjamu Arema Cronus di Stadion Mandala Jayapura, Papua, Selasa (21/10/2014), di laga delapan besar ISL 2014.

Komdis PSSI memberikan empat sanksi untuk pemain, ofisial, dan panitia penyelenggara pertandingan (panpel) bagi tim berjuluk Mutiara Hitam. Keputusan itu dibuat di sidang Komdis di Kantor PSSI, Jakarta, Kamis (23/10/2014).

Sanksi pertama untuk Ruben Karel Sanadi. Sanadi dinilai sebagai pemicu perkelahian dengan pemain Arema Cronus, Dendy Santoso. Atas insiden itu, Sanadi dilarang membela tim di dua laga, sedangkan Dendy disanksi satu laga.

“Jika ditambah dengan hukuman kartu merah maka dia (Ruben Sanadi) dilarang tiga kali bermain. Sementara, Dendy dilarang dua kali pertandingan (kartu merah dan satu larangan tampil dari komdis),” ujar Ketua Komdis PSSI, Hinca Panjaitan.

Sanksi kedua diterima Dominggus Fakdawer. Fakdawer mendapatkan sanksi larangan bermain di dua pertandingan. Komdis menilai Fakdawer memicu keributan yang melibatkan dua ofisial tim Persipura.

Sanksi ketiga untuk dua orang ofisial Persipura yang melakukan aksi tidak patut saat menyerang kiper Arema, Kurnia Meiga. Sanksi berat yang diterima keduanya berupa dilarang beraktivitas di sepak bola selama satu tahun.

“Dua orang ofisial selain dilarangan beraktivitas di sepak bola, juga mendapatkan sanksi denda" kata Hinca.

 

Sedangkan sanksi keempat diterima Panpel pertandingan, berupa denda uang sebesar Rp. 100 juta, karena ulah suporter selama pertandingan.

"Pemberian hukuman ini membuat semua permasalahan yang terjadi antara Persipura dan Arema sudah diselesaikan," kata Hinca.

ADMIN

Terkini

Populer Minggu Ini:

PNG Rentan Terhadap Peningkatan Pesat Kejahatan Transnasional

0
“Karena lokasinya, PNG berfungsi sebagai titik transit penyelundupan senjata api, obat-obatan terlarang, perdagangan satwa liar, pembajakan laut, dan kejahatan transnasional lainnya melintasi perbatasan. Negara ini mempunyai resiko tinggi terhadap pergerakan orang dan barang yang tidak terkendali melalui darat dan laut, karena perbatasannya sebagian besar terbuka,” beber peneliti Julian Melpa.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.