ArsipPertemuan di Vanuatu Jangan Sampai Disusupi Kelompok Pro Merah Putih

Pertemuan di Vanuatu Jangan Sampai Disusupi Kelompok Pro Merah Putih

Minggu 2014-11-30 17:16:30

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Gerakan Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat Papua Barat (GempaR) meminta panitia penyelenggara menjaga secara ketat penyelenggaraan simposium di Port Vila, Vanuatu, agar tidak disusupi oleh kelompok orang Papua yang pro-merah putih.

“Kelompok pro merah putih yang kami maksudkan seperti Frans Albert Yoku, Nicolas Messet dan Febiola Ohee, panitia harus menjaga ketiga orang ini agar mereka tidak bermanufer,” kata Samuel Womsiwor, aktivis GempaR, kepada suarapapua.com, Minggu (30/11/2014).

 

Menurut Samuel, ketiga orang yang disebutkan diatas selama ini dipakai oleh pemerintah Indonesia untuk mematai-matai para aktivis dan diplomat Papua Merdeka di luar negeri. (Baca: PM PNG Sewa Pesawat Berangkatkan Delegasi Papua Barat ke Vanuatu).

 

“Tiga orang agen Intelijen Indonesia ini ikut buat keanggotaan Papua dalam Melanesian Spearhead Group gagal, mereka juga yang gagalkan pertemuan para menteri luar negeri negara-negara Pasifik dengan tokoh-tokoh Papua, mereka ini harus diawasi secara serius,” kata Samuel.

 

Jika panitia tidak menetapkan aturan yang ketat, Samuel justru kuatir, pertemuaan akbar yang menghadirkan ratusan tokoh Papua ini akan dikacaukan oleh agen-agen Indonesia yang memang ditugaskan untuk menghancurkan persatuan orang Papua. (Baca: PM Vanuatu: 1 Desember Libur Nasional Kemerdekaan Papua di Vanuatu).

 

“Kami mahasiswa dan rakyat Papua Barat berharap pertemuaan nanti menghasilkan suatu keputusan politik yang bisa membawa perjuangan ini ke rel yang benar, karena itu manufer agen-agen Indonesia harus diwaspadai,” katanya.

 

Samuel juga meminta kepada para delegasi dari Papua, juga diplomat Papua Merdeka di luar negeri untuk tidak membangun relasi dengan para kelompok merah putih yang sudah pasti hadir untuk mengacaukan agenda penyatuan tersebut. (Baca: Simposium Rakyat Papua Barat Digelar 1 Desember 2014).

 

“Juga jangan sampai ada delegasi Papua sendiri yang mengundang mereka, atau membangun komunikasi dengan ketiga orang diatas untuk mengacaukan pertemuaan, semua harus solid, demi persatuan menuju pembebasan nasiona bangsa Papua Barat,” katanya.

 

Sementara itu, Ketua Forum Independen Mahasiswa (FIM), Teko Kogoya menambahkan, seluruh rakyat Papua Barat mengharapkan pemimpin-pemimpin politik Papua Barat yang akan bertemu di Port Vila, Vanuatu, untuk bersatu demi tujuan bersama.

 

“Semua harus tinggalkan ego, tinggalkan kepentingan organisasi dan pribadi, tapi kami harap bisa bersatu, untuk dan demi penderitaan rakyat bangsa Papua Barat dibawah kolonialisme Indonesia,” katanya.

 

Teko juga menghimbau kepada seluruh aktivis, mahasiswa, dan rakyat Papua Barat menggelar doa, agar pertemuaan yang dimulai pada 1 – 4 Desember 2014 dapat berjalan dengan baik.

 

“Tugas kita di dalam negeri hanya memberikan dukungan dalam bentuk doa, agar ada hasil yang dibawa pulang, minimal agar dapat dipakai untuk mengakhiri penderitaan bangsa Papua Barat,” tegasnya.

 

Sebelumnya, Ketua Panitia penyelenggara, Pastor Allan Nafuki mengatakan, simposium rakyat Papua Barat yang mengalami penundaan beberapa kali sudah dipastikan digelar pada 1 Desember 2014.

 

Kata Pastor Nafuki, pertemuan diharapkan membentuk tawaran konsep baru dari rakyat Papua untuk menjadi anggota Melanesia Spearhead Group (MSG). (Baca: Simposium Rakyat Papua Barat Digelar 1 Desember 2014).

“Sebuah aplikasi keanggotaan formal oleh Koalisi Nasional Papua Barat untuk Pembebasan akan mengetuk kembali MSG, sebab para pemimpin minta organisasi yang lebih representatif,” kata Nafuki.

Nafuki mengatakan, ia juga berharap konferensi dapat menghasilkan keputusan otonom pada penentuan nasib sendiri untuk kemerdekaan.

 

"Kami meminta setiap kelompok, baik pro, atau tidak pro untuk datang, sehingga pada akhir KTT, tidak ada yang akan mengatakan KTT Vanuatu tidak diwakili. Jadi, kami ingin memberikan semua orang kesempatan di KTT ini,” kata Nafuki. (Baca: 1 Desember Harus Jadi Momen Melawan Lupa Pelanggaran HAM di Papua).

 

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Adakah Ruang Ekonomi Rakyat Dalam Keputusan Politik?

0
Kekosongan tugas yang menyolok di mata itu harus menjadi tanggung jawab prioritas yang mesti diemban para calon pemimpin yang tengah bergulat merebut kursi parlemen. Dalam urusan dan keputusan-keputusan politik kedepan di masing-masing provinsi dan kabupaten diharapkan sudah bisa menyediakan instrumen kebijakan dan peraturan yang lebih mengutamakan dan menyelamatkan rakyat Papua yang berkutat dengan kegiatan ekonomi kerakyatan di Tanah Papua.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.