Suara Papua, Teruslah Menjadi Media Rakyat Papua

0
14771

Oleh: Benyamin Lagowan)*

Pertama kali saya mendengar nama situs berita online yang disebut suarapapua.com ini sejak tahun 2011 silam. Tetapi karena pemahaman yang minim tentang situs berita online, maka saat itu saya tidak tertarik untuk membahas atau pun mencari tahu lebih lanjut tentang situs web itu. Mungkin hal ini karena di awal-awal tahun 2010-an jika kita hendak mengakses internet, satu-satunya tempat adalah di warung internet (warnet), saat itu belum ada HP masih belum familiar seperti saat ini. Kemudian penggunaan dan pembelian pulsa data juga tidak sefamiliar saat ini.

Setelah beberapa tahun kemudian, suarapapua.com menjadi terkenal sebagai salah satu media informasi tentang Tanah Papua. Perkembangan media ini selaras dengan penulis yang berada di Jayapura sejak tahun 2010, sehingga perjalanannya yang berliku dapat dipahami dengan baik.

Akhirnya kehadiran situs berita ini menjadi salah satu dari media alternatif di Papua dalam menyediakan beragam berita dan informasi dari seluruh Papua. Bagi penulis membaca berita dan informasi dari situs yang dirintis oleh kawan-kawan muda Papua ini adalah kebutuhan dan bahkan telah menjadi candu.

Bertemu dengan Pimpinan Redaksi Suara Papua

Informasi tentang kehadiran situs berita online SP sudah mulai meluas di kalangan rakyat Papua khususnya mahasiswa dan pemuda se-kota studi Jayapura sejak 2013. Bagi penulis, perjumpaan awal dengan pimpinan redaksi SP, alm. Oktovianus Pogau terjadi pada sekitar tahun 2013. Perjumpaan awal itu terjadi setelah kontak awal pada penayangan film Cinta Dari Wamena di salah satu gedung di Kota Jayapura. Tetapi pada momen itu tidak ada percakapan dan perkenalan yang berarti.

Namun, perjumpaan itu rupanya telah menjadi catatan awal tersendiri bagi Sang Pimred. Pada tahun 2014 setelah pecahnya mogok berkepanjangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Uncen, kedekatan penulis dengan ‘Okto’ sapaan akrab pimpred SP pun tercipta [1]. Memang, orang akan merasa iri, bahkan heran sama pace Okto itu. Dia orangnya idealis, smart, humoris dan lincah alias cekatan. Bagi penulis orang-orang muda Papua seperti sosok beliau adalah langka.

Pertemuan puncak pada tahun 2014 itu terjadi ketika saya (penulis) ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO) oleh Polsek Abepura atas persoalan FK Uncen yang berkepanjangan saat itu. Bermula dari advokasi hukum dan pers yang dibangun oleh Okto untuk melindungi saya dan kawan-kawan yang sedang dicari oleh pihak kepolisian [2]. Okto menghubungi saya untuk menyerahkan kasus penangkapan dan DPO kami kepada seorang advokat hukum terkemuka di Papua. Pada waktu itu beliau berhasil mendapatkan nomor kontak saya, dan menghubungi saya. Setelah berbicara beberapa menit, ia menjemput saya dari tempat persembunyian untuk segera menemui advokat tersebut untuk advokasi selanjutnya atas penangkapan yang dinilai tidak prosedural dan cacat hukum itu. Setelah bertemu advokat itu, saya menandatangani surat kuasa untuk mempraperadilankan Kapolsek Abepura saat itu, Kompol Decky Hursepuny [3].

Seusai pertemuan itu, kami banyak sharing  informasi seputar kehidupan aktivis di Papua, rumitnya persoalan di Papua, hingga berbagi pengetahuan dan pengalaman menjadi jurnalis muda serta visi dan misinya mengenai pengembangan SP di kemudian hari. Begitulah kiranya pertemuan awal kami terjadi.

Kesan pertama yang akan ditangkap tiap orang baru terhadap Okto adalah, sok tahu, sok idealis, sok dewasa dan oleh karenanya orang akan penasaran terhadapnya. Itulah kelebihan anugerah Tuhan kepada sang idealias yang disebut jenius itu. Nayak semoga hat tenang di sana.

Sebagai penghargaan atas kegigihan Okto dalam dunia pers, maka Yayasan Pantau yakni organisasi yang bertujuan meningkatkan mutu jurnalisme di Indonesia yang didirikan pada tahun 1999 mengabdikan nama Oktovianus Pogau sebagai nama penghargaan kepada tiap jurnalis Indonesia yang  dianggap berprestasi dalam dunia jurnalisme [4].

Bayi SP dan Perkembangannya

SP didirikan pada tahun 2011 oleh Alm. Oktovianus Pogau. Dalam perjalanannya, Suara Papua dijalankan bersama Arnold Belau yang kini jadi Pimred melanjutkan perjuangan kawannya Okto. SP bersama beberapa anak muda Papua lainnya saat itu. Sejak terbentuknya SP kini berusia 6 tahun dan pada tahun ini akan memasuki usia 7 tahun, tepatnya tanggal 10 Desember 2017. Jika kita analogikan SP sebagai manusia, maka SP saat ini seusia anak-anak. Demikian oleh karenanya, SP harus dijaga, diberi makan, dirawat dan dibesarkan agar kelak menjadi media yang berguna bagi tiap manusia yang membutuhkan berita dan informasi tentang Papua, Indonesia dan bahkan dunia. Tidak ada yang tahu mengapa dan bagaimana hingga Okto dan beberapa kawannya dengan berani bertekad mendirikan SP. Itu panggilan, dan rahasia mereka.

Tentunya pendirian SP sebagai media pertama yang dikelola oleh generasi milenial asli Papua ini adalah luar biasa. Tentu tanpa berfikir panjang dan khawatir akan modal yang besar bagi pengelolaan sebuah media online, mereka dengan tekad dan niat yang tulus membuka situs media SP ini.

Media yang di kemudian hari akan diperhadapkan pada berbagai tantangan yang serius. Salah satunya adalah dari pemerintah Indonesia. Tantangan yang utama adalah meninggalnya Sang Pimred, Oktovianus Pogau pada tahun 2015 silam [5]. SP yang sedang bertumbuh tentu berada pada kondisi memprihatinkan karena akan terlantar dan bisa saja lenyap (ditutup). Namun, bayi SP itu selamat setelah kembalinya, Mepa Arnold untuk meneruskan dan mengasuh SP. SP kecil pun kini tidak sendirian lagi. Ia masih dibina dan dilindungi untuk bertumbuh dan berkembang hingga saat ini.

Mepa Arnold sudah kembali dan telah berjanji untuk meneruskan perjuangan kawannya Okto yang sudah duluan berpulang ke pace di atas.

SP “Kecil” Diblokir oleh “Si Tua” Pemerintah Indonesia

Pada 4 November 2016 silam, Pemerintah Indonesia memblokir situs berita online SP tanpa alasan yang jelas [6]. Kementerian Komunikasi dan Informasi melakukan pemblokiran terhadap situs SP dengan dugaan  menyebarkan informasi yang bersifat  radikal, SARA dan pornografi. Pada waktu itu pemerintah Indonesia melalui Kemenkominfo tidak menyebutkan secara langsung alasan pemblokiran situs SP, sebab SP tidak masuk dalam 11 kategori situs berita yang diblokir karena mengandung ketiga unsur larangan tadi [7]. Ternyata setelah ditelusuri, sesungguhnya terdapat 14 situs berita online yang diblokir [8]. Tetapi anehnya si kecil SP tidak disebutkan ataupun dicantumkan dalam rilis resmi pemerintah Indonesia lewat Kemenkominfo. Lalu, mengapa SP tidak disebutkan dalam rilis resmi pemerintah Indonesia itu?

Jawabannya jelas, diduga SP dianggap sebagai media separatis di Papua. Apakah ini layak dan relevan? Sementara semua pemberitaan SP tidak pernah mengabaikan ketentuan-ketentuan pemberitaan yang diatur oleh Dewan Pers dan UU Pers. Apakah itu sebetulnya upaya pembungkaman suara kebenaran dan keadilan rakyat Papua? SP yang sedang bertumbuh itu ibarat dihantam tembok raksasa. Namun dengan kerja keras dan usaha yang tulus dari Pimred dan beberapa advokasi, SP kecil telah aktif dan secara bebas hadir menjadi penyambung lidah rakyat tak bersuara di seluruh negeri ini dari pelosok Papua.

Kontribusi, Masa Depan dan Tantangan SP

Kini SP menjadi media alternatif yang sedang bertumbuh dan berkembang subur. Meski baru memasuki usia 6 tahun, tetapi secara nyata telah berkontribusi banyak dalam menyediakan berita melalui check and balances atas berbagai kebijakan pemerintah pusat hingga daerah. Ia telah menjadi jendela atas beragam aspirasi dan peristiwa dari Tanah Papua sejak 2011. Berbagai informasi dan berita seputar pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, HAM, Hukum dan sebagainya telah dihadirkan ke ruang publik luas.

Yang patut digarisbawahi dan diapresiasi adalah perannya yang mana telah memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan berita. Di mata rakyat Papua, SP itu istimewa karena sejak awal mulanya telah dirintis dan dikelola oleh anak-anak muda Papua. Ia unik karena menjadi penyambung suara rakyat yang tidak pernah didengar dan dipublikasikan oleh berbagai media utama lokal dan nasional di Indonesia.

Saat ini SP yang baru usia 6 tahun itu telah berkembang pesat dan menjadi yang terbaik dari beberapa situs berita online lokal Papua. Menurut Alexa.com, sebuah situs penghitung ranking akses situs berita online, pada bulan November 2017 ini SP berada di peringkat kedua setelah tabloidjubi.com dari semua situs berita online asal Papua. Sedangkan menurut Cutestat.com dan Similarweb.com, SP masing-masing berada pada peringkat ketiga setelah Kabarpapua.co dan Wartaplus.com [9].

Dengan mengadopsi sebuah ilustrasi tentang pohon bahwa: “semakin tinggi suatu pohon, maka akan semakin kencang angin yang akan menerpa”, maka si anak SP perlu mawas diri sambil terus menyuarakan suara kaum terabaikan, dan kaum tak bersuara di seluruh Tanah Papua. Sebab engkau telah memilih menjadi Suara Papua; suara rakyat Papua demi kebenaran dan keadilan bagi rakyat Papua. Teruslah jadi media suara rakyat dalam mewartakan kebenaran ke seluruh penjuru dunia.

Dalam usiamu yang ke 7 ini perkenankanlah kami mengenang si jenius Okto di mata rekan-rekan jurnalis Indonesia.

Oktovianus Pogau bukan sekedar teman dan adik buat saya. Dia adalah tandem sekaligus rival buat saya. Dia adalah “otak kiri” saya dalam dunia jurnalistik. Dia adalah “separuh jiwa” saya dalam dunia jurnalistik. Dia tak ada bandingnya. Dia tak ada tandingnya. Dia membuka lebar mata banyak orang tentang apa yang sebenarnya terjadi di Papua. Dia pantas dikenang sebagai pejuang pembebasan, karena dia adalah legenda. Amakane. RIP Mepa! (Jurnalis Senior tabloidjubi.com, Victor Mambor)

Dua jam lalu saya mendapatkan kabar, sahabat saya Oktovianus Pogau -seorang jurnalis di Papua dan rekan saat mengikuti program IVLP di Amerika Serikat- telah meninggal dunia karena sakit. Kabar ini sungguh mengejutkan dan tentu saya merasa sangat kehilangan. Selamat Jalan kawan, Semoga Tuhan memberikan tempat yang mulia untukmu. (Jurnalis Tempo di Ternate, Budhy Nurgianto)

… Ah Ade, sa yakin ko deng kawan-kawan akan trus berjuang di sana, di tempat keabadian itu. Mintalah trus ke Tete Manis agar bangsa Papua dan bangsa-bangsa lain di Indonesia segera merdeka dari segala bentuk penghisapan dan penindasan. Selamat jalan Ade. RIP. (Jurnalis Senior Warta Kota, Willy Pramudya)

Selamat Ulang Tahun dan Panjang Umur suarapapua.com (SP)!

Teruslah Menjadi Suara Rakyat!

)* Penulis adalah alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Saat ini sedang Koas di RSUD Dok II Jayapura.

Referensi:

  1. Lagowan B. 2016. Pergerakan Mahasiswa Kedokteran Papua: Potret Aktifisme di FK Uncen, Honai Center-BEM FK, Jakarta
  2. https://suarapapua.com/2014/10/31/polisi-ciduk-lima-mahasiswa-fk-uncen/
  3. http://tabloidjubi.com/16/2014/07/21/7-mahasiswa-ditangkap-di-mess-kedokteran-uncen/
  4. https://pantau.or.id/?/=d/757
  5. https://www.teraslampung.com/oktovianus-pogau-jurnalis-terbaik-papua/
  6. http://tabloidjubi.com/play-30-suara-papua-dibungkam.html
  7. https://news.detik.com/berita/d-3390134/11-media-yang-diblokir-kemenkominfo-tak-terdaftar-di-dewan-pers
  8. http://tabloidjubi.com/play-30-suara-papua-dibungkam.html
  9. https://web.facebook.com/arnoldbelaupapua?fref=ts