Deiyai, Gunung Pencipta Klaim

0
2768

Oleh: Mikael Tekege)*

Berdasarkan pergumulan masyarakat, artikel Amrina R. Wijaya berjudul “Menyoal Perenggutan Hak Atas Toponimi di Papua” yang dimuat di harian indoPROGRESS.com, edisi 18 Desember 2017, mempengaruhi saya untuk mempertanyakan Deiyai yang kini bukan lagi nama gunung. Deiyai sebelumnya nama gunung yang bermakna dan dibanggakan oleh masyarakat di sekitarnya ini kemudian diadopsi menjadi nama tempat.

Gunung Deiyai terletak di tengah beberapa daerah di Meeuwodide (Paniai, Dogiyai dan Deiyai). Di bagian timur distrik Deiyai Miyo Kabupaten Paniai, bagian barat Distrik Kamuu Timur Kabupaten Dogiyai, bagian utara Distrik Muye Kabupaten Paniai dan bagian selatan Distrik Wakeitei Kabupaten Deiyai. Gunung Deiyai menjadi tapal batas antara ketiga kabupaten ini.

Gunung Deiyai memiliki panorama alam yang sangat indah di kala mentari bersinar begitu mulus. Batu-batu karang putih di puncak gunung bagaikan kusen rumah yang berkilau dipandang dari kejauhan. Awan putih tipis di lereng gunung membuat pemandangan dapat dicurigai berbagai bentuk rupa. Banyak misteri tersimpan di sana. Tiada kata lain, selain kata indah dipandang.

Masyarakat yang mendiami di sekitarnya melakukan aktivitas di gunung ini. Maka, tidak ada yang salah ketika orang-orang menyebut dengan bangga bahwa Gunung Deiyai merupakan bagian dari kampung halaman mereka. Gunung Deiyai memiliki makna dan kebanggaan bersama masyarakat hingga menyebut dan mengangkat nama gunung ini setinggi langit.

Para seniman Meeuwodide, terutama alm. Auleman Pekei, Herman You Dkk membentuk Group Musik Deiyai Tobe. Mereka selalu menyebut Gunung Deiyai dalam syair-syair lagu yang mereka nyanyikan. Begitu pula Meli Mote dengan lagunya yang terkenal di kalangan masyarakat Mee, yakni Di bawah Kaki Gunung Deiyai.

Ketika mendengar lagu berjudul Deiyai Watiya Yugiyono yang dinyanyikan oleh Ibu Salomina You, pasti akan paham maknanya bagi mereka yang tahu cerita rakyat berkaitan dengan gunung ini. Ada juga yang menyebut gunung ini melalui nyanyian-nyanyian adat dan sebagainya. Semua ini merupakan bagian dari mengangkat dan meninggikan nama Gunung Deiyai yang telah memposisikan diri menjadi kebanggaan bersama.

Deiyai Bukan Lagi Nama Gunung

Gunung Deiyai kini kehilangan nama. Hilangnya nama gunung tentu memiliki dampak negatif bagi masyarakat yang mendiami di sekitarnya ketika dipandang dari perspektif Toponimi.

Toponimi adalah cabang keilmuan khusus nama tempat yang mempelajari sejarah di baliknya, atau dalam bahasa Inggris toponymy, yang merupakan sebuah kata yang secara etimologis berakar dari bahasa Yunani yang terdiri dari prefiks top- (dari kata topos yang berarti “tempat”) dan onyma yang berarti “nama”.

Fenomena toponimi dapat terjelaskan dengan sempurna melalui dua konsep dalam strategi toponimi: yaitu, toponymic subjugation atau penundukan toponimis dan toponymic silence atau pembungkaman toponimis (Helander, 2014, dikutip Amrina R. Wijaya).

Penundukan toponimis didefinisikan oleh Helander sebagai hierarki yang ditanamkan secara sadar, di mana bahasa lokal dipandang subordinat ketimbang bahasa lain dalam menyebut sebuah tempat. Dalam konsep ini, nama resmi sebuah tempat yang diambil dari bahasa non-lokal dengan kekuatan politik membuat bahasa asli sekadar nama ‘alternatif’. Sementara itu, pembungkaman toponimis menjadi strategi yang lebih opresif; dalam strategi ini, bahasa dan istilah lokal untuk menyebut sebuah tempat tidak diakui sama sekali di hadapan negara.

Kedua konsep strategi toponimi yang berkaitan dengan penamaan tempat di Papua dapat dijelaskan secara rinci oleh Amrina R. Wijaya melalui artikelnya yang berjudul “Menyoal Perenggutan Hak Atas Toponimi di Papua”.

Berdasarkan kedua konsep strategi toponimi di atas, bagaimana melihat kasus nama gunung yang diadopsi menjadi nama tempat ini?

Nama Deiyai diambil dari bahasa lokal secara sadar dan dilegitimasi oleh negara, namun di sisi lain memiliki dampak negatif terhadap masyarakat karena telah kehilangan nama gunung kebanggaan mereka. Kini mereka tak mampu menyebut nama Gunung Deiyai secara lisan maupun tertulis karena nama ini telah dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Deiyai.

Dengan demikian, untuk melihat soal adopsi ini, penulis merasa perlu menambahkan konsep strategi toponimi campuran yang tentu tidak dijelaskan oleh saudari Amrina R. Wijaya melalui artikelnya. Strategi campuran ini penulis definisikan sebagai adopsi. Dalam strategi ini, istilah lokal untuk menyebut sebuah tempat diakui oleh negara, namun kehilangan makna.

Masyarakat yang mendiami di sekitar gunung ini mempertanyakan makna yang hilang tersebut. “Mengapa daerah yang dulu disebut Tigi ketika dimekarkan dari Kabupaten Paniai  diberi nama Kabupaten Deiyai?”

Pertanyaan seperti ini muncul di kalangan masyarakat, bukan karena mereka membenci orang-orang Kabupaten Deiyai, bukan juga mereka menghina atau meremehkan, tetapi lebih dari itu. Sejak Tigi menjadi Deiyai, ada sebuah luka yang tumbuh di kalangan masyarakat yang mendiami di sekitar gunung ini. Masyarakat merasa dilukai karena nama kabupaten ini merusak makna kebanggaan bersama. Mengklaim nama kebanggaan bersama menjadi milik masyarakat satu daerah.

Kadang kita anggap ini masalah sepele, sehingga tidak perlu dibahas atau dipersoalkan melalui tulisan, tetapi kebanyakan masyarakat merasa tidak mampu menyebut dan mengangkat nama gunung ini karena kini telah dilegitimasi oleh negara secara sadar dan nama Deiyai telah dibawa pergi oleh masyarakat Deiyai.

Karena kalau kita membaca, mendengar dan membicarakan atau menyanyikan soal yang berkaitan dengan Gunung Deiyai yang merupakan kebanggaan bersama, tentu kini pikiran kebanyakan orang yang muncul di benak adalah nama tempat, bukan lagi nama gunung yang bermakna bagi masyarakat di sekitarnya.

Demi menjaga makna kebanggaan bersama ini, seharusnya, Kabupaten Waiyai lebih cocok dari pada Kabupaten Deiyai, karena Gunung Waiyai terletak di kabupaten ini. Tetapi apa boleh buat, Tigi telah menjadi Deiyai dan nama Deiyai milik masyarakat Tigi.

Dalam hal ini, tidak ada yang salah. Yang salah adalah gunung Deiyai itu sendiri karena dia (Gunung Deiyai) salah memposisikan diri diantara tiga kabupaten ini. Oleh karena itu, “Gunung Pencipta Klaim” itulah nama yang cocok untuk Gunung Deiyai kini. Dengan demikian, penamaan gunung menjadi tempat adalah sebuah adopsi toponimis yang tentu kehilangan makna dan menghancurkan kebanggaan bersama.

Tetapi, saya yakin, nama-nama entah kabupaten/kota, distrik, kampung dan jalan serta bentang alam yang telah diganti nama ini pada saatnya akan kita kembalikan dan menyebut seperti yang dulu disebut oleh leluhur kita. Kita tidak boleh lupa nama asli yang ada.

*) Penulis adalah salah satu penulis buku “Anomali Negara, Kawin Paksa Burung Garuda dengan Cenderawasih” (2015).