Refleksi Natal: Yesus Hikmat untuk Memperkokoh Persatuan

0
11326

Ilustrasi: Gedung Kerk der Hoop 1953

YESUS HIKMAT UNTUK MEMPERKOKOH PERSATUAN
Napak Tilas Kegiatan Natal dan Seminar Se-Jawa-Bali dari tanggal 27 Desember 2018 hingga 01 Januari 2019

Oleh: Marius Goo)*

Perayaan Natal dan Seminar Tahun Baru dilaksanakan oleh Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai, Dogiyai dan Deiyai (Ipmanapandode) Se- Jawa Bali, diselenggarakan di Vila Duta Kasih Terawas, Jawa Timur, dari taggal 27 Desember 2018 hingga 01 Januari 2019. Perkiraan peserta mencapai 1000 orang Mahasiswa. Perayaan tahun ini dikordinir oleh pelajar dan mahasiswa kota studi Malang.

Suka dan Duka dalam Kegiatan Ini

Sebagai manusia apa pun kegiatan, sekalipun paling kecil tentu saja dapat ditemukan kesalahan atau kelalaiannya, apalagi kegiatan Natal dan tahun setingkat mahasiswa yang melibatkan hampir seribuan orang. Dalil ini bukan menutup kesalahan, namun dalam kehidupan sering ditemukan hal ini di mana-mana. Kelalaian yang terjadi bukan dilupakan, melainkan diratapi dengan satu sikap “metanoia” demi perubahan, dalam istilah “lepas-sambut”, secara sederhana melepaskan 2018 dan dambut 2019: dengan pemahaman apriori tidak mengatakan tahun 2018 adalah “tidak baik” sedangkan tahun 2019 adalah “yang paling baik”, melainkan secara batiniah: melepaskan hal-hal “yang buru” dan menyambut atau meningkatkan “hal-hal yang baik” dalam istilah yang dikenal dalam hampir seluruh kegiatan Natal dan seminar “perubahan, perbaikan dan persatuan” yang berpuncak pada tingkat rohani yakni “memperoleh hikmat kekudusan.”

Tentang ini akan direfleksikan lebih dalam di bagian bawah.

Walaupun terjadi aneka kegagalan dalam perayaan ini, namun toh pada akhirnya “selesai”. Selesainya kegiatan Natal dan Seminar IPMANAPANDODE Se-JaBa secara tidak langsung mau menunjukkan bahwa “perayaan Natal dan Tahun Baru” telah dilaksanakan dan pernah mengalami. Maka, yang menjadi “ratapan” adalah “kenyataan” bahwa masih ada kegagalan-kegagalan kecil yang menjadi pembelajaran ke depan dan sekaligus menjadi “harapan” walaupun ada kegagalan “ada kesuksesan” di mana semua acara telah selesai: dengan ilustrasi “dari sampah akan tumbuh tanaman yang lebat dan menghasilkan buah yang banyak.” Artinya, biarlah segala kegagalan, kelalaian dan kesalahan yang terjadi dalam kegiatan ini menjadi suatu pembelajaran untuk ke depan, selanjutnya: apa yang baik, yang bernilai, yang terindah dan benar, dan berhikmat dan kudus menjadi satu kekuatan untuk menghadapi badai di tahun 2019 dan seterusnya.

Kegagalan dan kesuksesan disimpulkan sebagai “pengalaman manusiawi”. Pengalaman itu merupakan sejarah perjalanan yang diartikan sebagai “jejak atau napak tilas: satu rekaman akan kehidupan”. Perekaman harus dijalankan mulai dari sekarang agar sejarah tidak dilupakan. Salah satu caranya adalah dengan “menulis”. Mecatat secara ketat dan rapih agar menjadi satu dokumen, satu kesaksian nyata tentang kehidupan, menjadi sebuah pengungkapan realitas. Dalam materi jurnalis pemateri menekankan “pentingnya pemberitaan, membagikan informasi secara benar dan jujur” untuk membongkar realitas: demi menjaga kejujuran dan kebenaran tentang kehidupan. Menulis adalah satu cara perlawanan mencapai puncak kemerdekaan, untuk melawan lupa dan sekaligus menjadi cermin untuk memantau situasi yang mendorong ke arah yang lebih baik dan lebih menyelamatkan. Menulis itu butuh proses latihan yang panjang dan terus-menerus.

Aneka perlombaan yang diselenggarakan makin membuat para mahasiswa dan pelajar makin dilatih untuk perlunya meningkatkan daya kreasi dan inovasi, bukan sebatas membentuk watak “bagaimana mengalahkan orang lain atau lawan.” Jadi perlombaan bukan pertama dan utama bagaimana saya mendapatkan juara, malainkan bagaimana saya menjalankan peran, tugas dan fungsi yang diberikan: apakah bertanggung jawab atau tidak? Apakah sesuai atau tidak? Maka harapan di puncak perlombaan adalah pemberian diri yang terbaik untuk sesama anggota Ipmanapandode se-Jawa Bali.

Jadi perlombaan bukan soal juara atau tidak, melainkan bagaimana melalui perlombaan itu saya memberikan satu kejutan, satu kreasi dan inovasi demi membangun kesadaran bersama bahwa “persiapan itu penting”. Yang dimaksud adalah sebelum berlomba perlu adanya latihan, persiapan, sehingga di puncak dapat menyumbangkan karya, kreasi yang terbaik. Yang akhirnya, apa yang terbaik dari karya manusia dapat disatukan dalam karya Allah yang menyelamatkan.

Yesus Hikmat Allah untuk Kekudusan Manusia

Satu pemahaman apriori bahwa manusia diciptakan oleh Allah dan berasal dari Allah: karena itu sebagaimana Allah pada hakekat-Nya kudus maka semua manusia adalah kudus: “gambar dan rupa-Nya sendiri.” Kehilangan manusia akan kesegembaran dengan Allah – kejatuhan manusia dalam dosa – makin membuat kasih Allah menjadi makin nyata, yakni Allah memberikan “hikmat” kepada dunia, ialah Yesus Anak-Nya sendiri.

“Yesus Kristus Hikmat bagi Kita” merupakan tema yang diusung oleh PGI dan KWI sekaligus menjadi tema Natal Ipmanapandode Se-Jawa Bali. Yesus (hikmat Allah) hadir untuk membebaskan dan menyelamatkan manusia, tidak lain adalah mengembalikan manusia yang telah kehilangan “kekudusan”, sehingga manusia kembali bersatu dan bersekutu dengan Allah yang adalah Kudus.

Tema mengenai “hikmat dan kekudusan” dibicarakan juga secara hangat dan gamblang. Hikmat dan kekudusan berasal dari Allah dan milik Allah, hikmat dan kekudusan itu dikaruniakan kepada manusia dan semua manusia diundang untuk tetap tinggal dalam kekudusan. Hikmat dan kekudusan ditekankan dalam perayaan-perayaan Natal juga seminar-seminar: baik secara langsung maupun tidak langsung, bahwa kekudusan itu milik semua orang dan semua orang harus menghayati kekudusan: berjuang mempertahankan kekudusan, sekaligus mengembalikannya jika telah hilang. Tentang kekudusan, secara kultural dalam konteks manusia Mee dapat ditemukan dalam “Touye Mana: Daa dan Diyo Dou, juga Ooda Owaada.” Hanya dalam kekudusan yang sejati manusia dapat memerdekakan diri dan orang lain.

Yesus hikmat Allah ini akan menjadi nyata di jalan dengan meneriakan sebuah kebebasan, memperjuangkan kekudusan. Kemerdekaan dan kekudusan diperoleh dalam aksi-aksi konkrit dengan melawan kejahatan, penindasan dan akar-akar dosa yang menyebabkan korban kematian. Kekudusan diperjuangkan secara nyata, hadir dalam aksi-aksi tanpa melupakan refleksi dan menyimak literasi-literasi yang memungkinkan tercapainya kekudusan (kemerdekaan sebagai anak-anak Allah).

Harapan yang Menjadi Rekomendasi Bersama

Kekudusan terbentang bagi semua ciptaan dan diperuntukan bagi semua manusia. Kemerdekaan pun milik semua manusia, hak segala bangsa. Untuk mencapai kekudusan dan atau kemerdekaan butuh persatuan, butuh solidaritas yang menjadi gerakan sosial, paguyuban. Kekudusan itu dapat dicapai jika membagikan kekudusan itu kepada sesama, menghidupkan kekudusan setiap orang, bukan merusak, bahkan menghilangkan. Dengan saling menjaga kekudusan, akan terjalin persatuan dan persekutuan yang kokoh. Maka, visi yang dibuat diakhir kegiatan akan menjadi nyata.

Rekomendasi

pertama, Ipmanapandode se-Jawa Bali perlu memiliki visi bersama.
Kedua, anggota Ipmanapandode se-Jawa bali tidak jatuh dalam kelalaian atau kesalahan yang sama. Perlunya pertobatan dan pembaruan dalam organisasi.
Tiga, perlu menjalin persatuan sesuai bidang penjurusan keilmuan dan keahlian masing-masing, lintas kota studi, se-Jawa Bali.
Empat, menjadikan persoalan Papua menjadi keprihatinan bersama dan bersama-sama mencari solusi dalam aksi-aksi konkrit, salah satunya membuat Grup WA untuk membangun diskusi bersama.

)* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Teologi dan calon imam Projo Papua.