Pesawat Trigana Air Menunggu 15 Menit di Udara

0
1096

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Pesawat Trigana Air dengan nomor penerbangan IL 221, Minggu (23/6/2019) siang kemarin, dari bandar udara Sentani, kabupaten Jayapura tujuan bandar udara Nop Goliat, Dekai, kabupaten Yahukimo, “bertahan” di udara selama 15 menit.

Penyebabnya cuaca tidak bersahabat apalagi tertutup awan gelap, pesawat memilih berputar di atas udara sekitar 15 menit lamanya.

Situasi ini bikin panik penumpang, karena baru pertama dialami.

“Biasanya dari Jayapura ke Dekai hanya 50 menit, ini sudah satu setengah jam di atas udara. Coba lihat ke bawah, kota Dekai tidak kelihatan. Terlalu lama kita di udara, saya takut ini,” kata Andreas Holanue, salah satu penumpang, kepada suarapapua.com.

Pramugari sempat umumkan bahwa pesawat tidak bisa mendarat, karena cuacanya kurang mendukung dan akan menunggu selama 15 menit. Beberapa kali diinformasikan untuk tetap tenang.

Andreas mengatakan, cuaca di daerah pedalaman memang kadang tidak bersahabat. Hanya saja kali ini berbeda dari biasanya.

“Saya lihat jam tangan, sudah mau jam 3. Biasanya jam 2 sudah mendarat di Dekai. Tertulis di tiket jelas butuh waktu 50 menit,” ucapnya dengan ketakutan.

Sementara itu, Bernard penumpang tujuan Dekai, seusai tiba di bandara Nop Goliat, mengaku legah pesawat mendarat dengan baik. Baginya, ini karena pertolongan Tuhan.

“Bilangnya hanya 15 menit, tapi lama juga di atas udara. Ya, puji Tuhan, kita bisa tiba dengan keadaan selamat, terima kasih juga kepada crew beserta capten Trigana Air yang bisa mendarat dengan selamat,” tutur Bernard.

Di tempat berbeda, Yoren Pahabol mengatakan, situasi bulan Mei hingga Juni curah hujan cukup ekstrim, akibatnya sebagian aktivitas kadang terganggu, namun situasi seperti begitu pesawat yang biasa masuk di Dekai terus beroperasi seperti biasa.

“Situasi sekarang hujan bersamaan awan ini tidak seperti biasanya. Setahu saya, musim hujan pada bulan ini biasanya terjadi di Werima, Hogio, Amuma dan ke bawah sampai Suru-Suru. Tetapi sekarang di jantung kota kabupaten sangat parah,” ujar Yoren.

Ia menilai alam sedang tidak bersahabat dengan tingkah manusia karena banyak yang melakukan pendulangan emas secara ilegal di kabupaten ini.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Markus You