Di Kota Jayapura, Masker dan Antiseptik Mulai Sulit Didapat

0
1785
Ilustrasi masker dan antiseptik habis. (tribunjateng.com)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Di Kota Jayapura, beberapa hari belakangan ini Masker dan Antiseptik mulai sulit di dapat dan menjadi barang langka. 

Untuk menghindari penimbunan masker dan antiseptik, juga antisipasi permainan harga, Pemerintah Kota Jayapura telah menagaskan untuk setiap pengusaha apotik tidak menaikan harga semaunya.

Imbauan, dan sidak langsung dilakukan ke apotik-apotik yang ada di Kota Jayapura oleh Wakil Wali Kota Jayapura, Rustam Saru beberapa waktu lalu.

Suara Papua melakukan pantau di beberpa apotik yang ada di Abepura dan Waena, Kota Jayapura untuk melihat penjualan dan harga masker dan antiseptik, pada Senin (23/3/2020).

Hampir semua apotik yang didatangi Suara Papua, didapati bahwa stok masker dan antiseptik dan habis. Masker dan Antiseptik kian sulit didapat dan langka.

ads

Seorang karyawan Apotik di Waena, saat ditemui media ini mengungkapkan bahwa masker dan antiseptik habis.

Baca Juga:  Lima Bank Besar di Indonesia Turut Mendanai Kerusakan Hutan Hingga Pelanggaran HAM

“Masker dan antiseptik stoknya habis. Habis sejak isu Covid19 muncul di Indonesia beberapa waktu lalu. Jadi saat ini tidak jual,” ungkapnya kepada suarapapua.com.

Senada dengan itu diungkapkan seorang karyawan Apotik di daerah Abepura. Menurutnya, masker dan antiseptik sudah habis sejak beberapa waktu Covid19 positif di Indonesia.

“Masker sudah habis. Antiseptik juga,” uangkapnya.

Imbauan Pemkot Jauapura. (Hendrik Rewapatara – SP)

Seorang warga Kota Jayapura yang ditemui Suara Papua, Muhamad Fikri, mengatakan dirinya mendatangi apotik-apotik untuk beli masker tapi tidak ada.

Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa ia bisa membelinya di apotik lain yang juga berada di Waena dan Abepura. Namun, harganya naik.

“Saya sangat kecewa karena harga masker tidak sama di setiap apotik yang saya datangi. ada yang lima ribu rupiah, ada yang empat ribu rupiah. Tapi dalam surat edaran pemkot harganya tidak boleh naik dan tetap, yaitu tiga ribu lima ratus rupiah,” ungkpanya kesal.

Baca Juga:  Vince Tebay, Perempuan Mee Pertama Raih Gelar Profesor

Fikri membeberkan, ia mendapt masker dari kiriman kakaknya yang ada di luar Papua dengan harga 200 ribu rupiah per satu dos.

“Saya rasa ini harga yang mahal. Saya harap pemerintah kota bisa tertibkan. Selain itu pemerintah kota juga harus pastikan ada stok antiseptik dan masker yang bisa diperoleh warga,” katanya.

Tidak hanya itu, Fikri juga berharap agar pemerintah dapat menyediakan tempat cuci tangan di tempat-tempat publik. Sehingga, masyarakat bisa rutin cuci tangan.

Terlihat beberapa orang sedang membeli masker di salah satu apotik di Waena. (Hendrik Rewapatara-SP)

Paskalis Boma, mantan ketua BEM Uncen yang kepada suarapapua.com ketika dimintai keterangannya perihal masker dan antiseptik mengatakan, ia mendukung upaya Pemkot keluarkan surat edaran yang dikeluarkan.

Menurutnya, yang dilakukan Pemkot tersebut adalah upaya pencegahan untuk mengontrol perdagangan masker dan handzanitiser. Karena ketersedian dan keterbatasan masker dan antiseptik selain di Papua, terjadi juga di luar Papua.

Baca Juga:  Kemenparekraf Ajak Seluruh Pelaku Usaha Kreatif di Indonesia Ikut AKI 2024

“Saya mendukung pemkot. Tetapi saya pertegas point ke – 2 imbauan Pemkot, ‘apotik tidak boleh memanfaatkan situasi darurat covid-19 saat ini dengan menaikkan harga masker dan handsanitizer’.”

“Artinya tidak boleh manfaatkan momen ini untuk naikan harga kejar keuntungan karena  akan mempersulit masyarakat ekonomi lemah untuk dapat masker dan antiseptik,” katanya.

Boma meminta ada upaya langsung yang bisa dilakukan secara rutin untuk kontrol penjualan masker dan antiseptik. Selain itu, jika memungkina, pemerintah bisa menyediakan agar masyarakat bisa memperolehnya dengan mudah.

“Ini penting. Karena masker dan antiseptik sudah jadi kebutuhan utama saat ini. Kontrol dari Pemerintah eksekutif maupun legislatif sangat penting untuk mengantisipasi dampak terburuk pasca darurat Covid-19 di Papua,” katanya.

Pewarta: Hendrik Rewapatara

Editor: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaCegah Covid-19, Masyarakat Yahukimo Minta Lock Down
Artikel berikutnyaBupati Puncak Jaya Tutup Akses Darat, Sungai dan Udara