Baverly Mangge dan Perjuangan Membangun Pendidikan Berkualitas di Tanah Papua

0
2487

“Kenapa kitong terlalu jauh berbeda, padahal kitong juga bisa! Tuhan saya tra punya apa-apa, tapi mari Tuhan kasi saya Tanda Heran untuk Papua….” ujar Baverly Mangge.

Pendidikan adalah satu masalah besar di Tanah Papua. Dari kekurangan guru, guru jarang di tempat, masalah keamanan, politik tidak pernah berkesudahan. Namun yang paling penting adalah pendidikan. Instrumen utama untuk mengukur tingkat kemajuan dan tanpa terkecuali juga adalah kualitas hidup orang asli Papua adalah pendidikan.

Pergerakan pembangunan pendidikan di Papua tentunya tidak bisa serta merta disamakan dengan daerah lain di luar Papua.

Banyak persoalan yang krusial dari tantangan geografis, jaminan keamanan, akses, infrastruktur, dukungan fasilitas, metode pendekatan, jumlah guru hingga kualitas mengajar menjadi satu kesatuan dari polemik keseharian ketika menilik proses pendidikan di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini.

Pemerintah telah mengupayakan  solusi yang strategis dengan membangun sinergitas antar semua pihak untuk mendorong percepatan pembangunan kualitas pendidikan di Papua namun  tentu saja tantangan dan persoalan lain masih tetap ada.

ads

Saat ini Papua telah memiliki SDM anak-anak lokal asli Papua yang mumpuni di hampir semua bidang keilmuan, tetapi ketika berbicara pendidikan apalagi dengan tantangan yang begitu hebat, sedikit dari anak-anak Papua itu yang mau berani mengambil komitmen maju berdiri di garis terdepan untuk membantu saudara-saudaranya yang lain keluar dari kebodohan.

Baca Juga:  Freeport Indonesia Dukung Pengentasan Penyakit TB di Kabupaten Mimika

**

Baverly Mangge bersama peserta pendidikan pelatihan dasar mengajar. (Shandya Isnayedi for SP)

Namanya Baverly Mangge. Dia adalah satu dari sekian banyak perempuan yang tengah berjuang untuk membangun pendidikan yang berkualitas di Tanah Papua.

Sejak tahun 2015, perempuan yang akrab disaba Bevy ini kembali dari Jakarta. Sekembalinya dari Jakarta, Bevy  mendirikan LKP Bina Bangsa. LPK ini langsung bergerak pada misi menyiapkan guru-guru masyarakat lokal lewat Program Kompetensi Mengajar.

Tujuan utamanya adalah melatih, mengembangkan dan menyiapkan serta membekali masyarakat lokal yang minimal lulusan SMA tentang dasar-dasar ilmu mengajar dengan metode yang sederhana menyesuaikan dengan kearifan lokal budaya setempat dan mengacu juga pada kurikulum daerah maupun nasional.

Bevy adalah salah satu aset brilian yang dimiliki Papua saat ini yang memperjuangkan pendidikan. Perempuan tangguh adalah kalimat yang tepat dialamatkan kepada Bevy. Dia mengambil keputusan di tengah keterbatasan  bantuan finansial dan kesulitan alam Papua untuk mengabdi pada negeri tercinta Tanah Papua.

Banyak orang belum kenal dia. Dia kerja dalam diam mengabdikan dirinya untuk mengisi ruang-ruang kosong yang belum terjamah untuk membantu orang lokal setempat dan juga pemerintah daerah.

Bevy melihat kejanggalan besar. Perbedaan pendidikan di Jakarta dan Papua sangat berbeda jauh. Perbedaannya antara laingit dan bumi. Dia pernah menjadi guru di Jakarta. Dari pengalamnnya menjadi guru, ia melihat kejanggalan dalam dunia pendidikan dan perbedaan antara Jakarta dan Papua.

Baca Juga:  Pemerintah Kabupaten Intan Jaya Teken MoU dengan Kampus IPB Bogor

Hati kecilnya cemas melihat perbedaan itu. Bevy melihat  sendiri secara langsung betapa jurang kesenjangan kemajuan pendidikan antara Jakarta dan Tanah Papua. Perbedaanya ibarat bumi dan langit, amat sangat jauh berbeda.

Gejolak yang terjadi dalam batinnya melihat kondisi ini, ia memutuskan untuk pulang ke Papua untuk berbuat sesuatu bagi masyarakatnya ketika pulang kampung ke Papua dalam dunia pendidikan.

Kreatifitas terobosan Bevy ini boleh dibilang berani karena mampu mengkolaborasi system pengajaran berbasis kurikulum nasional dengan pelatihan mengajar berbasis pada culture setempat serta tingkat kebutuhan utama dari situasi dan kondisi daerah.

Tujuan Bevy paling utama  hanya satu adalah ingin mengisi kekosongan tenaga pengajar di Papua.

Menurutnya  pemerintah memang telah menjawab kebutuhan tenaga pengajar  lewat program guru kontrak negara yang dikirim dari Jakarta, Manado dan Makasar tapi tetap saja masih banyak sekolah-sekolah di kampung terpencil tidak terisi dan banyak terabaikan, selain itu ada kendala lain juga seperti kebanyakan guru kontrak tidak bisa bertahan lama dan terbatas pada sosialisasi dengan masyarakat setempat.

“Mending kita siapkan orang lokal menjadi guru walaupun hanya lulusan SMA namun mereka dapat bertahan dalam waktu yang lama di kampung  sendiri dengan kondisi keterbatasan apapun” katanya Bevy kepada saya.

Baca Juga:  Literasi di Papua Sangat Rendah, 30 Persen Anak Belum Bisa Membaca

**

Baverly Mangge bersama peserta pendidikan pelatihan dasar mengajar. (Shandya Isnayedi for SP)

Jumlah peserta pendidikan pelatihan dasar mengajar telah berjumlah 2000 lebih yang berasal dari berbagai kabupaten yang telah dilayani yaitu kabupaten Kepulauan Yapen, Biak Numfor, Waropen, Supiori, Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Yalimo, Pegunungan Bintang, Kerom dan Sarmi di Papua serta Kabupaten Fakfak, Kaimana dan Sorong di Papua Barat dan masih bertambah lagi daerah kabupaten yang lain.

Upaya keras mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan masyarakatnya yang marginal di Papua, membuat Bevy tanpa putus asa membangun  terus komunikasi dan kerjasama yang sinergis dengan berbagai pihak yaitu  pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan daerah maupun swasta karena bagaimanapun persoalan kemajuan pendidikan di Tanah Papua adalah tanggung jawab bersama anak bangsa.

Komitmen Bevy keluar dari sona nyaman dan mengkontribusikan waktu dan energinya untuk Papua membawanya menerobos belantara Papua yang terkenal ekstrim, menyebrangi sungai yang deras, danau yang luas, menantang kerasnya badai di laut dan jauh dari akses kemajuan kota, namun semua itu menjadi kenikmatan tersendiri perempuan Papua ini untuk berkorban bagi Tanah leluhurnya. Maju terus Bevy!

Laporan Shandya Isnayedi – Timika

Artikel sebelumnyaKontribusi JDP dalam Penyelesaian Konflik Papua-Jakarta (bagian 2/4)
Artikel berikutnyaSepak Terjang Perjuangan Rakyat Republik Maluku Selatan