Telkomsel ‘Makan Untung’, Puluhan Tahun Penyediaan Kuota Internet di Wamena Dibatasi  

0
1648

JAYAPURA,  SUARAPAPUA.com — Merasa dirugikan oleh pihak Telkomsel selama puluhan tahun di kabupaten Jayawijaya, dimana akses kuato internet yang dibatasi oleh Kemeninfo RI, Solidaritas Wamena Protes Telkomsel melakukan aksi demo dalam bentuk audiens dengan pihak Telkomsel di Jayapura.

John Puron, selaku koordinator Solidaritas Wamena Protes Telkomsel mengatakan kehadiran solidaritas atas nama seluruh masyarakat Jayawijaya dan juga pelanggan Telkomsel yang berada di kota Wamena.

“aksi ini dilandasi karena kita (pelangan) merasa dirugikan selama ini oleh pihak Telkomsel karena kuato internet yang diberikan tidak sebanding dengan jumlah penduduk (pelanggan) yang ada di kota Wamena sehingga selama ini kami sulit sekali mengakses informasi melalui internet,” kata Puron ketika dihubungi suarapapua.com. Selasa, (23/6/2020).

Ia menambahkan, selama ini kita dipaksa untuk bisa sama dengan daerah-daerah lain dalam hal jaringan internet, dimana kita diharuskan membayar bahkan lebih mahal 2 persen di Papua lebih khusus di Jayawijaya dibanding daerah-daerah lain.

“Kenyataannya apa yang kami bayar tidak sesuai kenyataan didapatkan oleh para pelanggan. Di Jayawijaya saat ini jaringan internet sama sekali sangat buruk,” ungkapnya.

ads
Baca Juga:  Ini Alasan Lampu PLTD Lanny Jaya Tidak Menyala Selama Lima Bulan

Karena itu, kata Puron, persoalan jaringan internet ini sudah rentetan aksi-aksi dan keluhan oleh pelanggan namun tidak pernah direspon sama sekali dan tidak ada perubahan yang nyata serta terkesan santai dan lambat direson oleh pihak Telkomsel selama ini.

“Solidaritas ini terbentuk karena kepedulian dan rasa jenuh dari pelanggan atas kurang maksimalnya pelayanan jaringan internet oleh pihak Telkomsel. Aksi protes ini juga dilakukan di Wamena, Jayapura dan di Jakarta dengan melakukan audiens langsung dengan pihak Telkomsel dan Kemenkominfo RI,” katanya.

Untuk di Jayapura, solidaritas bertemu langsung dengan pihak Telkomsel dan dari lima point tuntutan namun paling penting yaitu Pihak Telkomsel dan Kemenkominfo harus memperbaiki jaringan internet di Wamena dengan batas waktu 7 hari untuk merespon tuntutan kami serta ditindaklanjuti.

“Dengan batasan waktu tersebut mereka dapat benar-benar merespon dan cepat diperbaiki sehingga tidak ada kendala lagi dari belakang karena selama ini kami sangat dirugikan sekali,” katanya.

Baca Juga:  Ditjen Otda Kemendagri Pesan MRP Papua Pegunungan Jadi Corong Kawal Aspirasi OAP

Dia melanjutkan, negara memaksa kita (Papua) untuk harus sama dengan daerah lain di indonesia, tapi negara tidak benar-benar menyediakan fasilitas internet yang baik di Papua. Negara memaksa kita untuk harus belajar online, mendaftar, dan kuliah online namun kenyataannya saat ini Papua tidak pernah mendapat fasilitas internet yang baik terutama di bagian pedalaman Jayawijaya dan daerah pemekaran lainnya.

“Ini adalah kendala dan bagian dari kesenjangan yang dibuat negara terhadap orang Papua di tanah Papua. Kita tau internet merupakan hal yang penting pada jaman medern saat ini, dimana internet dimanfaatkan untuk mencari informasi dan mendapatkan informasi namun di Wamena masyarakat alami ketertinggalan informasi,” katanya.

Dari hasil audiens dengan pihak Telkomsel di Jayapura, ada penjelasan kenapa jaringan internet di Wamena lambat, ternyata kuota internet dibatasi selama puluhan tahun ini dimana Kominfo menyediakan 1000 mbps. Dan 250 mbps yang saat ini digunakan oleh konsumen telkomsel dan 500 mbps untuk wifi perhotelan, kantor dan lainnya serta 250 mbps untuk orari.

Baca Juga:  Doa Akbar dan Makan Bersama Ones Pahabol Dihadiri Ribuan Masyarakat Yahukimo

“250 mbps yang dibagi untuk konsumen Telkomsel di Wamena bikin masyarakat baku rebut barang ini karena tidak cukup sedangkan kuato yang disediakan tidak sebanding dengan jumlah pelanggan dimana yang seharusnya dibutuhkan saat ini yaitu  2.150 mbps agar internet di Wamena berjalan stabil dan normal. Sedangkan yang disediakan selama ini 250 mbps untuk mencapai 2.150 mbps dibutuhkan 1.900 mbps lagi,” katanya.

Kenapa kebutuhan ini negara tidak sediakan?akibat dari pembatasan kuato ini, kami di Wamena tidak merasakan layanan internet secara maksimal.

Sementara itu Martinus Mabel, salah satu mahasiswa Jayawijaya kota studi Jayapura menegaskan agar pihak PT. Telkomsel dan Kemeninfo RI untuk segera menambah kuota internet yang selama ini tidak berjalan maksimal dan merugikan pelanggan dan khususnya masyarakat Jayawijaya selama puluhan tahun ini.

“Telkomsel makan untung, pelayanan jaringan internet tidak maksimal namun masyarakat (pelanggan) harus membeli kuota internet dengan harga yang mahal namun tidak dipakai secara maksimal,” tegasnya.

Pewarta  : Agus Pabika

Editor       : Arnold Belau

Artikel sebelumnyaOposisi SI Minta Pemerintah Berhenti Menari-Nari Mengikuti Irama Cina
Artikel berikutnya1 Januari – 31 Desember 2019, 72 Aktivis Papua Jadi Korban Kriminalisasi Pasal Makar