Rasisme itu Ditanamkan

0
1647

Oleh: Engelbertus Viktor Daki)*
)* Mahasiswa STF Driyarkara Jakarta

Di tengah gempuran pagebluk bernama Covid-19, di Amerika muncul pandemic lawas bernama rasisme. Pada Senin, 25 Mei lalu dunia digemparkan dengan tewasnya seorang George Floyd, pemuda kulit hitam di AS. Menurut New York Times, Floyd tewas setelah mengalami kekerasan fisik dari polisi di Minneapolis, Minnesota. Sementara itu, laporan dari pihak kepolisian tidak mengungkapkan bukti yang mendukung pencekikan yang dialami Floyd yang merenggut nyawanya. Peristiwa ini dianggap sebagai tindakan pelanggaran HAM terhadap warga kulit hitam. Dampaknya, masa mengamuk dan turun ke jalan menuntut keadilan.

Tragedi Ras

Jika kita mundur ke belakang, rasisme bukan baru pertama kali ini terjadi. Di beberapa negara Barat, rasisme seperti ini sudah menimbulkan meninggalnya jutaan manusia. Peristiwa pembersihan ras Arya-Yahudi di Jerman zaman Nazi Hitler adalah salah satunya.

Poin penting  dari sejarah itu adalah bahwa manusia bisa menjadi buas ketika ras yang lain dianggap lebih rendah, tidak setara, dan berbahaya. Manusia lain seolah bisa direduksi menjadi angka-angka, kata Viktor Frankl dalam bukunya Men Search for Meaning, yang siap dibantai kapan saja.

ads

Di Asia sendiri tragedi seperti ini terjadi. Pada Juli 1983 terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap ras Tamil di Srilangka. Terhitung lebih dari empat ribu lebih warga Tamil Tiger yang ditangkap, disiksa, dan dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi. Indonesia pun hampir sama. Terakhir yang terjadi adalah rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Orang Papua Harus Membangun Perdamaian Karena Hikmat Tuhan Meliputi Ottow dan Geissler Tiba di Tanah Papua

Rasisme itu Ditanamkan

Jane Elliott seorang aktivis dan anti rasisme di Amerika Serikat dalam sebuah wawancara di BBC menyatakan” Protes (demo terkait Floyd) saat ini adalah hasil dari “situasi yang kami warga kulit putih ciptakan, kami menghadapi konsekuensi dari perilaku kami” (BBC 6/5/2020).

Ia menambahkan bahwa rasisme adalah perilaku yang dipelajari. Tidak seorang pun dilahirkan dengan perasaan superior. Keunggulan diajarkan, dan itulah yang kami ajarkan di negara ini. Sistem pendidikan AS telah dirancang untuk mempertahankan mitos-mitos supremasi kulit putih. Artinya, rasisme adalah sesuatu yang dibangun dan ditanam.

Jika tidak hati-hari, dampaknya bisa sangat buruk. Manusia yang adalah Homo Homini socius (sahabat bagi sesama) bisa berubah menjadi Homo Homini Lupus (serigala bagi sesama).

Rasisme  Dalam Pendidikan

Rasisme di Amerika adalah buah dari apa yang ditanamkan dalam pendidikan mereka. Padahal, penanaman nilai seperti itu tidak boleh terjadi. Alasannya fungsi Pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai kehidupan. Sekolah  menjadi pembentuk manusia agar mengerti apa itu kemanusiaan dan apa itu perbedaan. Manusia adalah makhluk yang punya martabat mulia, setara, dan saling menghargai itu wajib hukumnya. Selain itu, perbedaan adalah sebuah realitas tak terbantahkan dan harus diterima setiap orang. Sebab, sejak lahirnya seorang manusia sudah merupakan pribadi yang khas dan berbeda dari yang lain.

Baca Juga:  Freeport dan Fakta Kejahatan Kemanusiaan Suku Amungme dan Suku Mimikawee (Bagian 3)

Tidak perlu jauh-jauh memikirkan perbedaan manusia dari suatu bangsa dengan yang lain, cukup melihat dalam keluarga sendiri. Bukankah antara saudara kandung sendiri pun sudah ada perbedaan, entah itu jenis kelamin, watak, perangai, warna kulit, rambut, gigi, dll, meskipun masih dari orangtua kandung yang sama? Artinya, perbedaan itu pasti dan menerima yang berbeda itu mutlak hukumnya karena di dunia ini tidak ada manusia yang seratus persen sama.

Nah, jika rasisme di Amerika adalah sesuatu yang ditanamkan artinya ia juga bisa dicabut dan dihilangkan.

Pendidikan Multikulturalisme

Salah satu bentuk pendidikan yang baik untuk menciptakan manusia yang anti rasis adalah dengan menanamkan pendidikan multikulturalisme. Pendidikan multikultural merupakan proses penanaman nilai-nilai dan cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural (Arifudin, 2017). Artinya sekolah wajib menanamkan dalam diri generasi muda pentingnya nilai-nalai kemanusia seperti toleransi, saling menghormati, saling mencintai, serta saling menghargai, dsb.

Rasisme di Indonesia

Di Indonesia sendiri,  rasisme masih merupakan topik panas yang belum ada ujung pangkalnya. Rasisme di negeri ini terjadi di mana-mana, termasuk di lembaga pendidikan. Mahasiswa yang berasal dari Indonesia Timur acap kali dianggap terbelakang, jelek, dsb, seperti yang terjadi di beberapa lembaga pendidikan dan di Surabaya beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Hilirisasi Industri di Indonesia: Untung atau Buntung bagi Papua?

Tentu disayangkan sekali, lembaga pendidikan yang sebenarnya menjadi tempat ramah anak, tempat menumbuhkan rasa kemanusian malah ladang menjadi pengadilan bagi siswa yang dianggap berbeda dan terbelakang.

Rasanya tidak berlebihan juga bila dikatakan penegak hukum yang kadang tidak adil (curang) adalah buah dari pendidikan yang agak rasis yang pernah diterimanya saat di sekolah.

Oleh karena itu, untuk menghadapi pandemi lawas ini, sekolah sebagai lembaga pendidikan di negeri ini perlu memberikan pendidikan multikulturalisme.

Lebih lanjut, harus dipastikan juga bahwa guru/dosen sebagai pendidik harus sungguh mengerti apa itu multikulturalisme dan bahaya pelanggarannya. Mengerti artinya ia paham makna terdalam dari setiap perbedaan. Dengan itu, kemungkinan terjadinya penanaman pemahaman yang keliru terkait rasisme rasisme maupun lainnya bisa dicegah, sebab tidak jarang malah pendidik sendiri menjadi dalangnya.

Semoga, dengan itu sekolah sebagai rumah ramah anak bisa terwujud dan kedepannya wajah bangsa yang semua anaknya berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, dan saling mencintai, menghargai, serta menerima satu sama lain sebagai saudara bisa terwujud.

Artikel sebelumnyaThe Rottenness in Indonesian Prison: A confession by Surya Anta
Artikel berikutnyaSoal Kebobrokan Penjara Indonesia, Eks Tapol Papua Benarkan Cuitan Surya Anta