BeritaKesehatanAntisipasi Kematian Balita, Yapkema dan VA Siapkan Tenaga Pencegah KVA

Antisipasi Kematian Balita, Yapkema dan VA Siapkan Tenaga Pencegah KVA

PANIAI, SUARAPAPUA.com —  Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Papua mengambil peran dalam upaya pencegahan terhadap angka kematian anak balita (bawah lima tahun). Caranya, melatih penyedia layanan dan tenaga kesehatan dalam memberikan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing (VAS+D).

Pelatihan diadakan Yapkema, Kamis (2/12/2021), yang diikuti para kader Posyandu, tenaga kesehatan Puskesmas, staf Dinas Kesehatan kabupaten Paniai, dan staf Yapkema. Total 12 orang.

Hanok Herison Pigai, direktur Yapkema, mengatakan, pelatihan diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan mengingat seringnya terjadi kasus kematian anak bayi dan balita.

“Nantinya kita akan memastikan bahwa layanan yang diberikan kepada penerima layanan sesuai dengan standar yang berlaku,” kata Hanok.

Vitamin Angels (VA), organisasi non pemerintah asal Amerika Serikat membimbing pelatihan bagi penyedia layanan dan tenaga kesehatan dalam memberikan suplementasi kapsul vitamin A dan obat cacing yang difasilitasi oleh Yapkema.

Narasumber dari Vitamin Angels, Yuliana Kristina Sitorus (berdiri) saat memberikan materi pelatihan. (Dok. YAPKEMA)

Hanok berharap, dengan pelatihan tersebut peserta menjadi kompeten dalam memberikan layanan suplementasi kapsul vitamin A dan obat cacing.

“Setelah itu para peserta bisa kasih pelatihan serupa kepada rekan lain di organisasinya masing-masing,” katanya sembari minta 12 peserta harus mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar kemudian bisa menjadi pemberi layanan VAS+D yang profesional.

Materi pelatihan diberikan oleh Yuliana Kristina Sitorus dari VA, narasumber yang didatangkan Yapkema.

Diawali dengan pemaparan secara garis besar pelatihan usai sambutan dari penyelenggara, adapun rangkaian yang kegiatan yang diikuti dalam kegiatan itu yakni demonstrasi peragaan pemberian layanan vitamin A dan obat cacing, penilaian pengetahuan VAS+D (pre test), praktik memberikan layanan VAS+D secara berpasangan, dan evaluasi kompetensi.

Evaluasi kompetisi dilanjutkan lagi usai makan siang. Kemudian, materi tentang suplementasi kapsul vitamin A, obat cacing, gizi dan sanitasi, serta dilakukan penilaian pengetahuan VAS+D (post test) sebelum pelatihan ditutup.

Penyakit Mematikan

Dalam pelatihan yang diadakan di ruang sekretariat Yapkema, kampung Ugibutu, Enarotali, Paniai, fasilitator menjelaskan pentingnya vitamin A.

Menurut Yuliana, vitamin A berperan dalam melindungi kesehatan bayi dan anak-anak, meningkatkan kekebalan tubuh, menurunkan angka kejadian dan keparahan dari diare dan campak, serta mencegah kebutaan.

“Vitamin A dapat disimpan di dalam tubuh selama 4-6 bulan, tetapi akan berkurang dengan cepat bila anak terkena infeksi,” jelasnya.

Baca Juga:  Freeport Serahkan Tiga Ton Bama Bagi Warga Distrik Iwaka yang Terdampak Banjir

Yuliana menyebutkan vitamin A terdapat dalam makanan, seperti uji jalar, air susu ibu (ASI), pangan hewani seperti daging merah, ikan, dan produk susu, sayuran berwarna hijau, misalnya sayur bayam, juga buah-buahan berwarna merah dan orange kekuningan, serta wortel.

“Kurang vitamin A (KVA) disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang kaya vitamin A dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia yakni sekitar 190 juta anak-anak balita, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara,” bebernya.

Peserta pelatihan saat praktik memberikan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing. (Dok. YAPKEMA)

Data dari WHO tahun 2009, Indonesia masih tergolong negara dengan masalah KVA dengan kategori sedang.

KVA dapat dicegah dengan mendapatkan asupan yang cukup dari makanan yang kaya vitamin A dan suplementasi vitamin A.

“Suplementasi vitamin A merupakan salah satu kebijakan pemerintah dalam menanggulangi KVA. Dua strategi lainnya adalah sosialisasi atau promosi vitamin A dan fortifikasi makanan,” jelas Sitorus.

Mengutip data WHO tahun 2011, satu kapsul vitamin A yang diberikan setidaknya dua kali setahun kepada bayi berusia 6-59 bulan dapat mengurangi angka kematian anak balita sebesar 24%.

“Program suplementasi kapsul Vitamin A pada bayi dan balita sudah diimplementasikan pemerintah sejak tahun 1970-an,” katanya.

Data dari Pusdatin Kemenkes, tahun 2015 suplementasi baru menjangkau 83.5%  anak balita. Itu artinya, masih ada sekitar 6 juta bayi dan balita yang tak terlayani.

Banyak negara yang mengalami KVA, juga terjangkiti kecacingan yang ditularkan melalui tanah.  Kecacingan dapat meningkatkan penyakit infeksi dan menurunkan penyerapan zat gizi pada bayi berusia 12-59 bulan.

“Kecacingan juga berkontribusi terhadap terjadinya KVA dan anemia pada bayi dan balita,” ujarnya.

Upaya untuk mengatasi kecacingan, imbuh Sitorus, adalah dengan cara meningkatkan sanitasi dan kebersihan  lingkungan, serta dengan pemberian tablet obat cacing Albendazole.

“Memberikan tablet obat cacing bersamaan dengan vitamin A kepada anak merupakan salah satu cara paling mudah dan sederhana meningkatkan status vitamin A dan memperbaiki kesehatan anak secara menyeluruh,” tandasnya.

Saat simulasi pemberian layanan VAS+D. (Dok. YAPKEMA)

Menyiapkan Kader

VA selama ini bermitra dengan LSM atau organisasi berbasis masyarakat yang ada di daerah-daerah dengan menyediakan produk dan bantuan teknis.

“VA biasanya menyumbangkan suplemen vitamin A dan tablet obat cacing untuk anak balita, dan suplemen multivitamin untuk ibu hamil. VA hanya menyumbang dalam bentuk barang, tenaga penyuluh, seperti saya fasilitator, dan tidak dalam bentuk uang atau bantuan keuangan,” jelas Yuliana kepada peserta pelatihan.

Baca Juga:  TPNPB Mengaku Bertanggung Jawab Dalam Aksi Kontak Tembak di Paniai dan Yahukimo

Saat pelatihan, fasilitator membagikan map berisi alat tulis dan pedoman bergambar yang bertujuan membantu para peserta ketika memberikan layanan VAS+D dan ketika membina orang lain untuk memberikan layanan VAS+D.

Disediakan juga fasilitas untuk praktek pemberian layanan VAS+D, seperti kapsul biru vitamin A 100.000 SI, kapsul merah vitamin A 200.000 SI, tablet obat cacing, cairan pembersih tangan beralkohol, gunting bersih, tisu bersih, kertas putih yang kecil dan bersih, botol kaca untuk menghaluskan tablet, kantong plastik untuk sampah, alat tulis, lembar perhitungan harian, dan buku pendaftaran pemberian VAS+D.

“Ini disediakan bagi para peserta pelatihan untuk bisa memperagakan pemberian layanan VAS+D oleh tenaga kesehatan,” jelas Sitorus.

Kepada para peserta, fasilitator menjelaskan isi pedoman bergambar untuk pemberian kapsul vitamin A dan obat cacing secara bersamaan. Juga membagikan lembaran berisi informasi tentang VAS+D, terdapat pertanyaan sekaligus jawaban.

Misalnya, mengapa harus memberikan suplementasi vitamin A kepada bayi berusia 6 sampai 59 bulan? Mengapa harus memberikan tablet obat cacing kepada bayi berumur 12-59 bulan? Bagaimana cara pemberian vitamin A pada bayi 6-59 bulan? Bagaimana cara pemberian tablet obat cacing kepada bayi 12-59 bulan, sebagai bagian dari proyek distribusi vitamin A secara universal?.

Selanjutnya para peserta dibentuk berpasangan. Satu orang sebagai orang yang kompeten yakni memberikan layanan VAS+D, dan yang satu sebagai orang tua dari anak yang mendapatkan layanan. Kemudian bertukaran, maju ke depan. Semua mendapat bagian.

Kompetensi pemberian layanan VAS+D yang mereka peragakan dinilai dan dievaluasi sesuai tahapan-tahapan. Misal untuk tahapan sambutan selamat datang kepada anak dan pengasuh, cara jelaskan jadwal pemberian, cara sampaikan manfaat pemberian, bahasanya jelas atau tidak, apakah bahasanya bisa disesuaikan dengan konteks setempat? Sudah menguasai materi atau tidak, dan seterusnya.

Saat simulasi pemberian layanan VAS+D. (Dok. YAPKEMA)

Setelah itu, Sitorus memberi umpan balik kepada penyedia layanan tentang setiap tahapan yang sudah mereka lakukan dengan baik dan yang masih perlu dilatih.

Usai uji kompetensi, ada penilaian pengetahuan (post test) bagi para peserta, untuk menguji apakah sudah paham bukan saja teorinya, tetapi prakteknya lagi atau tidak.

Beberapa hal penting disampaikan narasumber di akhir sesi.

Baca Juga:  Kunjungi Warga Pengungsi di Nabire, Pj Bupati Paniai Minta Berdoa

Pertama, jangan berikan kepada anak yang sedang menangis. Harus tenangkan anak terlebih dahulu.

Kedua, jangan memaksa anak meminum VAS+D.

Ketiga, jangan menekan hidung anak untuk memaksanya menelan obat.

Keempat, jangan menyentuh anak ketika memberikan VAS+D.

Kelima, kapsul vitamin A dan tablet obat cacing tidak boleh dititipkan kepada pengasuh untuk diberikan dari rumah.

Solusi Atasi Masalah

Yapkema mendapatkan sumbangan vitamin A dan obat cacing. Menurut Hanok, dalam waktu dekat akan diberikan kepada anak-anak PAUD/TK Yegeka dan beberapa TK lainnya di Enarotali.

“Peserta yang sudah mengikuti pelatihan pada hari ini yang akan memberikan layanan VAS+D. Itu sekaligus praktek bagi mereka,” kata Hanok.

Yapkema menurutnya akan terus bekerjasama dengan pihak VA untuk pengadaan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing (VAS+D).

“Ke depannya, bukan saja anak-anak di sekitar Enarotali yang kami upayakan mendapatkan layanan ini, tetapi juga di daerah lainnya, seperti Deiyai dan Dogiyai. Karena banyak anak yang selama ini mengalami kurang vitamin A (KVA) dan kecacingan. Itu masalah. Sebagai LSM, kami akan berupaya untuk membawa solusi atas masalah ini.”

Foto bareng usai pelatihan penyedia layanan dan tenaga kesehatan dalam memberikan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing di aula Yapkema, Kamis (2/12/2021). (Dok YAPKEMA)

Hanok juga menguraikan sejumlah kasus kematian anak dalam jumlah banyak dan secara beruntun, yang diakibatkan beberapa faktor penyebab.

“Misalnya, kasus gizi buruk dan campak di Asmat tahun 2018 yang menelan 72 korban anak-anak. Terus, 40 bayi dan anak-anak di beberapa kampung di kabupaten Deiyai tahun 2017. Kasus meninggal karena terserang penyakit campak. 27 anak di kabupaten Pegunungan Bintang meninggal dunia akibat wabah diare dan gizi buruk tahun 2018. Juga, masih banyak kasus lain yang tidak terekspos di media,” bebernya.

Fakta selama ini, kata Hanok, banyak anak Papua rentan terhadap serangan gizi buruk, campak, kekurangan vitamin A, cacingan, dan lainnya. Banyak yang tak tertolong lantaran kekurangan obat-obatan di tempat pelayanan kesehatan, fasilitas kesehatan minim, atau bahkan tak ada tenaga kesehatan.

“Hidup sehat adalah hak asasi manusia dan dijamin Undang-undang. Saya lihat ini masalah serius. Dan karena salah satu fokus Yapkema selama ini adalah kesehatan, maka kami bekerja sama dengan Vitamin Angels. Sebagai LSM, kami ingin menjadi perantara antara Vitamin Angels dengan tenaga kesehatan dan anak-anak sebagai penerima manfaat,” tuturnya. (*/Adv)

Terkini

Populer Minggu Ini:

Sinode GKI Gelar Semiloka Gereja Dalam Keragaman dan Keharmonisan Antar Denominasi...

0
“Itu yang menjadi hakekat gereja. Pergi jadikan bangsa muridku, baptis dan ajarlah mereka. Itu amanat agung Yesus Kristus sebelum Dia naik ke Surga dan itulah hakikat gereja. Penginjilan adalah roh dari gereja ini, karena hakekat kita adalah memberitakan injil. Jadi misi kita bersama sebagai gereja di dalam dunia ini.”

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.