Pelabuhan Sorong, tahun 1936 Sumber:KITLV
adv
loading...

Menelusuri Jejak Asal Muasal Nama Sorong

Dua versi di atas perlu dicari tahu dari berbagai aspek, baik melalui studi literatur atau sumber pustaka, cerita tutur, dan melihat bagaimana setiap fase waktu (periode waktu), peristiwa, nama, bahasa, yang memiliki keterkaitan dengan nama tersebut. Sehingga nantinya, tidak ada salah persepsi dan menimbulkan keragu-raguan dan ketidakpastian sejarah. Jadi, marilah kita membahas dan menelusuri terlebih dahulu jejak identitas nama Sorong menurut versi kota minyak dan menurut versi orang Biak. Setelah itu, kita akan membuat kesimpulan apakah memang benar bahwa nama Sorong itu ada karena berasal dari perusahaan kota minyak? Ataukah sudah ada sebelum perusahaan minyak beroperasi di Sorong

Menurut Versi “Kota Minyak”

Pendapat sebagian orang, khususnya mereka yang lahir besar di kota Sorong, dan yang pernah bekerja di perusahaan minyak, bahwa nama Sorong merupakan ankronim atau singkatan dalam bahasa Belanda yaitu Seismic Ondersub Oil Nieuw Guinea (S-O-R-O-N-G).

Tampaknya masuk akal karena Sorong sendiri merupakan kota minyak. Dimana cadangan minyak mulai ditemukan pada tahun 1928, dan mulai aktif beroperasi pada tahun 1932-1935. Project tersebut di jalankan oleh Perusahaan Nederlandsch Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM). Ankronim ini banyak diyakini orang-orang, sebab Sorong sangat identik dengan dunia perminyakan atau orang mengenalnya dengan sebutan “kota minyak”.

ads

Tetapi apakah memang benar bahwa Sorong merupakan akronim dari Seismic Ondersub Oil Nieuw Guinea? Untuk membuktikan bahwa ini benar atau salah tentunya perlu penelusuran sejarah untuk mencari tahu fakta atau kebenarannya. Kita semua sepakat bahwa perusahaan perminyakan ini mulai aktif beroperasi pada tahun 1935, sudah banyak literatur, dokumen foto, serta bukti fisik yang memperlihatkan tentang perusahaan tersebut. Sejarahnya pun banyak terdapat dalam literatur bahasa Belanda. Sayangnya tidak ada disebutkan dalam literatur tentang akronim nama Sorong itu berasal dari bahasa Belanda.

Jika nama Sorong itu berasal dari bahasa Belanda yang baru ada sejak tahun 1935, seharusnya ada data resmi atau catatan tertulis orang Belanda mengenai nama tersebut, apalagi kalau itu berhubungan dengan bahasa dan sejarah Belanda. Perlu diketahui bahwa pemerintahan Belanda dikenal sebagai negara yang memiliki arsiparis terbaik. Setiap nama yang berhubungan dengan pemerintahan, perusahaan, atau tempat biasanya selalu ada catatan tertulis dalam buku-buku terbitan bahasa Belanda maupun dokumen foto tempo dulu.

Nah, kalau kita pelajari dan menelusuri berbagai dokumen orang Belanda mengenai Papua, khususnya Sorong, tidak ada satupun catatan tertulis bahwa nama Sorong berasal dari Seismic Ondersub Oil Nieuw Guinea. Sebaliknya justru nama Perusahaan Nederlandsch Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij atau yang disingkat NNGPM yang banyak ditemukan dalam dokumen bahasa Belanda maupun dokumen foto. Pertanyaannya: Apakah sebelum tahun 1935, nama Sorong ini sudah ada? Jawabannya “YA” ada. Mari kita membahas dan menelusurinya.

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Dokumen Tertulis Tahun 1800-an

FAKTA SEBALIKNYA, membuktikan bahwa nama “Sorong” itu sudah digunakan jauh sebelum perusahaan minyak beroperasi di kota Sorong. Sumber pustaka berbahasa Belanda, bahasa Inggris sudah menggunakan penamaan Sorong sejak tahun 1800-an dalam berbagai buku-buku penelitian mereka. Misalnya, seorang ilmuan Jerman bernama C. B. H. Von Rosenberg (1817-1888), dalam bukunya berbahasa Belanda, dia menulis:

“Onder Sorrong, een naam, die op geen enkele kaart gevonden wordt, moet begrepen worden het noordwestelijk deel van Nieuw-Guinea tegenover Salawatti’s oostkust, waarover een Singadji van wege den Radja van Salawatti gezag voert. Hij woont in den kleinen, nabij onze ankerplaats gelegen kampong Sorrong op het eiland Doem.”—Reistochten Naar De Geelvink Baai of Nieuw-Guinea In De Jaren 1869 en 1870, tahun 1875, hal. 16

Kutipan dalam buku Von Rosenberg di atas, dia menulis nama “kampong Sorrong” (kampung Sorong) yang letaknya di “eiland Doem” (pulau Dum). De Clerq, yang pernah berkunjung ke Sorong pada tahun 1887, juga menulis tentang Sorong yang mana dia menyebutkan tentang nama asli pulau Dum. Disini jelas, bahwa literatur tahun 1800-an, menunjukkan bahwa nama itu telah lama digunakan oleh masyarakat setempat sehingga pada waktu mereka singgah di tempat itu para penulis ini juga mendokumentasikannya.

Penamaan Sorong sudah digunakan jauh sebelum masuknya perusahaan minyak, NNGPM di Sorong. Itu berarti bahwa nama Sorong yang dikaitkan dengan akronim bahasa Belanda tersebut merupakan terminologi yang baru muncul belakangan, tanpa catatan tertulis yang mendukung. Menariknya, karena sudah cukup lama berkembang terminologi ini akhirnya banyak orang meyakininya khususnya generasi baru yang hidup tahun 60-an sampai generasi sekarang ini, tanpa menyelidiki fase waktu munculnya penamaan tersebut.

Menurut Versi “Suku Biak”

Suku Biak Numfor, telah lama melakukan kontak dan pelayaran di samudra Soren Doreri dan Soren Dawasi. Lautan Maladum ini, merupakan jalur pelayaran suku Biak sejak lampau. Kemudian orang-orang Biak Numfor dari keret-keret tertentu berkoloni, beranak pinak hingga meninggalkan jejak masa lalu mereka di wilayah-wilayah ini, generasi masa kini (abad ke-21), adalah merupakan generasi yang meninggalkan jejak masa lalu leluhur mereka yang bermigrasi. Persebaran orang Biak di Tambrauw, Sorong sampai di kepulauan Raja Ampat, menjadi bukti autentik keberadaan mereka.

Menurut cerita turun temurun orang Biak, asal muasal nama Sorong berasal dari kata Soren. Soren dapat diartikan samudera, lautan, ocean. Soren berubah menjadi Sorong, karena pengucapan dari orang-orang asing (barat) sehingga dari Soren menjadi Sorong. Soren Doreri dan Soren Dawasi, merupakan lautan yang luas atau lautan yang jauh dari pulau Biak. Sehingga jika ada pelaut-pelaut yang kembali ke Biak, orang akan bertanya berlayar darimana, mereka akan menjawab mereka dari Soren Dawasi atau Soren Doreri. Maksdunya mereka baru pulang berlayar dari lautan samudera Doreri Manokwari atau lautan Sorong, Raja Ampat dan sekitarnya. Banyak nama-nama tempat mulai dari Manokwari, Sorong sampai Raja Ampat bisa ditemukan nama-nama yang berasal dari bahasa Biak.

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

“Soren” Menjadi Sorong

Bagaimana bisa terjadi perubahan kata Soren menjadi Sorong? Sulit untuk diterima secara masuk akal. Nah, ini menarik untuk ditelusuri dari segi sejarah dan bahasa. Secara harfiah Soren berarti lautan, samudera, atau bisa juga berarti laut lepas. Penggunaan awal nama Soren, sebenarnya untuk merujuk lautan di laut pulau Dum yaitu Soren Dum. Dum merujuk pada nama Maladum (Mala-dum) yang merupakan sebutan asli suku bangsa Moi. Dalam istilah bahasa Biak, kata Soren, bisa disebut Sor’n. Huruf “e” dihilangkan sehingga bunyi fonem “e” tidak terdengar. Jadi, orang bisa langsung menyebut sorn. Dari kata Sorn inilah kemudian orang Biak menyebut lautan Maladum dengan sebutan atau pelafalan Sorn-Dum (Sorn-dom).

Awalnya pengucapannya Soren (Sor’n) akhirnya dilafalkan menjadi Soron atau Sorong. Dalam bahasa Biak, penggantian fonem (huruf) pada sebuah kata sering terjadi. Misalnya, bahasa Biak menyebut angka satu adalah Oser. O-ser bisa disebut juga I-ser, atau E-ser. Ini berlaku juga untuk Kata Sor-e-n dan Sor-o-n. Secara Fonetik, terjadi perubahan bahasa atau bunyi dalam sebuah ujaran secara alami yang disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu penyebab perubahan bahasa disini adalah interaksi yang terjadi antara suku atau kelompok suku yang berbeda, atau dengan komunitas yang berbeda bahasa. Maka disini jelas penyebab berubahnya Soren menjadi Sorong adalah karena adanya orang-orang yang melakukan interaksi dan sulit mengucapkan kata Sorn (Soron) akhirnya dilafalkan menjadi sorong.

Rupanya, sebelum berubah menjadi Sorong, dulu penduduk pulau Dum menyebutnya “Soron”. Penyebutan nama “Soron” ini, dicatat pula dalam perjalanan ekspedisi untuk melakukan survey hidrologi oleh Captain J. Moresby, dia berkunjung ke pulau Dum pada periode tahun 1873-1874, dengan menggunakan kapal H.MS. Basilisk.

Kutipan teks berbahasa Inggris tahun 1875, berikut menyebutkan para penduduk asli di pulau itu tentang nama “Soron”:

“Galewo Strait and Salwatti Islands. On the 10th November came to an anchor off a small island, which the natives called “Soron.” There is a large settlement of Malayas and Papuans, who fly the Dutch colours, and are the immediate subjects of the Rajah of Salwatti. On the 12th November sent the two large boats, with eighteen men all told, for a three weeks’ cruize, fitted outwith all necessaries. My chiefmate, Mr. H . Schluetor, a native of Hamburg, had the command. I could not send more men, as eleven were laid up with the climatic fever”. Tulis Edwin Redlich.

Pulau Dum dan Cikal Bakal Berdirinya Kota Sorong

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Awalnya, Sorong merupakan sebuah kampung yang letaknya di pulau Dum, beberapa pustaka menyebut bahwa nama asli pulau Dum adalah Kasyu (Kashu) merupakan bahasa asli suku Malamoi (suku Moi). Penulisan nama Dum dalam berbagai literatur abad ke-19, berbeda-beda, “Doem, Dom, Doom”. Orang Biak-Numfor, sudah lama menempati pulau Dum, sebelum masuknya pemerintahan Belanda disana. Mereka ini telah melakukan kontak dengan penduduk Maladum atau suku Moi. Dalam catatan tertulis tahun 1800-an, sudah ada marga-marga orang Biak-Numfor yang menempati pulau itu misalnya disebutkan keret Warfandu atau Arfan, keret Mansumber, dan keret Warwe. (De Clercq, 1888:1391) Keret-keret ini semua berasal dari suku Biak-Numfor. Identitas mereka bisa terbaca dari nama-nama marga. Warfandu atau Arfan yang berasal dari Supiori?, Mansumber yang berasal dari kampung Namber pulau Numfor, dan keret Warwe yang berasal dari kampung Saba, Biak Timur.

Sorong Dom tahun 1800-an

Penggunaan nama Sorong dan Dum sering kali disebut bersamaan untuk menyebut pulau Dum. Maka sering kita mendengar ada istilah Sorn Dum (Soron Dom). Dua istilah ini bersamaan digunakan untuk menyebut pulau Dum. Dalam lukisan Lukisan De Clerq, Tahun 1887. Terlihat disitu bahwa nama Sorong sudah di gunakan di masa itu. Nama tersebut sebenarnya memberikan penunjuk tentang suku asli dan migran (Moi dan Biak) yang menempati pulau tersebut sejak masa lampau. Hubungan etnis suku Biak dan etnis suku Moi sudah lama terjalin, hubungan kedua orang Papua ini mengingatkan kita bahwa di masa lalu, hubungan kekerabatan sudah terbentuk jauh sebelum bangsa asing menginjakkan kakinya di bumi Papua. Hubungan sosial, secara alami tercipta melalui berbagai hal. Maka, kalau ditinjau dari sejarah histori, bahasa dan nama-nama tempat di wilayah sekitar, jelas bahwa asal muasal nama Sorong berasal dari bahasa Biak. Dan asal muasal nama Dum (Dom, Doem, Doom) jelas berasal dari penduduk Malamoi. (*)

)* Artikel ini disadur dan diterbitkan ulang dari pustakapapua.com setelah mendapat izin untuk menerbitkan ulang dari pengelola situs web Pustaka Papua. Anda bisa membaca artikel-artikel menarik tentang Papua di PustakaPapua.com

SUMBERPustakapapua.com
Artikel sebelumnyaPilih Bupati Yalimo, Hari Ini Warga Lima Distrik Datangi 327 TPS
Artikel berikutnyaDiduga Sarat Nepotisme, Honorer Palang Kantor Distrik Tobouw