Kisah Tempo Dulu Para Pemuda Tobati di Ternate

0
2309

Kisah Anak Papua

Tapak kaki masa lalu putra putri Papua di tanah orang telah lama direkam dalam catatan sejarah dan yang paling menarik juga adalah banyak dokumen foto yang sampai saat ini bisa kita temukan di berbagai media.

Jejak mereka masih tersimpan rapih dalam dokumen foto yang hampir berusia 100 tahun lebih itu. Mereka berpose dengan posisi berdiri maupun duduk sambil memandang dengan tatapan tajam menuju lensa kamera jadul yang menatap mereka, sang fotografer pun membidik dengan sempurna. Hasil yang memuaskan! Ya, mereka adalah para pemuda Papua yang berasal dari suku Tobati. Kini, foto mereka menjadi kisah dan kenangan manis meskipun mereka telah tiada.

Manusia Papua selalu menjadi catatan historis yang ditulis oleh sejarawan Eropa. Potret foto anak muda Papua tempo dulu diatas sering kita temui di jejaring sosial yang kebanyakan tersebar di dunia maya.

Pertama kali melihat foto ini, saya terpukau dan rasa penasaran saya pun mulai bergejolak, mulai timbul banyak pertanyaan dalam benak saya. Darimanakah asal anak-anak Papua ini? Siapakah nama mereka? Mereka foto dimana? Dan tahun berapakah mereka di foto?

ads
Buku Karya Mr. H. A. Lorentz

Pertanyaan-pertanyaan di atas terus menghantui saya. Saya pun memulai sedikit riset untuk mengetahui jejak anak-anak Papua di Ternate.  Pertama saya mencari dokumen foto dan catatan terkait di beberapa situs internet.

Alhasil, saya menemukan sebuah catatan epik dalam catatan Mr. H. A. Lorentz (1853-1928), dalam bukunya berjudul  Eenige Maanden Onder de Papoea’s (Beberapa Bulan Diantara Orang Papua).

Mr. Lorentz merupakan fisikawan Belanda ternama yang mendapat Hadiah Nobel Fisika tahun 1902. Ilmuan Belanda ini, memiliki andil dalam ilmu pengetahuan dunia, misalnya penemuannya tentang efek Zeeman, transformasi Lorentz, gaya Lorentz yang berkaitan dengan gaya listrik dan medan elektromagnetik. Meskipun ia adalah orang terkenal, ada sesuatu yang menarik tentang kehidupannya yakni ia pernah hidup bersama orang-orang Papua dan mencatat tentang orang Papua dan budaya mereka terkhusus wilayah tanah Tabi.

A. Lorentz pasti menikmati pengalaman menarik bersama anak-anak Papua, sungguh indah kisah mereka yang ditulis sendiri oleh tuan Lorentz.

Pengalaman Menarik di Tanah Papua

Di pagi hari yang cerah 13 Maret 1903, pukul 11.15 WIT. Kapal “G. SS. Zeemeeuw” melepas jangkar  di Humboltbaai. Mr. H. A. Lorentz, bersama rombongannya tiba di tanah Tabi. Mereka melakukan berbagai penelitian tentang tanah dan masyarakat Tabi. Dalam bukunya berisi banyak hal tentang masyarakat Tabi mulai dari Enggros, Tobati, Sentani dan Tanah Merah. Ia menulis tentang manusianya, arsitektur bangunan tradisional, peralatan maupun musik tradisional.

Kisah Anak-anak Papua di Ternate 

Masih di tahun 1903, Lorentz membawa anak-anak Papua berjumlah 14 orang, para pemuda Papua ini berasal dari Tobati. Setelah tiba di Ternate, anak-anak Papua ini menemukan sesuatu yang baru, lingkungan dan suasa yang baru. Lorentz menulis, “Orang Papua kami tampaknya menemukan kehidupan di Ternate sangat menyenangkan, mereka tidak kekurangan apa-apa, dan dari saat kami pindah ke rumah kami sampai kami meninggalkannya, orang Papua selalu sibuk memasak makan malam.”

Tuan Beaufort dan Lorentz sering membawa orang-orang Tobati untuk melihat keindahan kota Ternate. Nah, ada satu cerita lucu yang diceritakan Lorentz, suatu ketika anak-anak Papua pertama kali melihat kereta kuda, ini membuat mereka sangat heran, kemudian tuan Lorentz bertanya ini binatang apa? Ada yang mengatakan itu anjing, ada yang bilang itu babi, tapi mereka terus memikirkan binatang itu, akhirnya semua menyimpulkan bahwa itu sapi. Tuan Lorentz kemudian bertanya lagi kepada mereka tentang kuku Kuda, merekapun menjawab dengan yakin dalam bahasa Melayu Papua bahwa itu “sapi sama sepatu” maksudnya sapi bersepatu.

Hal menarik dari orang-orang Tabi khususnya masyarakat Tobati, mereka telah dikenal para penjelajah Eropa. Ada kisah lain yang ditulis Dr. Wichmann, dimana ada pemuda Tobati yang memilih tinggal di pulau Pegun, Mapia selama bertahun-tahun sebagai pekerja kopra, yang kemungkinan berasal dari marga Merauje. Ada lagi yang bekerja sebagai pemburu burung, mengikuti berbagai ekspedisi dan melakukan berbagai hal di masa lalu. (*)

Artikel ini disadur dan diterbitkan ulang dari pustakapapua.com setelah mendapat izin untuk menerbitkan ulang dari pengelola situs web Pustaka Papua. Anda bisa membaca artikel-artikel menarik tentang Papua di PustakaPapua.com

Artikel sebelumnyaBantah Tuduhan TPNPB OPM, Keluarga: Moses Saflesa, ODGJ
Artikel berikutnyaBersepakat Damai, 3 Mahasiswa di Wamena Dibebaskan