ArtikelOpiniWamena Kami Telah Banyak Berubah (1)

Wamena Kami Telah Banyak Berubah (1)

Catatan 4 Hari di Wamena

Oleh: Benyamin Lagowan)*
)* Koordinator Forum Pemuda Anti Perang Suku dan Pro Perdamaian Wamena

Catatan ini saya buat dan bagikan untuk lukiskan kondisi kota Wamena tersayang hari ini. Tidak bermaksud untuk mengkritik atau menegur dan menyalahkan siapa-siapa. Ini hanya catatan setelah return or come back home baru-baru ini guna dorong agenda menyikapi penyerahan tanah sepihak di Welesi, Wouma dan Assolokobal untuk lokasi penempatan kantor gubernur DOB Provinsi Papua Pegunungan.

Saya akan coba bagikan biar semua pembaca bisa menilai apakah sependapat dengan yang saya nanti utarakan atau tidak. Semoga bisa sepakat, bahwa Wamena kita memang sudah cukup berubah drastis dari aspek pembangunan infrastruktur jalan, perumahan, kantor hingga jembatan, dan lain-lain.

Tetapi, apakah itu selaras dengan pembangunan sumber daya manusia, perlindungan dan proteksi, keberpihakan dan pemberdayaan masyarakatnya atau tidak? Sehingga masyarakat makin dekat pada kata sejahtera dan berdikari di atas tanah leluhurnya sebagai tujuan utama kehadiran pemerintah dan tujuan gerak pembangunanismenya.

***

Hari itu saya sudah pesan tiket di Traveloka, sebuah aplikasi yang kebetulan ada aplikasinya di telepon genggam saya. Harga tiketnya tidak terlalu mahal, kira-kira Rp623.000. Ya, itu tergolong cukup murah jika dibandingkan membeli di agen travel, karena kadang harganya bisa agak naik 10-30%. Apalagi bila membelinya sekitar satu-dua hari sebelum berangkat. Pasti mahal. Karena itu, saya pesan memang sudah agak lama yakni hari Selasa. Harganya masih relatif murah.

Waktu berangkat adalah hari Sabtu. Flight terakhir.

Seperti biasa, sehari sebelum berangkat, semua barang persiapan sudah saya siapkan. Paling penting saya siapkan pakaian dua pasang, buku, bolpoin, laptop dan tak lupa saya beli buah tangan seperti pinang, rokok dan sedikit buah-buahan. Karena di Wamena sekarang tanpa rokok, gula, kopi dan pinang itu seperti mobil tanpa bensin atau bahan bakar. Padahal, tidak ada pohon pinang dan dusun gula di sana.

Batal Berangkat

Tiba hari yang sudah ditunggu. Setelah kami bagi jalan. Beberapa anak naik ke Wamena melalui jalan darat, hari itu beberapa dari kami juga akan berangkat melalui udara, pakai pesawat. Pagi itu, karena mengingat berangkat nanti Pukul 14.20 WIT, maka saya masih santai di rumah. Baru bergerak menuju bandara dengan menggunakan sepeda motor sekitar Pukul 10.30 WIT dari rumah.

Pagi itu, saya memang agak percaya diri (PD) karena berpikir bahwa akan pasti berangkat flight terakhir yakni Pukul 14.20 WIT. Di rumah, sebelum berpisah, kami sudah berpamitan dan bersalam-salaman. Psikologisnya seolah hari itu juga, sorenya, saya bakal sudah tiba di kota dingin tercinta, Wamena, setelah berpisah cukup lama. Bagi saya ini akan menjadi “pulkam” yang keempat sejak pindah ke Jayapura pada 13 tahun silam tepatnya tahun 2010 karena dan untuk menuntut ilmu.

Baca Juga:  Saatnya OAP Keluar Dari Perbudakan Dosa dan Tirani Penjajahan Menuju Tanah Suci Papua

Saya star sepeda motor. Jemput seorang adik laki-laki, mahasiswa yang tidak asing di kota Jayapura. Umumnya di kalangan anak-anak muda Wamena, Papua bahkan Indonesia. Saya meminta dia untuk mengantar saya ke bandara. Kebetulan hari itu dia lagi free.

Kami dua tiba di kota Sentani sekitar Pukul 11.30 WIT. Tetapi, kami langsung tancap gas ke pasar Pharaa Sentani atau kerap disebut pasar baru untuk membeli beberapa tambahan buah tangan lagi.

Sekitar Pukul 13.00 lewat sepertiga, kami berdua tiba di airport Sentani atau bandar udara internasional Dortheys Hiyo Eluay. Nama yang belakang, entah karena apa, tidak dipakai lagi meski DPR Papua sudah ketok palu perubahan nama.

Saat itu saya ada rasa seperti ada yang jadi mengganjal. Begitu tiba di pintu masuk, dua orang petugas Papua yang jaga bertanya, “Mana tiketnya? Mau kemana, om? Oh, pesawat ini sudah terbang sejak jam 10.”

Dengar itu perasaan saya jadi sial. Sungguh lemas. Lalu, beliau bilang, “Coba lapor saja di bagian Trigana.” Sambil bilang baik dan mengangguk-angguk, saya masuk menuju kantor Trigana Air.

Sesampainya di dalam, saya bertanya mengenai nasib tiket saya yang kata dua penjaga di luar tadi sudah ‘berangkat lebih awal hari ini. Menurut keterangan dan pertanyaan seorang petugas dari tiga petugas yang sedang bekerja serius itu, “Sudah dapat SMS atau WhatsApp kah?” Saya bertanya, “Soal apa?”. Dia bilang soal penundaan itu sudah diinformasikan lewat SMS dan WhatsApp. Saya kaget dan kembali bergegas mengambil Handphone, lalu buka pesan SMS maupun WA.

Ternyata, pesannya memang sudah masuk sejak semalam. Tetapi tidak sempat saya lihat dan baca karena handphone saya kadang heng. Juga kerap bila ada WA dari nomor baru, atau ada pengirim misalnya Telkomsel atau Traveloka maupun maskapai penerbangan, sudah jadi anggapan umum bahwa ini pasti berkaitan dengan promosi-promosi dan info-info Telkomsel yang kadang tidak berguna. Sehingga pesan itu tidak sempat saya buka dan baca. Karena saya merasa itu bukan kesalahan saya dan merasa aneh dengan alasan mereka terkait pemajuan waktu keberangkatan yang sebelumnya jarang terjadi, maka saya tetap minta solusi mengenai tiket saya. Alasannya ini bukan kelalaian penumpang, melainkan murni kebijakan dari internal pihak maskapai Trigana Air.

Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Peran Majelis Rakyat Papua

Saat menunggu jawaban maskapai, saya menjumpai beberapa orang calon penumpang juga datang telat dan mulai mempertanyakan nasib tiket mereka sembari kaget dan kecewa. Mereka rupanya juga calon penumpang flight ketiga yang batal. Kami gabung jurus dan mulai desak maskapai. Tak lama kemudian pihak maskapai mengarahkan kami agar menghadap petugas di kantor Trigana Air di pertigaan lampu merah, depan makam Theys Hiyo Eluay.

Saya bersama adik saya menuju kantor itu. Setibanya di sana, kami menyampaikan kondisi kami sebenarnya, sehingga kami tetap mengharapkan pihak maskapai mencarikan solusi bjiaksana. Akhirnya diputuskan bahwa kami akan diberikan tiket pesawat untuk keesokan harinya menggunakan flight kedua.

Hari itu batal berangkat, karena jadwal penerbangan dimajukan ke jam 10.00 WIT. Memang peristiwa yang aneh. Karena sebelumnya belum pernah terjadi seperti itu. Alasan pihak maskapai yaitu karena jumlah penumpang dari Wamena tujuan ke Jayapura menggunakan flight kedua sangat sedikit. Sehingga semua penumpang dari Jayapura tujuan Wamena yang flight ketiga dimajukan jam terbangnya. Informasi pemajuannya pun dilakukan tiba-tiba pada malam hari. Sehingga pihak maskapai tidak dapat menyalahkan penumpang.

Akhirnya, hari itu saya batal berangkat. Kami pun kembali ke rumah. Kami mencatat bahwa tidak boleh besok hari Minggu telat lagi. Karena agenda yang sudah direncanakan dan target kerja kami menjadi molor hanya karena kendala yang disebabkan oleh pihak maskapai Trigana Air.

Tiba di Kota Leluhur yang ‘Eweunik’

Keesokan harinya tepat jam 10.40 WIT, saya tiba di kota Wamena. Kota tanah tumpah darah dan tanah kelahiranku. Tanah yang subur nan kaya, indah permai sejuk dan menawan yang diberikan Tuhan Allah kepada moyang leluhur suku bangsa kami puluhan-ratusan dan jutaan tahun silam. Kota dimana akan menjadi warisan pusaka dan warisan kami kepada anak-anak, generasi kami di masa depan bila masih mungkin. Meski tantangan untuk kehilangan tanah ini makin besar dan silih datang berganti dari waktu ke waktu.

Saya tiba di sana dengan anak keponakan Fabi Molama bersama kawannya dan seorang anak, Carlos Ikinia. Saat landing di kota dingin yang bernama Silver City pada masa kejayaan pemerintah Kerajaan Belanda itu, sejuknya kota tercinta mulai terasa menembus padatnya lapisan dinding pesawat Boeing Trigana yang kokoh itu.

Hembusan angin yang kencang dari pintu angin Kurima makin terasa menusuk kulit dan menembus tulang putih kami. Makin terasa ketika kami mulai keluar dari dalam pesawat. Hempasan angin kencang bagaikan dikipas oleh sejenis kipas angin besar pun mulai terasa. Inilah kotaku. Kota kami. Kota kecil nan indah menawan meski hanya berbentuk cawan/kuali. Kota yang diapit oleh pegunungan cadas dan aliran kali Ueima dan kali Balim yang panjang dan berliku-liku bagaikan ular Palu (sejenis Anakonda).

Baca Juga:  Papua Sedang Diproses Jadi Hamba-Nya Untuk Siapkan Jalan Tuhan

Tak terasa, mataku telah berkaca-kaca, berlinang air mata memandangi gunung-gunung indah. Meski para pemilik, penjaganya, konon kata orang tua waktu itu lewat telepon ketika masih duduk di bangku sekolah, telah pergi, tetapi masih tetap berdiri kokoh. Seolah menunjukkan mereka tetap masih ada.

Tampak ada yang berwarna hijau dan sudah menjadi kuning coklat. Tanda adanya aktivitas perkebunan manusia di atas gunung. Gunung yang selalu menjadi simbol cinta dan eksistensi kami adalah bukit gunung Pesa, gunung Nagop, gunung Pasir Putih, gunung Susu hingga gunung Silum dan lintasan gunung yang mengapit Pugima. Lembah kecil milik aliansi Inaerek yang gagah perkara, tete-tete kami.

Ketika memandang gunung-gunung itu bersama gunung Trikora (Hiriakup) yang berdiri kokoh di hadapan kami, selalu memicu ekspresi kagum bersama rindu untuk kembali ke masa kecil dulu. Masa dimana para tetua kami yang telah pergi sewaktu masih ada. Kami masih berkebun, bermain dan bekerja mulai dari terbitnya matahari hingga terbenamnya. Waktu dimana kami sehari-hari menghabiskan masa kecil dari satu kebun ke kebun yang lain. Dari satu kampung ke kampung yang lain. Menjalani hidup kecil yang penuh keceriaan, kegembiraan, dan suka cita.

Sesaat setelah menunggu barang bagasi kami, saya keluar dari pintu kedatangan. Di luar ternyata telah ada beberapa adik-adik Wouma yang pernah saya tinggalkan mereka masih berumuran 5-6 tahun, kini telah menjadi para pria perkasa sudah datang menjemput kami. Rata-rata mereka sudah berkumis dan berotot sama seperti tetua mereka dulu. Satu persatu kami bersalaman hangat. Berpelukan bagaikan baru bertemu setelah berpisah puluhan tahun.

Jadi teringat seperti kisah legendaris ketika Kontrolir Belanda, tuan Fritz Veldkamp yang kembali ke Balim pada 1991 setelah meninggalkan Hun Kepu Cs pada 1962 ketika Indonesia menginvasi Papua hingga ke Balim.

Suasana sehening itu rasaku. Tanpa basa-basi kami pun langsung menuju ke rumah mengingat tujuan kedatangan kami yang urgen: menyikapi masalah lokasi kantor Gubernur Papua Pegunungan yang memang sedang panas hingga melahirkan pro dan kontra bahkan berpolemik tiada ujung.

(Bersambung)

Terkini

Populer Minggu Ini:

Terdakwa Kasus KDRT Divonis 6 Bulan, Jaksa Didesak Naik Banding Demi...

0
“Seharusnya majelis hakim menjatuhkan hukuman maksimal sesuai ketentuan pasal 44 pasal 1 Jo pasal 5 huruf (a) Undang-undang nomor 23. Di pasal itu menyatakan, hukuman maksimal yang bisa dijatuhkan adalah penjara lima tahun dan denda lima belas juta rupiah,” ujar Gustaf Rudolf Kawer.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.